-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ayunan Politik dan Anti-Corona Ala Fahri Hamzah dan Fadli Zon

Friday, August 14, 2020 | 7:14 AM WIB Last Updated 2020-08-14T00:14:13Z

 


SURABAYA (DutaJatim.com) - Dua politikus yang baru mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Nararya dari  Presiden Joko Widodo tampak bergembira. Keduanya adalah politikus Partai Gelora Fahri Hamzah dan Fadli Zon (Wakil Ketua DPR 2014-2019) yang juga politikus Partai Gerindra.


Seperti dilihat pada akun Twitter #2020ArahBaru @Fahrihamzah, Jumat 14 Agustus 2020 pagi ini, Fahri memposting video singkat yang sangat menarik. Dua sahabat itu terlihat memberi contoh hidup sehat untuk melawan virus Corona. Keduanya bergembira tertawa sambil bermain ayunan. 


Bergembira mengenang masa lalu bermain seperti semasa kecil dulu. Bukankah anak-anak yang sehat cerah ceria sangat jarang yang terkena Corona? Jadi tirulah Fahri dan Fadli yang selalu bergembira sehat dengan cara mudah murah meriah. Bermain sehat seperti anak-anak. Berayun-ayun.


Bagaimana dengan politik. Sama dengan cara sehat ala Fahri dan Fadli tadi. Berpolitik sejatinya juga seni berayun-ayun. Sorong ke muka dan sorong ke belakang, kadang kritis keras tegas kepada lawan. Kadang bijak dan merangkul lawan. Kawan dan lawan dalam politik itu bedanya sangat tipis. Seperti ayunan atau dalam bahasa Jawa bandulan yang diayunkan Fahri dan Fadli itu tidak jelas mana depan dan belakangnya saat  dimainkan. 


Jadi, jangan terlalu kencang berpolitik, meski kadang harus sangat serius pula memainkannya mengingat nasib rakyat jadi taruhannya. Artinya, jangan terlalu kencang mengayunkan bandulan, Sorong ke muka dan ke belakangnya harus pas dan seimbang. Agama Islam mengajarkan keseimbangan sebab dengannya hidup jadi indah. Maka ayunkanlah hidupmu dengan seimbang dan nikmati indahnya hidup. Termasuk indahnya dalam politik.


Sindir yang Anti-Kritik


Usai mendapat anugerah tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Joko Widodo, Fahri mengatakan penghargaan itu merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.


"Jadi ini juga pelajaran bagi semua orang di dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Kalau presiden saja menghormati kritik harusnya yang lain juga menghormati kritik," ujar Fahri usai mengikuti upacara penganugerahan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Agustus 2020.


Ia mengatakan satu sikap dengan Jokowi bahwa perbedaan pendapat harus tetap dihormati dan dijaga. Berbeda, kata Fahri, bukan berarti bermusuhan. Ia menyebut hal ini harus ditekankan karena masih sering muncul gerakan gerakan yang ingin menunjukan tidak persatuan.


"Kesan kesan itulah yang harusnya ditonjolkan presiden sebagai kepala negara dalam situasi Covid, di mana kita harus bersatu menghadapi kemungkinan kemungkinan yang ada," ujar Fahri.


Fahri merupakan eks politkus Partai Keadilan Sejahtera dan mantan Wakil Ketua DPR. Belakangan ia pindah ke Partai Gelora, sebuah partai yang ia bentuk bersama eks Ketua Umum PKS Anis Matta. Ia mengatakan meski mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya, ia akan tetap kritis.


"(Penghargaan) Ini bukan berarti saya berhenti mengkritik. Saya akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik," kata Fahri.


Nama Fahri ada di antara 7 nama penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya 2020. Selain dia, ada lima penerima lain juga merupakan politikus. Mereka adalah, Fadli Zon (Wakil Ketua DPR 2014-2019), Mahyudin (Wakil Ketua MPR RI 2014-2019), Agus Hermanto (Wakil Ketua DPR RI 2014-2019), Farouk Muhammad Saleh (Wakil Ketua DPD RI 2014-2019), dan Rahmat Shah (Anggota DPD RI 2009-2014 dan Anggota MPR RI 1999-2004).


Selain itu, satu penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya lain adalah Komjen (Purn) Suhardi Alius, (Kepala BNPT 2016-2020). (gas/TMP)


×
Berita Terbaru Update