-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sungguh Mengharukan, Sang Kiai Meninggal 1 Jam Usai Menuntun Istri Bersyahadat

Tuesday, August 18, 2020 | 8:55 PM WIB Last Updated 2020-08-18T13:55:15Z


GOWA (DutaJatim.com) - Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar wafatnya kiai Nahdlatul Ulama (NU) dalam waktu tidak lama bersama istrinya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menjadi pembahasan di media sosial. Sungguh peristiwa itu sangat mengharukan. 


KH Muhammad Idrus Makkawaru (76) wafat hanya satu jam setelah sempat menuntun istrinya, Siti Saniah (64), mengucapkan kalimat syahadat ketika sang istri hendak dipanggil Sang Khaliq. Tak lama kemudian Kiai Idrus pun ikut menghadap Illahi Rabbi.


Anak tertua almarhum, Ahmad Mujahid (51), membenarkan peristiwa itu saat ditemui di rumah duka di wilayah Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Dia menyebut ibunya meninggal setelah Maghrib sekitar pukul 18.30 Wita, sementara ayahnya menyusul satu jam kemudian atau selepas waktu Isya, Minggu (16/8/2020) lalu.


"Ibu saya meninggal habis Maghrib dituntun syahadat sama Bapak. Ndak lama setelah itu, habis Isya, Bapak juga ikut meninggal. Jadi hanya beda sekitar 1 jam," kata Ahmad seperti dikutip detikcom, Selasa (18/8/2020).


Dia mengatakan ayah dan ibunya selama ini memang sama-sama menderita penyakit jantung. Saat kejadian, tiba-tiba almarhumah yang duluan mengalami gejala sesak napas.


"Di situlah kemudian dipompa jantungnya dan seterusnya. Lalu akhirnya seperti itu (sakratulmaut), orang Makassar bilang diantar (dituntun), dibimbinglah syahadat oleh bapak saya," katanya.


Menurut Ahmad, saat meninggal, ibunya awalnya hanya disemayamkan di sebuah kamar atas permintaan ayahnya. Akan tetapi, karena banyak pelayat, ayahnya setuju untuk dipindahkan ke ruang tamu.


"Setelah (istrinya) diangkat air matanya jatuh, kira-kira 15 menit kemudian dia mulai sesak napas juga (hingga meninggal)," kata Ahmad.


Ahmad mengatakan ayahnya saat itu sempat memeriksa keadaannya sendiri dengan cara mengecek tanda-tanda di bagian tubuhnya. Saat itu almarhum fokus berzikir.


"Ketika dia menghadapi sakratulmaut, tasbih dia itu tak pernah berhenti, dia punya zikir itu ndak pernah berakhir," katanya.


"Yang menarik juga saat saya bersama Bapak itu, biasanya kan orang gelisah, itu saya tenang, jawabnya mungkin karena orang tua pengamalan agamanya itu jauh dibanding diri saya sendiri," kata Ahmad.


Ahmad mengatakan, ayahnya itu merupakan anggota Nahdlatul Ulama (NU) sejak muda. Ayahnya bahkan pernah menjabat Ketua Tanfidziyah NU Kabupaten Bantaeng. (det/wis)

×
Berita Terbaru Update