-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dijenguk Mahfud MD, Syekh Ali Jaber Panggil Guru

Selasa, 15 September 2020 | 09.58 WIB Last Updated 2020-09-15T02:58:44Z


JAKARTA (DutaJatim.com) - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menjenguk Syekh Ali Jaber yang masih dalam perawatan setelah diserang oleh orang tak dikenal di Bandar Lampung, Lampung. Dalam kesempatan itu Syekh Ali Jaber berterima kasih atas kunjungan Mahfud, seseorang yang memang dia hormati dan bahkan dia anggap sebagai guru. 


"Saya berterima kasih kehadiran Pak Menteri bisa silaturahim. Dan sebenarnya saya biasa panggil guru. Yang enggak biasa panggil Pak Menteri," katanya, berkelakar, dalam rekaman video yang diunggah Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.


Syekh Ali juga mengaku telah merasa mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan usai peristiwa penusukan itu. Kini kondisi fisiknya juga sudah makin membaik setelah mendapatkan perawatan yang maksimal.


Setelah ini, Syekh Ali Jaber merasa yakin luka akibat penusukan ini bisa diatasi. Dia juga telah berhasil kembali ke Jakarta dengan kondisi jasmani dan rohani yang sehat. "Alhamdulillah kembali ke Jakarta dalam kondisi sehat rohani dan sehat jasmani," ujarnya.


Seperti diberitakan DutaJatim.com sebelumnya penceramah Syekh Ali Jaber ditikam oleh orang yang belakangan diketahui bernama A. Alpin Andrian saat sang dai berceramah di Masjid Falahudin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Lampung, Minggu sore, 13 September 2020. 


Pelaku tinggal di Jalan Tamin, Gang Kemiri, Sukajawa, Bandar Lampung. Pemuda itu, menurut keterangan keluarganya, memiliki riwayat gangguan jiwa sejak empat tahun belakangan. Namun, belum ada keterangan resmi dari Kepolisian atas kondisi kejiwaannya. Ali Jaber sendiri tak percaya pelaku mengalami gangguan jiwa alias gila. Bahkan dia menilai pelaku orang yang terlatih.


Ulah Komunis


Semua pihak meminta agar kasus ini diusut tuntas dan tak hanya selesai dengan status pelaku yang dianggap gila tersebut. Apalagi kasus serupa sudah sangat sering terjadi sebelumnya.


Sekretaris Umum Front Pembela Islam, Munarman, mengatakan, sudah banyak insiden yang korbannya para ustaz maupun ulama. Namun, modusnya selalu menyebut pelaku diduga mengidap gangguan jiwa.


Menurut dia, modus yang dijalankan pelaku Alpin Adrian sama dengan aksi pelaku peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya. “Modus pembunuhan para ustaz dan ulama ini biasa dilakukan oleh golongan komunis. Sejarah membuktikan tahun ’48, ’65, 98, dan 2019 saat menjelang pilpres,” kata Munarman melalui keterangannya yang diterima redaksi Selasa, 15 September 2020.


Ia menyebut kaum komunis memang selalu melakukan pembunuhan dengan isu dukun santet, setan desa, dan macam-macam lagi. Pelakunya juga kalau tertangkap selalu disebut orang gila. Dia menegaskan, saking seringnya peristiwa semacam itu terjadi, “Umat Islam sudah paham dengan permainan yang begini.”


Menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Kota Bandar Lampung Kompol Rezky Maulana, Alpin mengaku menusuk Syekh Ali Jaber secara spontan. Alpin, katanya, bahkan tidak tahu ada Syekh Ali Jaber meski lokasi pengajian itu dekat dengan rumahnya. 


Pelaku juga berhalusinasi pernah didatangi Syekh Ali Jaber setahun lalu karena sering menyimak ceramah sang dai melalui Youtube. “Begitu mendengar dari masjid ada yang mendengar Ali Jaber, nah, enggak lama dari situ dia ke dapur ambil pisau menuju ke tempat itu. Jadi, secara spontan pada saat itu, tapi masih kita dalami nih. Sementara pengakuannya seperti itu,” katanya. (vci/hud)

×
Berita Terbaru Update