Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Terharu Melihat Tawaf dengan Pyshical Distancing, Ada 5 Jamaah Asal Indonesia

Kamis, 30 Juli 2020 | 09.22 WIB Last Updated 2020-07-30T02:22:08Z

   
MAKKAH (DutaJatim.com) - Labbaik Allah humma labbaik. Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak. 


"Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan adalah Milik-Mu.Tiada sekutu bagi-Mu."

Suasana ibadah haji 1441 H /2020 M di tanah suci sungguh membuat umat terharu. Rindu Allah SWT, rindu Kanjeng Nabi SAW, rindu Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan ibunda Siti Hajjar AS sungguh tak  terkirakan rasanya, mengingat jutaan saudara sesama muslim di dunia tidak bisa melunaskan kerinduan itu gegara ada wabah Covid-19.  Banyak umat Islam menangis sedih lantaran gagal beribadah haji tahun ini. 



Tetapi, banyak hikmah yang bisa dipetik atas keterbatasan tersebut. Adalah kesabaran dalam keterbatasan. Ya, ketabahan. Ketaqwaan. 

Bahkan, bagi sekitar 1.000 orang jamaah yang sekarang mendapat kesempatan dari Allah SWT untuk berhaji tahun ini, mereka harus menjalankan protokol kesehatan yang sangat ketat. Pandemi corona yang masih berlangsung di Arab Saudi, diberlakukan sejumlah pembatasan, mulai dari jumlah peserta hingga hal-hal teknis dalam setiap tahapan ibadah haji.



Kalau tahun-tahun sebelumnya ibadah haji dilaksanakan oleh sekitar 2 jutaan jamaah, pada tahun ini terbatas sekitar 1.000 jamaah saja. 
 
Mengutip AP News, ratusan jamaah sebelumnya melakukan tawaf di Masjidil Haram dengan tetap menjaga jarak fisik (social distancing) satu sama lain.

Tawaf (mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali) berlawanan dengan arah jarum jam ini, terlihat sangat rapi. Para jamaah berjalan mengikuti stiker atau tanda pembatas yang telah dipasang sebelumnya di area tawaf.

Pemasangan tanda ini dilakukan untuk mempermudah para jamaah menjaga jarak fisik sesuai pedoman dalam mencegah potensi penyebaran virus corona. Mayoritas jamaah perempuan terlihat mengenakan pakaian berwarna hitam dan melakukan tawaf pada jarak yang lebih dekat dengan Kakbah.



Sedangkan jamaah laki-laki mengitari Kakbah pada lingkaran yang lebih jauh. Sebagian jamaah mengenakan payung yang juga diberikan sebagai fasilitas haji seperti kerikil hingga ihram yang digunakan. Subhanallah, tertib dan indah sekali. Semua ada hikmah.

Di Padang Arafah tak kalah indah. Ibadah yang dimulai pada Rabu (29/7/2020) atau 8 Zulhijah 1441 Hijriah, itu para jamaah haji dengan tertib berkumpul di Bukit Mina, Makkah, untuk menjalani ibadah tarwiyah yang menjadi tanda dimulainya haji.

Diberitakan Arab News, Rabu (29/7/2029), 1.000 jamaah haji tersebut akan menghabiskan waktu di Mina untuk berdoa dan beribadah lainnya hingga matahari terbit pada Kamis (30/7/2020).

Selanjutnya, para jamaah akan melakukan perjalanan ke Arafah untuk melakukan wukuf sebagai penanda puncak ibadah haji. Arab Saudi tak ingin mengambil risiko kegiatan ibadah haji yang setiap tahunnya menyedot jutaan umat Islam itu menjadi pemicu lonjakan kasus baru Covid-19.
 
8 Protokol Kesehatan

Sebagai catatan, berdasarkan data Worldometers pada Rabu (28/7/2020), jumlah kasus corona di Arab Saudi mencapai 270.831 kasus. Karena Arab Saudi menerapkan aturan ketat, mulai pembatasan jamaah dan protokol Covid-19.

Adapun 8 protokol kesehatan pelaksanaan haji 2020 itu sebagai berikut:




Pertama, jumlah jamaah yang diizinkan untuk melakukan ibadah haji dalam satu waktu hanya 1.000 orang.

Kedua, semua jamaah yang melaksanakan ibadah haji akan diperiksa sebelum memasuki berbagai situs suci. 

Ketiga, batas usia yang diizinkan melakukan ibadah haji adalah di bawah 65 tahun.

Keempat, setelah pelaksanaan ibadah haji semua jamaah akan diminta mengkarantina diri mereka. 

Kelima, semua pekerja dan relawan akan dites corona sebelum ibadah haji dimulai.

Keenam, status kesehatan semua jamaah akan dipantau setiap hari selama ibadah haji. 

Ketujuh, Pemerintah telah menyiapkan rumah sakit untuk keadaan darurat jamaah selama penyelenggaraan ibadah haji. 

Kedelapan, jamaah diminta mematuhi kondisi jaga jarak.

Selain itu, ada protokol tambahan lainnya yang wajib dijalankan, seperti menjaga jarak antar-orang di semua lokasi ibadah, serta menggunakan masker dan pelindung wajah. Jamaah haji 2020 pun dilarang memegang Kakbah.

Otoritas juga telah memasang penghalang untuk mencegah orang-orang menyentuhnya. Pembersihan atau disinfeksi area juga harus dilakukan dengan teratur dan sepanjang waktu di berbagai tempat. Air Zam-zam akan disediakan dalam botol-botol untuk didistribusikan kepada para jamaah sepanjang waktu.

Bagi mereka yang dicurigai terinfeksi Covid-19 diperbolehkan menjalankan ibadah setelah menjalani evaluasi dan ditangani dokter terlebih dahulu. Mereka akan ditempatkan di tempat khusus yang telah disiapkan. 


Lima Jamaah WNI


Konsul Haji Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Endang Jumali, menyebut jumlah total jamaah haji tahun ini adalah 1.000 orang. Sesuai kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, 70 persen jamaah merupakan ekspatriat yang tinggal di sana dan sisanya warga Arab Saudi.

"Lima warga negara Indonesia mendapatkan izin untuk melaksanakan haji tahun ini," ujar Endang Jumali seperti dikutip dari Republika.co.id, Kamis (30/7/2020).

Lima jamaah yang dilaporkan merupakan ekspatriat dari Indonesia berasal dari Kota Yanbu, Madinah, dan Riyadh, masing-masing satu jamaah. Sementara dari Jeddah terdapat dua orang. Endang menyebut, profesi di antara ekspatriat ini adalah guru Sekolah Indonesia di Riyadh (SIR), perawat, dan dokter.



Berdasarkan informasi yang didapat dari Kementerian Haji dan Kementerian Informasi Arab Saudi, jamaah dari 14 provinsi  masuk Makkah dan melakukan karantina lanjutan di hotel tempat akomodasi mereka.

Pada 25 Juli, 580 jamaah sudah tiba di Jeddah dan melanjutkan perjalanan ke Makkah. Pembagiannya, Provinsi Madinah 230 jamaah, Riyadh 171 jamaah, Ash Syarqiyah 53 orang, 'Asir, Bahah dan Najran masing-masing 28 jamaah.


Provinsi Jizan, Al hudud ash Shamaliyah, serta Tabuk masing-masing 14 jamaah. Sisanya, merupakan jamaah dari wilayah lain yang tidak melewati Jeddah, seperti dari Jeddah, Taif, dan Kota Makkah itu sendiri.

"Kementerian Saudi menyiapkan langsung transportasi, makan, dan akomodasi jamaah. Untuk bus, diisi 12 hingga 15 jamaah untuk menjaga jarak antarjamaah," kata Endang.

Ia juga menyebut, akomodasi jamaah selama di Makkah berada di Aziziyah Janubiyah. Satu kamar diisi hanya satu jamaah. Di dalamnya, Kementerian Haji Saudi sudah mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan jamaah secara lengkap, termasuk payung, masker, hingga alat spray wajah.

Endang menyebut segala informasi terkait haji disediakan oleh Hajj Government Information Official atau media informasi resmi Kementerian Informasi Arab Saudi. Hal ini karena KJRI tidak dilibatkan secara langsung selama proses persiapan dan pelaksanaan haji.

"Tetapi, akses informasi dibuka oleh Kementerian Haji dan Kementerian Informasi Saudi," kata dia. (kcm/hud)
×
Berita Terbaru Update