-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Grup Musik Debu Siapkan Album Baru, Sudah 50 Lagu, tapi Tak Ada Lagu Corona

Sunday, November 1, 2020 | 2:01 AM WIB Last Updated 2020-10-31T19:50:35Z



SURABAYA (DutaJatim.com) - Grup musik religi Debu menyiapkan album baru di tengah pandemi Covid-19. Grup musik asal Amerika Serikat yang kini tinggal di Indonesia itu vakum kegiatan konser sesuai anjuran pemerintah. Tapi mereka tetap Istiqomah bermusik dan menciptakan lagu. Selain mencipta lagu, mereka keliling Bali dan Jawa untuk liburan.


Grup Band Debu beranggotakan Daood Abdullah (drum) Fatimah Husniah (baglama saz, biola), Layla Wafiyah (harpa, kanoon, tambur dan vokalis), Ali Mujahid Abdullah (bass dan backing vocal), Kumayl Mustafa Daood (vokalis utama, oud, biola, komposer dan pengaransir), Naimah Mahmoud (mandolin, perkusi, oud) dan sejumlah personel lainnya.


Kepada wartawan DutaJatim.com yang menemui di sebuah restoran di Purwodadi Pasuruan sepulang dari Gunung Bromo, Kumayl Mustafa Daood, mengatakan Debu tengah menyiapkan album baru. Saat ini sudah siap 50 lebih lagu baru. Hanya saja untuk proses rekaman dan lain-lain bukan dia yang menentukan tapi pihak label.


"Debu vakum sebab pandemi. Tapi kami sudah menyiapkan lagu. Ada 50 lagu lebih," kata Kumayl Mustafa Daood. Mustafa bersama personel Debu baru saja liburan ke Bali lalu Malang dan Bromo. 


Mustafa mengatakan, lagu-lagu Debu masih tetap soal kehidupan. Soal cinta kepada Tuhan. Namun meski ada pandemi Covid-19, Debu tidak menggubah lagu Corona.


"Debu tidak bikin lagu Corona. Tidak. Lagu soal kehidupan saja," kata Mustafa sambil menyanyikan satu lagu khusus untuk DutaJatim.com.


Personel grup musik Debu sekarang sudah WNI. Saat di Amerika Serikat, nama kelompok musik mereka adalah Dust On The Road, atau Debu di Jalanan.


Saat itu grup musik Debu bersama jamaah Syekh Fattah tinggal di negara bagian New Mexico, Amerika Serikat.


Personel Dust on the Road adalah orang tua sebagian besar personel Debu yang sekarang. Mereka hijrah ke Indonesia pada tahun 1999-2000. 


Setelah di Indonesia mereka mengubah nama mereka menjadi Debu dengan perubahan formasi. 


Beberapa personel terdahulu adalah pengajar di pesantren milik Universitas Muslim Indonesia di Makassar. Mereka tinggal di Makassar selama 6 bulan lalu pindah ke Jakarta. 


Mereka memilih Indonesia sesuai mimpi yang pendiri Syekh Fattah yang juga seorang guru tasawuf. Mimpi itu soal negeri yang aman damai berpenduduk sebagian besar muslim. Personel Debu ingin tinggal di negeri yang damai itu sambil bermusik.


"Kami pindah ke Indonesia hanya ingin hidup damai dan bisa bermain musik," katanya. (gas)







×
Berita Terbaru Update