-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Taryat Suratman, ‘Orang Gila’ Indonesia Pertama Buka Pabrik di Ethiopia: Menembus Kengerian dengan Modal Keberanian Menghadapi Tantangan

Wednesday, October 28, 2020 | 8:43 AM WIB Last Updated 2020-10-28T01:43:54Z

 



Lagu Ethiopia karya Iwan Fals yang sempat terkenal kini mulai dilupakan orang. Lagu yang menceritakan kengerian negeri yang dilanda kekeringan, kelaparan, dan kematian. Namun itu dulu. Sekarang Ethiopia berubah menjadi negara yang pembangunannya melaju pesat, mengalahkan hampir semua negara lain di benua hitam, Afrika. Nah, salah seorang pengusaha Indonesia,  Taryat Suratman, menjadi saksi bagaimana Ethiopia bisa bangkit dari keterpurukan tersebut.


Oleh Gatot Susanto


TARYAT SURATMAN sempat bingung saat pertama kali mendapat tawaran membuka pabrik di Ethiopia. Sejak itu lagu karya Iwan Fals selalu terdengar di telinga. “Dengar rintihan berjuta kepala. Waktu lapar menggila. Hamparan manusia tunggu mati. Nyawa tak ada arti. Kering-kerontang meradang. Entah sampai kapan. Datang tikam nurani. Selaksa doa penjuru dunia. Mengapa tak rubah bencana. Menjerit Afrika. Mengerang Ethiopia…”


Siapa yang tidak ngeri mendengar lagu itu. Syair lagu Iwan Fals tersebut sangat jelas menggambarkan bagaimana kondisi Ethiopia saat itu. “Ke sanalah saya harus pergi. Bukan sehari dua hari, tapi bisa dalam waktu yang lama. Karena itu ketika mendapat penawaran penugasan ke Ethiopia saya sangat terkejut sebab Ethiopia yang saya tahu dari lagu Iwan Fals adalah mengerikan, kelaparan di mana-mana, busung lapar, kekurangan air, dan lain-lain,” kata Taryat Suratman kepada DutaJatim.com Rabu 27 Oktober 2020.


Semua informasi buruk soal Ethiopia, kata dia, memang membuatnya tidak nyaman. Karena itu awalnya Taryat menolak mendapat tugas ke negara tersebut. Namun setelah dipikir dan dipertimbangkan dengan matang bersama keluarga, akhirnya tawaran itu dia terima dengan niat ingin tahu kondisi Ethiopia yang sesungguhnya seperti apa, sebab jangan-jangan informasi yang dia terima salah.  “Saya juga ingin mencari pengalaman satu tahun saja di negeri di Benua Hitam tersebut,” katanya. Ya, akhirnya Menembus Kengerian dengan Modal Keberanian Menghadapi Tantangan.


Maka, setelah melakukan persiapan jasmani dan ruhani, pada tahun 2002 dia pun berangkat ke negeri Ethiopia.  Dia harus menempuh perjalanan ke Djibouti selama 21 hari, kemudian ditambah dua minggu lagi ke Ethiopia.


Saat tiba di sana, kondisi Ethiopia memang sangat terbelakang. Kendaraan, apalagi yang bermotor, masih sangat langka. Bahkan di jalan raya masih banyak ditemui alat angkut seperti keledai, kuda, dan sapi. 


“Jadi di tahun itu walaupun jalanan kecil tapi belum ada kemacetan kendaraan karena langkanya orang yang memiliki kendaraan,” katanya.


Namun karena sudah siap menghadapi tantangan di negeri orang, Taryat pun sudah siap pula menghadapi kesulitan hidup di negeri itu. Dia awalnya sangat menderita dengan keadaan semacam itu karena sangat jauh dibandingkan hiruk pikuknya aktivitas kesibukan di Indonesia. 


“Ditambah lagi saya tinggal tanpa keluarga. Tentu stres. Pasti bosan tentunya. Namun seiring perjalanan waktu dengan aktivitas yang sangat sibuk, sehingga tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal-hal tersebut,” katanya.


Taryat tak lagi menghiraukan rasa bosan. Kesulitan baginya sudah lumrah. Tanpa terasa sudah 10 bulan dia bertahan di Ethiopia. “Saya lalu kembali ke Indonesia. Dan rekan-rekan saya menanyakan kondisi Ethiopia mereka bilang kalau saya termasuk orang yang sangat nekat dan gila mau datang ke negara seperti itu,” katanya sambil mengenang masa lalunya tersebut.


Peluang Bisnis


Lalu bagaimana sesungguhnya cara Taryat bisa membunuh rasa jenuh dan bosan hidup di negara yang sangat jauh itu? Untuk menyiasatinya, dia mencari hiburan khususnya di hari libur atau weekend. Bukan ke karaoke, diskotek, atau hiburan malam lain sebab kala itu di sana memang belum ada model hiburan semacam itu, tapi Taryat melunaskan hobinya yang selama ini sering dilakukan di tanah air tapi terlupakan saat dia hidup di “tanah orang lain”.     


“Kebetulan saya hobi mincing. Di sana ada tempat mancing di kali (sungai) yang jaraknya sekitar 130 km dari ibukota Addis Ababa. Ya, akhirnya saya menemukan tempat untuk refreshing di sungai itu,” katanya.


Taryat Suratman menjadi pengusaha pertama Indonesia yang membuka pabrik di Ethiopia. Taryat  saat ini menjabat sebagai General Manager Peace Success Industry Plc, sister company PT Sinar Antjol. Perusahaan itu memproduksi B-29.  Namun dia bukan pertama ke Afrika sebab sebelumnya telah bekerja di Ghana.


"Sinar Antjol buka di Ghana tahun 1995. saya bertugas di Ghana selama 4 tahun. Kemudian saya pulang ke Indonesia, tiba-tiba tahun 2002 saya ditugaskan kembali ke Ethiopia," kata Taryat. "Sebelumnya belum pernah mampir di Ethiopia saat bertugas di Ghana," ujarnya.


Produk B-29 Sinar Antjol sebenarnya sudah masuk Ethiophia. Trading pertama tahun 1990. Trading mempelajari market ternyata potensinya sangat besar. “Saat itu populasi Ethiopia 80 juta jiwa," ujarnya.


Taryat mengatakan ketika dia datang ke Ethiopia sudah ada bagunan untuk pabrik, kemudian meng-install mesin dan produksi. “Pabrik joint Indonesia dan Ethiopia berdiri. Saat itu kendaraan sedikit. Keledai jadi alat transportasi, bahkan mendominasi jalan, menjadi andalan transportasi produk kita. Tak ada rotan akar pun jadi," paparnya.


Dubes RI untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika, Al Busyra Basnur, mengatakan Ethiophia merupakan negara yang tidak punya laut sehingga tidak mempunyai pelabuhan. 


"Jadi semua barang masuk melalui Djibouti," katanya.


Dubes Basnur juga mengonfirmasi soal Taryat yang dijuluki "orang gila" Indonesia yang masuk ke Ethiopia. Pria ini dia sebut sangat berani menghadapi tantangan mengingat situasi Ethiopia saat itu dianggap sangat tidak bersahabat. Namun dari jerih payahnya, perusahaan yang dirintis Taryat selanjutnya berkembang pesat karena saat itu belum ada perusahaan lain yang jadi pesaing.


Taryat Suratman kini masih memimpin perusahaan Indonesia di Ethiopia. Dia juga tahu iklim bisnis di negeri itu. Baginya peluang bisnis di Ethiopia saat ini sebenarnya masih banyak sekali. Hanya saja permasalahan terbesar di Ethiopia adalah currency problem. 


Apabila masalah ini sudah teratasi Taryat yakin investor akan banyak masuk ke Ethiopia sebab populasinya nomor dua terbesar di Afrika setelah Nigeria. Selain itu, upah murah, listrik murah, air juga murah. Yang jelas utility-nya lebih murah dari Indonesia, sehingga sangat berpeluang bagi investor, termasuk investor dari Indonesia, untuk menanamkan modal di Ethiopia.


“Dan saat ini Ethiopia perkembamgannya sangat luar biasa. Pembangunan jalan-jalan  sangat massif. Begitu juga dengan bangunan-bangunan gedung pencakar langit yang tinggi menjulang.  Semua itu terus tumbuh dengan cepat,” kata Taryat. 


Hijrah Pertama Sahabat Nabi


Pernah mengalamai masa suram, melihat sejarahnya, negeri Ethiopia pernah disinggung oleh Nabi Muhammad SAW saat mencari pilihan negeri untuk mengungsi. Negeri yang dituju itu bernama Habasyah atau Abyssinia dan kini dikenal sebagai negara Ethiopia--sebuah kerajaan di daratan benua Afrika. Para sahabat hijrah ke Habasyah atas saran Rasulullah SAW. 


Ditetapkannya Habasyah sebagai tempat pengungsian karena Raja Negus (Najasyi) yang berkuasa di negeri itu dikenal sebagai orang yang adil, lapang hati, dan suka menerima tamu. Inilah proses hijrah pertama yang dilakukan kaum Muslim sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Di antara sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu antara lain adalah Usman bin Affan dan istrinya Ruqayyah yang juga putri Rasulullah SAW serta sahabat dekat lainnya.


Setibanya di Ethiopia, mereka disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Inilah kali pertama ajaran Islam tiba di Afrika. Raja Ethopia lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Wilayah itu lalu menjadi pusat penyebaran Islam di Ethiopia yang masuk dalam bagian Afrika Timur.


Setelah tiga bulan menetap di Ethiopia dan mendapat perlindungan, para sahabat mencoba kembali pulang ke kampung halamannya, Makkah. Namun, situasi Makkah ternyata belum aman.


Rasulullah SAW lalu memerintahkan umat Muslim agar kembali ke Ethiopia untuk yang kedua kalinya. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 sahabat. Rasulullah pun berpesan kepada para sahabat untuk menghormati dan menjaga Ethiopia.


Orang kafir Quraisy lalu mengirimkan utusannya, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah al-Makhzumi, untuk menghadap Raja Najasyi. Keduanya meminta Raja Najasyi mengusir umat Islam dari tanah Ethiopia. Permintaan orang kafir Quraisy itu ditolak Raja Najasyi dan para sahabat tetap tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.


Tak semua sahabat kembali berkumpul dengan Rasulullah SAW, sebagian di antara mereka memutuskan menetap di Ethiopia. Mereka lalu menyebarkan agama Islam di wilayah timur 'benua hitam' itu. Begitulah, Ethiopia pun sekarang menjadi negeri yang makmur. (*)


×
Berita Terbaru Update