-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aksi Boikot Produk Prancis Meluas, Bagaimana dengan Indonesia?

Tuesday, October 27, 2020 | 9:46 AM WIB Last Updated 2020-10-27T02:46:42Z

Pedagang Pakistan menyerukan boikot sambil membakar bendera Prancis di Peshawar.


SURABAYA (DutaJatim.com) - Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat umat Islam dunia marah. Pasalnya, dia menggeneralisasi kasus kriminal yang dilakukan seorang muslim seakan-akan semua umat Islam dan agama Islam bersalah atas kasus tersebut. Karena itu, umat Islam menyerukan boikot produk Prancis. 


"Isu Islam masih soal ekstremisme, radikalisme, terorisme, padahal semua isu itu dipicu oleh penghinaan seseorang kepada Islam. Penjajahan atau penindasan orang lain terhadap orang Islam. Reaksi saja. Bukan sifat orang-orang atau agama Islam seperti itu. Kalau tak ada yang menghina Islam, ya tak akan terjadi kasus di Prancis itu. 


Kalau tidak ada umat Islam yang ditindas, ya tak ada terorisme dan radikalisme sebab radikalisme bukan hanya di Islam tapi juga di non-Islam.  Jadi, kasus di Prancis itu bisa memicu kemarahan siapa pun, ada yang sangat marah hingga khilaf dan membunuh, ada yang marah tapi mengecam, saja, ada yang menuntut agar pelakunya dihukum," kata Ustad Achmad Shodiq saat ditemui di Surabaya Selasa 27 Oktober 2020. 


Ustad Shodiq juga memahami bila sekarang trending topic di media sosial ajakan boikot produk Prancis. "Biasanya, pejabat di negara itu ingin popular sehingga ikut menyerang Islam dengan menyebut kata ekstremisme, padahal dia tidak tahu arti sebenarnya. Ini yang menjengkelkan sebab omongan Macron itu bisa menjadi ancaman bagi muslim di Prancis. Kalau saya pedagang, saya juga ikut boikot produk Prancis," katanya.


Saat ini seruan boikot produk-produk dari Prancis semakin meluas dengan populernya tagar #Boycottfranceproducts di Twitter. Seruan boikot ini dipicu atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang berjanji untuk tidak menyerahkan karikatur Nabi Muhammad SAW yang dibuat warga negaranya.


“Seluruh dunia Islam harus mengikuti Kuwait untuk memprotes Prancis dan serangan terbaru yang memalukan terhadap kepercayaan Muslim. #boycottfranceproducts #boycottfrance #MacronGoneMad, ” cuit salah seorang pengguna Twitter, Ansar Abbasi di akunnya seperti dilansir Khaleej Today, Minggu (25/10).


Di Kuwait, beberap postingan foro dipublikasikan di media sosial dan menunjukkan penarikan produk keju Prancis "Kiri" dan "Peppel" dari rak beberapa toko. Tercatat hingga kini, negara-negara seperti Turki, Iran, Yordania dan Kuwait telah mengutuk penerbitan karikatur Nabi Muhammad.


Organisasi Kerja Sama Islam juga mengecam pidato politik resmi yang dikeluarkan oleh beberapa pejabat Prancis dengan cara yang menyinggung hubungan Prancis-Islam dan memicu perasaan kebencian untuk keuntungan politik partisan.


Wakil Ketua Federasi Masyarakat Koperasi Kuwait, Khaled Al-Otaibi, mengatakan 60 koperasi telah mengumumkan pemboikotan produk Prancis dari 68 produk yang didistribusikan ke seluruh Kuwait. "Kami telah memindahkan semua produk Prancis, yaitu keju, krim, dan kosmetik, dari rak koperasi dan mengembalikannya ke agen resmi merek-merek ini di Kuwait," katanya.


Kepala Travel Agencies Union, Muhammad Al-Mutairi juga mengatakan banyak perjalanan ke Prancis dihentikan sebagai respon atas karikatur Nabi.


"Banyak agen perjalanan di Kuwait tidak lagi menyediakan layanan reservasi penerbangan ke Prancis atau reservasi hotel di sana karena gambar Nabi Muhammad yang menyinggung umat Islam," ujarnya.


Seperti diketahui, Macron sebelumnya mengatakan seorang guru Prancis yang dipenggal kepalanya di awal bulan ini  dibunuh karena orang-orang Islam ingin mengambil masa depan negaranya. Sementara guru yang meninggal, Samuel Paty, terbunuh setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW selama di kelas yang dia pimpin tentang kebebasan berbicara. “Kami tidak akan melepaskan kartun, Islamis tidak akan pernah memiliki masa depan Prancis," kata Macron. (rpk)

×
Berita Terbaru Update