-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Wong Solo Bikin Gerakan Kotak Kosong untuk Kalahkan Gibran, Siapa Gabung?

Jumat, 07 Agustus 2020 | 08.49 WIB Last Updated 2020-08-07T01:49:36Z

Gerindra pun ikut Gibran. Siapa ikut kotak kosong?


SOLO (DutaJatim.com) - Saat elite politik tidak bisa diharapkan untuk memelihara iklim demokrasi yang sehat, rakyat akan turun tangan sendiri. Rakyat akan mengawal agar demokrasi tetap tegak di negeri ini. Salah satu iklim tidak sehat dalam demokrasi adalah ketika rakyat pemilihan umum hanya disodori satu pasangan calon saja. 


Calon tunggal dalam pilkada sangat buruk dalam sebuah pesta demokrasi. Karena itu rakyat pun bergerak untuk memunculkan calon tandingan yang kemudian diberi nama bumbung kosong---meminjam istilah dalam pemilihan kepala desa. Untuk Pemilukada dinamai kotak kosong.

Hal itu yang sekarang terjadi di Solo. Pasalnya, sangat mungkin pilkada 23 Desember 2020 mendatang hanya diikuti satu pasangan calon saja. Yakni pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung PDIP. Meski Gibran yang merupakan putra Presiden Jokowi peluang menangnya sangat besar, tapi bumbung kosong kadang bisa membalikkan kondisi itu. Gibran-Teguh bisa jadi kalah dalam pertarungan politik di Solo.

Gibran Rakabuming Raka sendiri mengaku tak mempermasalahkan munculnya gerakan bumbung kosong.

Menurut Gibran, tak ada masalah apakah ada atau tidak ada lawan dirinya di Pilkada Solo. Sebab itu merupakan ranah KPU.

"Yang menentukan KPU. Tidak masalah (ada atau tidak ada lawan)," kata Gibran di sela acara Musyawarah Ranting se-Kecamatan Pasar Kliwon, di Ndalem Mloyokusuman, Baluwarti, Solo, Kamis (6/8/2020).

Senada disampaikan Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo. Rudy tak mempermasalahkan gerakan bumbung kosong.

Rudy mengatakan kadernya sudah memanaskan mesin untuk memenangkan Gibran-Teguh. Ada ataupun tidak ada lawan bukan masalah baginya.

"Ada lawan kita bekerja, tidak ada lawan kita juga bekerja, itu karena perintah partai, bukan perintah saya," kata Rudy di lokasi yang sama, seperti dikutip dari detikcom.

Menurutnya, gerakan kotak kosong tersebut juga tidak melanggar aturan. Hal tersebut sebagai bentuk jalannya sebuah demokrasi.

"Nggak masalah gerakan kotak kosong, PDIP tetap jalan. Saya tanggung jawab di PDIP, silakan saja kotak kosong, karena diatur boleh kotak kosong ya nggak masalah," katanya.

Munculnya nama Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung PDIP sangat mungkin didukung hampir seluruh partai politik di Pilkada Solo. Ada satu pasang calon perseorangan, namun masih harus melewati proses persyaratan KPU.

Karena itu Pilkada Solo 2020 berpotensi hanya memunculkan calon tunggal, yakni pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung PDIP. Sejumlah aktivis kota pun muncul. Mereka siap bergerak untuk mengampanyekan kotak atau bumbung kosong.

Dukungan untuk kotak kosong salah satunya datang dari aktivis budaya Kota Solo, Zen Zulkarnaen. Menurutnya, kemunculan sosok calon tunggal adalah bukti sistem demokrasi yang tidak berfungsi.

"Saya pikir, kalau tidak ada penyeimbang, itu tidak sehat untuk demokrasi. Saya mendorong kotak kosong dalam konteks seperti itu. Jadi ada pihak yang mengkritisi dalam konteks demokrasi," kata Zenzul, sapaannya.

Menurutnya, kondisi perpolitikan di Solo hingga hari ini tampak tidak sehat. Sebab, hampir seluruh partai politik mendukung satu calon. Belum lagi adanya sukarelawan hingga tim yang aktif di media sosial.

"Ini sebagai harapan akan adanya aspirasi masyarakat. Kalau saat ini kan sangat oligarkis. Jadi kotak kosong sebagai koreksi. Kalau suara kotak kosong besar, parpol dan elite wajib mengoreksi," kata dia.

Namun dia menegaskan, yang dia lakukan bukan sebagai kampanye golput. Jika betul Gibran melawan kotak kosong, justru dia berharap masyarakat berbondong-bondong ke TPS mencoblos kotak kosong.


"Kalau golput tidak begitu memberi koreksi. Hasilnya tetap jadi. Kalau kotak kosong kan ada perlawanan. Kalau ternyata menang, pilkada harus tunda, batal, harus ada koreksi pada pilkada selanjutnya," katanya.

Pegiat kota lainnya, Andi Setiawan, memiliki pandangan serupa. Bahkan dia menilai kondisi saat ini sudah menunjukkan sistem oligarki dan politik dinasti.

Dosen salah satu perguruan tinggi di Solo itu mengatakan tidak mempermasalahkan sosok Gibran. Namun dia ingin mengkritik sistem demokrasi yang tidak berfungsi baik di Solo.

"Silakan kalau bilang bukan politik dinasti, tetapi faktanya seperti itu, demokrasi semakin formalistik. Bagi saya ini sebuah kemunduran," katanya.

Terkait dukungan untuk kotak kosong, menurutnya, hal tersebut sebagai cara menertawakan tidak berfungsinya sistem demokrasi.

"Sebenarnya bukan kampanye kotak kosong, tetapi ini lebih pada menertawakan demokrasi. Karena pilkada menjadi tidak substansial. Jadi ditertawakan saja," katanya. (det/wis)



×
Berita Terbaru Update