-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mayjen Widodo DP: Kebersamaan Kekuatan Ling Tieng Kung

Saturday, October 24, 2020 | 4:35 PM WIB Last Updated 2020-10-24T10:50:45Z

 

Dari kiri ke kanan: Shane, Agus, Erfandi, I Me dan Edy Prawoto.


SURABAYA (DutaJatim.com) - Dengan tegas Mayjen TNI (Mar) Widodo Dwi Purwanto, salah seorang tokoh Ling Tien Kung, mengatakan, saat ini kebersamaan di tubuh Ling Tien Kung mulai “terganggu” kerena ada kepentingan tertentu. Melihat kenyataan ini, kita harus memperhatikan dan menyelesaikan fenomena ini, demi kejayaan Ling Tien Kung ke depannya.


Hal itu dikatakan Widodo pada Webinar yang digelar oleh MPET2---organisasi yang menaungi Ling Tien Kung---, Sabtu (24/10/2020) di Kampus Ubhara Surabaya. 


Dengan tema “Dalam Semangat Kebersamaan Kita Jaga Kemurnian Ling Tien Kung, tampak hadir di Ubhara, Shane Feldo Fuyi Widjaja (Dewan Pembina), Brigjen Pol (Purn) Drs. Edy Prawoto SH, Mhum (Ketua Umum MPET2), Ir. Agustiawan Dinata (Sekretaris MPET2) dan I Me (Kepala Teknik). 

Webinar ini digelar menyongsong HUT Ke-15 pada 25 Oktober 2020 yang akan dilaksanakan di Ole-Ole secara sederhana dan terbatas guna mematuhi protokol kesehatan.

Widodo Dwi Purwanto



Dari Jakarta, Mayjen Widodo mengatakan, dirinya berkeyakinan sekumpulan orang-orang biasa, tetapi mempunyai jiwa kebersamaan, akan mengalahkan sebuah kekuatan. Ini dahsyatnya sebuah kebersamaan. 


“Karena itu, kita harus mempunyai titik kebersamaan itu. Berbicara masalah kebersamaan, saya sangat merasakan saat mendiang Lao Shi berada di Ole-Ole. Saya setidaknya 10 bulan di Surabaya digembleng, khususnya bila berlatih di Ole-Ole,” kata Widodo.


Lalu bagaimana kita bisa meraih kebersamaan lagi? Tentang ini Widodo mengatakan, dirinya mencintai semua anggota Ling Tien Kung. Semu adalah orang yang mempunyai potensi untuk membangun kebersamaan itu. Juga pengurus MPET2, dan tak terkecuali murid-murid Lao Shi yang pertama, seperti I Me, Agustiawan, hingga Awi. 


“Beliau-beliau itu merupakan potensi kita untuk menciptakan kebersamaan lagi. Seperti halnya kebersamaan yang tercipta di zaman Lao Shi,” tegasnya.



Widodo juga menyinggung soal Lapangan Ole-Ole yang menurut dia mempunyai sejarah panjang bagi perjalanan Ling Tien Kung. Ole-Ole adalah legenda bagi Ling Tien Kung. Untuk itu dia berharap agar pelatihan (pelatihan instruktur) hanya dilaksanakan di Ole-Ole. Sementara pelaksanaan HUT boleh dilaksanakan dimana saja sesuai dengan kesepakatan. Ole-Ole sentra penggemblengan Ling Tien Kung. 


“Terakhir saya ucapkan terima kasih atas semuanya. Semua ini merupakan suara hati nurani saya yang ingin melihat kembali kebersamaan itu seperti zamannya Lao Shi masih ada,”pungkasnya.

Konsolidasi


Edy Prawoto dalam sambutannya mengakui, masih ada distorsi di tubuh Ling Tien Kung. Karena itu diharapkan kita bersama-sama menyelesaikan hal itu. Dia mengatakan, webinar ini merupakan ajang silaturrahim, karena kita sudah 8 bulan kurang bersilaturrahim karena pandemic covid-19. “Di usianya yang ke-15, kita memang perlu konsolidasi. Tanpa Ling Tien Kung kita bukanlah apa-apa,” katanya.



Dia mengatakan, pertama di usia ke-15 ini masih ada koordinator dan sasana yang masih belum maksimal. Karena itu dia meminta kita harus terus menerus untuk memperbaiki diri. Saat ini masih ada distorsi. Hal ini terjadi, karena beberapa hal, seperti kurang pahamnya soal filosofi Ling Tien Kung.


Kedua, distorsi terjadi karena ada yang mencari popularitas. Ketiga, yakni  ada kepentingan tersendiri.


“Koordinator dan ketua sasana harus mengetahui secara pasti filosofi Ling Tien Kung itu. Visi dan misi harus dipahami. Kita wajib membangun kebersamaan. Kalau kita jalan sendiri, pasti tak akan terjadi kebersamaan itu,” katanya.


Ujung tombak Ling Tien Kung adalah para instruktur. Mereka juga sebagai motivator. Lao Shi sering mengingatkan, instruktur harus tekun memberikan latihan dengan benar,” katanya.


Prof Didiek yang tampil juga sebagai pembicara mengatakan, Lao Shi selaku mengatakan, dengan empet-empet dan jinjit-jinjit penyakit akan sembuh. Lao Shi telah meyakini hal itu. Karena itu, Lao Shi selalu meminta agar ajaran Ling Tien Kung jangan ditambah dan jangan dikurangi.



Sebagai pembicara selanjutnya, dr. Achmad Mediana dari segi kebidangan ajaran Ling Tien Kung itu sudah masuk. Ada sesorang yang sudah 12 tahun tak bisa hamil, setelah berlatih Ling Tien Kung, Alhamdulillah hamil. 


“Sungguh dahsyat ajaran ini, karena itu kita harus mempersiapkan Ling Tien Kung ke depannya mau bagaimana,” katanya.




Dirinya sudah memptaktekkan senam orang hamil, selanjutnya diganti dengan gerakan Ling Tien Kung. Hebat Ling Tien Kung ini. 



“Saya sebenarnya, Mei lalu mempresentasikan Ling Tien Kung di Jepang, tetapi tidak terlaksana karena covid-19 ini. Ini membuktikan kehebatan Ling Tien Kung. Sekarang bagaimana kita mempersiapkan Ling Tien Kung ini seperti harapan Lao Shi, yakni membuka pintu dunia,” katanya. 


Sementara Shane mengatakan, kita bersyukur dengan adanya teknologi kita masih bisa “bertemu”. 



“Saya mengingatkan bahwasannya kita harus memegang teguh apa yang diajarkan mendiang Lao Shi. Terutama  visi misi Ling Tien Kung. Karena tujuan Ling Tien Kung itu, yakni Making People Healty,” kata Shane.


Shane mengatakan, kita wajib menyebarkan ilmu Ling Tien Kung, tanpa pamrih. Kita harus murni mempunyai tujuan untuk menyehatkan masyarakat.


“Mimpi Lao Shi untuk membuka jendela dunia menjadi tugas kita bersama, dan itu bisa terlaksana bila kita bersatu serta bersama-sama membuka jendela dunia,” katanya.(Erfandi Putra)
×
Berita Terbaru Update