-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mask Code

Rabu, 05 Agustus 2020 | 00.49 WIB Last Updated 2020-08-04T17:49:46Z
Masker berbagai model dijual secara online.


Oleh Ony Yoelyana


Masker kain menjadi “uniform” baru.  

Sejak pandemic  covid 19 menyebar ke mana mana, masker medis tiba-tiba menghilang, dan kalau pun ada, harganya melambung ke langit. Mahal bingits.

Muncul seruan pemakaian masker kain untuk keseharian. Masker medis hanya untuk tim medis.  Masker kain dengan dua/tiga lapis.  Di dalamnya masih bisa diisi tisu, atau tisu basah yang  dikeringkan. Pertimbangannya, demi perlindungan.

Aman kah ? Penelitian di Cambridge pada 2013 yang disebut laman health menemukan bahan kain masker non-medis cukup efektif menahan penularan virus.  SARS-CoV-2 penyebab COVID-19  berukuran 0,12 hingga 0,18 mikron.

Dalam penelitian terhadap partikel 0,02 mikron, masker bedah efektif melindungi penggunanya hingga 97 persen. Sementara, bahan kain sejenis lap yang digunakan sebagai masker, efektif hingga 83 persen apabila digunakan satu lapis. Apabila digunakan dua lapis, maka efektivitasnya hampir sama dengan masker bedah yaitu 93 persen.

Masker dari bahan kain katun jika digunakan satu lapis efektivitasnya hingga 69 persen. Jika dibuat jadi dua lapis bisa naik hingga 71 persen. Masker kain mudah didapat dan gampang dicuci
.
Dokter M. Hud Suhargono, Humas Keluarga Penyangga Indonesia mengatakan masker kain merupakan alternatif penggunaan masker, ketimbang tidak menggunakannya sama sekali ketika keluar rumah atau saat berinteraksi dengan orang lain.

Para pemilik garmen ramai-ramai memproduksi.  Tagar di medsos, 100 juta masker challenge menjadi bagian gerakan dan donasi untuk membantu siapapun yang terdampak. Para penjahit pun kembali aktif. Bahu membahu membuat APD (alat pelindung diri) bernama masker kain.

Pemilik brand premium dunia selain berdonasi masker, juga merancang masker masker keren. Sebut saja  LV, Balenciaga, Prada, Gucci, dlll. Para desainer nusantara pun memberikan sentuhan aksi pada masker masker buatannya. Roda garmen kembali bergerak.
 
Masker masker keren berseliweran di marketplace, instagram dan lainnya. Mulai dari bahan katun polos, kaus, scuba, batik, tenun, lurik, brokat, sulam, rajut, bordir, lukis. Dari yang sablon, cetak, cap, bahkan yang handmade. 

Aku pun termotivasi. Setelah aktif ikut bergerak dan berdonasi, aku pun pingin pakai yang apik apik itu. Selain pertimbangan penting fungsi perlindungannya, juga terlihat aksi dilihat. 

Asyik juga berburu masker cantik yang bisa dipake kembaran bersama keluarga, sahabat dàn lainnya. Jadi hiburan baru lo, memilih milih masker kain yang unik dan apik. 

Karena tidak mungkin bepergian, kongko seperti sebelum pandemic, maka untuk “hiburan” sejumlah teman bisa saling berjanjian foto bermasker “kembaran” atau yang senada. Tentu saja harus matching sama bajunya. Jadi dress code nya sekarang plus, pakai masker. 

“Walah... lagi pandemic gini kok mikirin matching.....,” Itu komen lebay beberapa  kawan. Tapi aku lanjut terus. Toh ini untuk senang senang saja, Lebihan kain bisa dimanfaatkan, baju bagus yang sudah nggak muat lagi bisa diutak atik, dasi tak terpakai bisa didedel dan dijahitkan jadi masker yang keren pula. 

Beberapa sahabat malah termotivasi menjahit kembali. Kemampuannya menjahit seolah bangkit lagi. Walhasil, ia berburu kain dari teman-temannya untuk dijahit jadi masker. Kawan lainnya malah semangat mencari kain yang tersembunyi di rumah. Dia jahitkan dan kemudian dibagi-bagikan untuk yang lain. 

Nah positif kan, berbagi sekaligus memotivasi untuk bermasker. 

Ingat selalu pesan dari Gugus Tugas Covid 19, “Wabah belum usai, tapi hidup harus jalan terus. Kuatkan kebiasaan baru, jaga jarak lebih 1 meter, pakai masker, dan sering cuci tangan pakai sabun. (*)


×
Berita Terbaru Update