-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

48 Video Lomba Jejak Wali Nusantara Lolos ke Seleksi Tingkat Nasional

Minggu, 30 Agustus 2020 | 22.17 WIB Last Updated 2020-08-30T15:17:24Z

 



JAKARTA (DutaJatim.com) - Lomba video Jejak Wali Nusantara mulai masuk babak  penjurian awal. Sebanyak 48 video terpilih masuk tahap penilaian nasional Lomba Jejak Wali di Nusantara yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Video tersebut sudah terpilih sebagai yang terbaik di tingkat provinsi.

“Lomba video Jejak Wali di Nusantara ini sudah dipertandingkan di tingkat provinsi sejak Juni hingga Agustus 2020,” kata Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam, Sayid Alwi Fahmi, di Jakarta, Minggu (30/8/2020).

Di tingkat nasional, kata Fahmi, video tersebut akan dinilai dewan juri yang terdiri dari Komisi Penyiaran Indonesia, Lembaga Sensor Film, Seniman, Budayawan, dan unsur Kementerian Agama.

Setiap video mengangkat tema yang berbeda-beda. Dari Jawa Tengah misalnya, tiga video yang sampai tingkat nasional bertemakan:  Luru Kasejaten (Raden Munding Wangi Mencari Hakekat Hidup), Jejak Sunan Kalijogo di Bumi Sambhara Bhudara, dan Wali Sigedong. Sedangkan dari provinsi DI Yogyakarta, mengirimkan video dengan judul Slametan, The Journey, dan Istana Kematian. 

Fahmi mengatakan, peserta tingkat nasional masih dimungkinkan bertambah. Sebab, panitia masih menerima laporan dari tiap provinsi hingga akhir Agustus 2020. 

"Penilaian tingkat nasional akan dilaksanakan pertengahan September. Ada Piala Menteri Agama dan uang pembinaan dengan total Rp 70 juta bagi enam pemenang," jelasnya.

Fahmi menerangkan, tahun ini adalah kali ketiga Kemenag menggelar lomba video yang mengangkat tema kebudayaan Islam di Nusantara. Sebelumnya, perhelatan yang ditujukan pada kelompok milenial itu digelar dengan tema “Situs Sejarah Islam di Nusantara” (2018), dan “Tradisi dan Budaya Islam Indonesia” (2019). 

“Tahun ini kami mengangkat tema ‘Jejak Wali di Nusantara,’ untuk mengokohkan kesadaran generasi muda akan nilai-nilai budaya Islam yang dibawa para pendakwah di masa lalu, yang dalam terminologi masyarakat dipanggil dengan sebutan wali,” ungkapnya. 

Jejak dakwah para wali itu, ditambahkan Fahmi, masih terlihat hingga saat ini. “Karena itu, lomba ini secara umum ditujukan untuk memberi perlindungan, pembinaan, pengembangan, dan pelestarian khazanah budaya Islam yang dibawa para ulama kita di masa lalu. Jangan sampai kesadaran kita akan sejarah dan kebudayaan Islam ini terkikis,” katanya. (hud)
×
Berita Terbaru Update