-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hari Santri, Komjen Boy Rafli Ajak Santri Ikut Perangi Terorisme

Wednesday, October 21, 2020 | 10:30 PM WIB Last Updated 2020-10-21T15:30:34Z

 


SURABAYA (DutaJatim.com) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjem Pol Dr Boy Rafli Amar MH, mengunjungi sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur, melakukan ziarah ke makam pendiri NU, dan menghadiri acara Ngopi Coi yang digelar di Hotel Santika, Jl. Raya Gubeng Surabaya, Rabu 21 Oktober 2020.  

Saat menghadiri acara Ngopi Coi (Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia), Komjen Boy Rafli Amar, menegaskan pentingnya kemampuan literasi informasi. Salah satu fungsinya adalah untuk mencegah tindak terorisme.


"Di masa pandemi Covid-19 segalanya bisa berubah. Bisa sebagai masalah kesehatan, tapi nanti akan bergerak pada masalah ekonomi. Nah, di sinilah, muncul gejala terorisme yang harus diantisipasi sejak dini," kata Komjen  Boy Rafli Amar dalam acara Ngopi Coi. Acara yang didahului sambutan  Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Dr Hj Hesti Amriwulan SH MHum, ini diikuti sejumlah lurah, kepala desa, Babinkamtibmas, Babinsa, dan kalangan media massa.


Boy Rafli Amar, yang pernah menjabat Kapolres Pasuruan, memahami karakter masyarakat Jawa Timur. Sebagian besar, menurutnya, berlatar belakang dari kalangan santri. Karena itu, di Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober, dia mengajak para santri ikut aktif terlibat memerangi terorisme.


"Nah, santri menjadi penggerak dalam melawan terorisme. Kita sekarang menjalani jihad dalam pengertian amar ma'ruf nahi munkar, mencegah tindakan buruk dan mengajak kebaikan," tuturnya.


Saat acara Talkshow Ngopi Coi tampil pula sebagai pembicara Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT Dr Hj Andi Intang Dulung MHI, Yoseph Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers 2016-2019), dan Yuristiarso Hidayat (Kabid Media Massa, Hukum dan Humas FKPT).


Selain itu, pada sesi kedua menghadirkan diskusi dimoderatori Dr Bambang Sigid Widodo Spd MPd, dengan pembahasan "Materi Internet, Media Digital dan Terorisme". Yoseph Adi Prasetyo memberi gambaran tentang berita hoaks hingga munculnya tindak terorisme, yang digerakkan lewat media sosial.


Sebelumnya, Ketua FKPT Jawa Timur Dr Hj Hesti Amriwulan SH MHum mengatakan, kegiatan ini harus dibatasi pesertanya karena situasi pandemi Covid-19. Meski demikian, berbagai kalangan yang hadir cukup mewakili masyarakat secara luas. 


"Seperti Forum Rektor, kalangan media, baik media mainstream maupun media kampus di Surabaya. Selain itu, dari kepala desa, lurah, dan Babinsa," tuturnya, didampingi Sekretaris FKPT Jatim, Dra Faridatul Hanum MKomI.


Acara berlangsung cukup meriah. Sedianya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa hadir untuk memberikan sambutan. Namun, karena berhalangan, akhirnya diwakilkan kepada salah seorang pejabat di Pemprov Jawa Timur.


Safari Ulama NU


Sebelum menghadiri acara Ngopi Coi di Hotel Santika Surabaya, Komjen Pol Boy Rafli Amar sudah lebih dulu bersafari ke para tokoh agama dan masyarakat di Jatim. Dalam safarinya, Boy juga melakukan sosialisasi dan koordinasi untuk mencegah masuknya paham radikal ke Indonesia.


Boy mengawali kunjungan kerjanya di Jatim dengan berziarah ke makam Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan keluarganya di Ponpes Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini juga melakukan silaturahmi kebangsaan dengan keluarga besar pengasuh Ponpes Tebuireng.


"Silaturahmi yang bermanfaat ini akan terus kami sosialisasikan dengan mengedepankan nilai-nilai Islam moderat yang rahmatan lil alamin. Tentunya dengan semangat ukhuwah di antara anak bangsa untuk melahirkan generasi bangsa yang memiliki nilai agama dan nilai kebangsaan dengan semangat nasionalisme agar dapat menyeimbangkan kehidupan NKRI," kata Boy dalam rilisnya, Rabu (21/10/2020).


Boy menjelaskan, BNPT akan bekerjasama dengan Pesantren Tebuireng untuk memberi pelatihan wawasan kebangsaan kepada para ustaz dan ustazah. Melalui kerjasama tersebut, dia berharap nasionalisme di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy'ari ini meningkat. Karena Ponpes Tebuireng mempunyai sejarah penting dan pengaruh besar dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia.


"Semangat kebangsaan yang digalakkan para pendiri pondok pesantren ini sepertinya dari sebelum hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi modal BNPT dalam menyosialisasikan hal serupa kepada masyarakat," terangnya.


Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyambut baik kunjungan kerja Kepala BNPT. Terlebih lagi silaturahmi kali ini menghasilkan sinergi yang baik antara Pesantren Tebuireng dengan BNPT.


"Karena di pondok pesantren ini diterapkan pelajaran-pelajaran mengenai ukhuwah yang merupakan suatu perintah. Bagaimana kita mempelajari mengenai ukhuwah ini, bagaimana kita bersilaturahmi, bagaimana mempertahankan dan menjaga kekerabatan. Dari silaturahmi ini banyak sekali yang kita dapatkan untuk mencegah permusuhan," tandas Gus Kikin.


Ponpes Tebuieng merupakan pesantren tertua dan terbesar di Indonesia yang berdiri pada tahun 1899. Pesantren ini melahirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam pendidikan agama di Indonesia. Seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid.


Dalam mencegah masuknya paham radikalisme terorisme di lingkungan pendidikan agama, pesantren memiliki peran vital. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah memperhatikan kurikulum pendidikan dan memberi wawasan para pengajarnya agar memiliki paham kebangsaan dan pengetahuan agama yang seimbang.

Selama di Kabupaten Jombang, Kepala BNPT juga berziarah ke makam Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Chasbullah di kompleks Ponpes Tambakberas. Kiai Wahab dikenal sebagai inspirator, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU). (rdi/gas)


×
Berita Terbaru Update