-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Batik Umur 120 Tahun Karya Leluhur Badrut Tamam Dipamerkan di Surabaya

Senin, 05 Oktober 2020 | 13.48 WIB Last Updated 2020-10-05T06:48:02Z


Bupati Badrut Tamam menunjukkan batik tulis Pamekasan kepada pengunjung.





PAMEKASAN (DutaJatim.com) - Pemkab Pamekasan menggelar Pameran dan Gebyar Mahakarya Batik Pamekasan di Hotel Bumi Surabaya. Pameran itu digelar Jumat (2/10/2020) berbarengan dengan peringatan Hari Batik Nasional. 

Selain pameran juga digelar fashion  show batik Pamekasan oleh para model dan sarasehan bertema batik setempat.


Batik Pamekasan yang dipamerkan terdiri dari dua kategori, pertama batik tulis Pamekasan kuno yang berusia puhan tahun.  Yang kedua batik tulis karya modern kontemporer yang dibuat hingga tahun 2020. Kain batik itu harganya yang murah hingga batik yang paling mahal.


Kepala Disperindag Pamekasan Achmad Syaifuddin mengatakan kegiatan itu digelar dalam rangka promosi batik Pamekasan dengan mengunakan momentum Hari Batik Nasional. Dia bilang batik Pamekasan dikenal dengan sebutan batik seribu warna. Karena memiliki banyak corak dan motif. Ada motif per geper, sabet, rante, tong centong, kon sokon dan lainnya. 


Dalam pameran kali ini Pemkab juga menghadirkan desainer terkenal Surabaya Emran Nawawi yang juga berasal dari Pamekasan. Emran mengaku mendukung kegiatan itu karena pameran merupaka cara untuk mengenalkan batik kepada kalangan luas, termasuk generasi muda. 


Agar dicintai kaum muda milenial, kata Emran, gunakan pendekatan warna. Perlu dibuatkan batik dengan motif yang cocok dengan warna kesukaan anak muda. 

“Setelah tertarik dengan warnanya, baru kebentuk baju. Buat seperti gaun princess Disney yang ada dalam impian mereka,”  katanya.


Sementara itu dalam acara sarasehan, yang diikuti oleh pegiat media dan para kolektor batik, Bupati Pamekasan Badrut Tamam menjadi pembicara. Dia mengungkapkan bahwa ciri paling menonjol batik Pamekasan antara batik kuno dan batik modern adalah variasi warnanya. Batik lama cenderung menggunakan warna agak gelap, sedangkan karya batik modern warnanya lebih cerah. 


Dia mengaku diantara batik yang dipamerkan ada selembar kain batik  yang berusia 120 tahun. Batik itu merupakan koleksi pribadi Bupati Badrut Tamam, warisan turun temurun dari keluarganya yang juga pembatik. Untuk bisa menggunakan batik itu sebagai kemeja Badrut Tamam mengaku terpaksa mereproduksi motif batik tersebut. 


Walaupun tidak persis sama tapi cukup memuaskan dikenakan menjadi kemeja. Dan batik itu adalah batik yang dipakai pada saat dia hadir dalam pemeran batik tersebut. Tapi sebelumnya dia mengaku sempat banyak batik kuno karya leluhurnya yang sudah telanjur di jahit menjadi kemeja.


“Salah satu kesalahan tersebut saya adalah menjahit batik batik lawas peninggalan mbah buyut. Padahal, itu seharusnya aslinya disimpan  saja sebagai warisan. Makanya, sekarang yang asli saya simpan. Kalau mau bikin ya direproduksi meskipun hasilnya tidak bisa sama persis,” paparnya. 


Badrut Tamam mengaku batik tulis Pamekasan kini sudah dirancang menjadi industry yang harus meningkatkan perekonomian Pamekasan. Sebagai batik yang diakui nasional hingga internasional, Pamekasan kini terus mencari cara untuk keberhasilan menjadikan batik menjadi pendongkrak ekonomi masyarakat. 


Badrut Tamam mengaku ada tantangan dalam industry batik Pamekasan kedepan. Antara lain, regenerasi pembatik muda hingga bagaimana membuat batik itu menjadi benda yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kaum milenial. Artinya bagaimana supaya agar kaum muda merasa senang dengan menggunakan batik Pamekasan. (mas)
×
Berita Terbaru Update