-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Alumni ITS Inkubasi Bisnis Sektor Kelautan dan Perikanan: Menembus Pasar Ekspor ke Amerika

Sabtu, 10 Oktober 2020 | 15.23 WIB Last Updated 2020-10-10T09:05:29Z

 



SURABAYA (DutaJatim.com) -  Potensi maritim Indonesia berlimpah. Terutama perikanan, yang melimpah ruah. Berawal dari potensi sumber daya alam begitu besar itulah,  Ir Sudiarso, dan Achmad Nizam membangun usahanya di bidang perikanan.

Ir Sudiarso, membangun usaha hasil laut jenis ikan, dengan mendirikan PT Kurnia Mitra Makmur (KMM) dan Achmad Nizam, Direktur PT Bahari Mulia Utama (BMU) mengolah rajungan. 

Sedikitnya, 60 persen sumber daya ikan berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) wilayah timur Indonesia,  sementara konsentrasi Unit Pengelolaan Ikan (UPI) masih tersentral di Pulau Jawa. 

“Maka hal ini menjadi tantangan logistik bagi sektor kelautan dan perikanan,” tutur Didik, di acara Kelas Inkubasi Startup Inovatif ke-5 (KINSOV 5), kemarin.


Dari situlah bagaimana persoalan disparitas sumber daya ikan,  distribusi lokal terkait biaya logistik tak efisien, penurunan kualitas produk, hingga minimnya sarana dan prasarana menjadi tantangan tersendiri.

“Bahkan biaya transportasi ekspor lebih murah daripada biaya pengiriman di wilayah domestik,” terang Direktur PT Kurnia Mitra Makmur ini.

Proses pemasaran produk ikan sendiri dimulai dari perikanan budidaya atau tangkap, kemudian disalurkan ke pasar segar ataupun UPI. 

UPI kemudian memasok produk ekspor, industri katering, pengiriman daring, pasar modern, restoran dan cafe, hingga hotel.

“Selama pandemi ini kami mengalami penurunan omzet 30 persen. Karena biasanya suplai ke hotel, tapi sekarang perhotelan sedang ambruk,” ujarnya. 


Sebagai solusi, perusahaannya kini memproduksi aneka produk frozen yang dinilai lebih praktis, karena dapat diolah sendiri di rumah.

Jika dilihat, bahwa potensi besar dan peluang terbuka lebar dalam bisnis perikanan di negara Indonesia, baik secara makro, sektor industri, logistik, dan bidang maritimnya. 

"Belum lagi,  10 persennya belum diolah. Ikan yang tadinya bernilai ekonomi rendah, kalau diolah bisa bernilai mahal. Dan Startup yang menyelesaikan storage selama pengiriman,” pungkasnya.

Produk Indonesia Tembus Pasar Amerika

Sementara, Achmad Nizam memilih ekspor sebagai segmentasi pasarnya. 

Direktur PT Bahari Mulia Utama ini memilih rajungan sebagai produk utamanya sejak 2015.

“Indonesia itu kaya sekali akan produk perikanan. Pak Didik spesialisasi di ikan. Saya di rajungan,” ucapnya.

Kata dia, dibutuhkan kerja keras dan kedisiplinan untuk bisa menembus pasar Amerika yang memiliki standar kualitas tinggi tersebut.

Diakui bahwa Rajungan merupakan hasil laut yang mudah basi. Sehingga dia memilih metode pasteurisasi dalam pengemasan kalengnya.

Jika dilihat, produk rajungan di laut Indonesia ada 65 persen, yang masuk kategori The Best Blue Swimming Crab.

Namun sayangnya, standar kualitas di Indonesia tidak terlalu bagus.

"Sehingga importir lebih memilih membeli dari Vietnam, India, hingga Tunisia. Tapi akhirnya Amerika tetap ambil dari Indonesia karena rajungan kita terbaik,” ujar Nizam.

Produk rajungan miliknya dibeli langsung dari nelayan dengan jumlah yang cukup melimpah. 

Namun setelah disortir, banyak rajungan yang tidak lolos uji kualitas. Sehingga harus dibuang karena tidak sesuai dengan standar Amerika.

Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaannya menjual kembali second grade crab (rajungan kelas dua) ke pasar domestik. 

“Namanya Rajungan Legit. Hasilnya juga lumayan. Tapi tujuannya agar limbahnya tidak terlalu terbuang,” jelasnya.

Apa kiat menembus pasar Amerika ? 

Kata dia, yang terpenting adalah adanya permintaan pasar terlebih dahulu.

"Barulah kita dapat masuk menjadi pemasoknya. Lalu diperlukan dedikasi tinggi untuk memelihara kualitas produk. Produk kita spesifik, tidak bisa dijual di tempat umum,” terangnya.

Menurutnya, belajar menjadi entrepreneur harus siap untuk rugi dan tidak bermimpi untuk selalu untung.

Karena banyak orang yang latah terjun di bisnis hanya karena melihat produk yang bagus. Padahal kenyataannya, dibutuhkan kedisiplinan tinggi agar tidak tergerus oleh pesaing. 

“Di bisnis ini, kompetitor kita bukan di Indonesia. Tapi di negara lain yang standarnya tinggi,” tandasnya.

Sekadar diketahui,  Inkubator dan Layanan Bisnis DIKST (Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi) ITS menggelar webinar kelas inkubasi start up inovasi (KINSOV) ke-5.

Kegiatan ini menghadirkan Ir Sudiarso, Direktur PT Kurnia Mitra Makmur (KMM) dan Achmad Nizam, Direktur PT Bahari Mulia Utama (BMU).

Dengan moderator Tri Achmadi, Manajer KST Inovasi Maritim, acara menjadi gayeng apalagi hostnya adalah Dr Machsus, ST, MT- Manager Senior Akses Permodalan dan Hubungan Alumni, serta  Ir Baroto Tavif I, M.Si- Manajer Senior Inkubator dan Layanan Bisnis.(ima/ndc)
×
Berita Terbaru Update