-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hari Ini Pilpres AS: WNI di Amerika Cenderung Pilih Joe Biden, Mengapa?

Tuesday, November 3, 2020 | 8:14 PM WIB Last Updated 2020-11-03T13:30:23Z
Hany Desiyanti bersama suami yang kini tinggal di Kota Philadelphia.


PHILADELPHIA (DutaJatim.com) - "Coblosan" Pemilu presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) sudah dimulai Selasa 3 November 2020 pagi waktu AS atau Selasa sore WIB. 


Para pemilih antre di hampir semua wilayah AS untuk memberikan suara mereka dalam pemilihan presiden antara calon petahana dari Partai Republik Donald Trump melawan penantangnya capres Joe Biden dari Partai Demokrat.


Seperti dilansir Associated Press, Selasa (3/11/2020), orang-orang tampak mulai mengantre sejak Selasa pagi waktu AS di beberapa tempat pemungutan suara di Fairfax, Virginia, yang terletak di luar ibu kota Washington DC maupun di kota lain seperti Philadelphia. Selain memilih presiden baru, warga juga akan memilih sejumlah jabatan untuk level federal, negara bagian dan lokal. 


Warga kota Charlotte di North Carolina juga sudah mengantre sejak pagi hari untuk bisa menggunakan hak suara mereka. North Carolina diketahui merupakan salah satu 'swing states' yang menjadi perebutan suara sengit antara kedua capres AS tersebut. Begitu pula Philadelphia di Pennsylvania yang semula dikuasai Trump sekarang tampaknya dimenangkan oleh Joe Biden. Yang menarik, saat Trump bermusuhan dengan kalangan muslim, Joe Biden gencar merayu kaum muslim AS agar memilihnya.


Lalu bagaimana sikap para diaspora warga negara Indonesia di Amerika Serikat? 


Hany Desiyanti, WNI yang sekarang tinggal di Kota Philadelphia, mengatakan, WNI belum boleh "mencoblos" di Pilpres AS.  "Hanya yang sudah WNA (sudah warga AS)  dan rata-rata mereka nyoblos," katanya kepada DutaJatim.com Selasa malam ini.


Dia mengatakan WNI ada yang aktif mengikuti politik dengan cara mendukung salah satu calon presiden. Misalnya Suzana yang mendukung Trump. "Ya seperti Mbak Suzana yang menjadi Trump Suporter," katanya.


Yang unik, Hany mengatakan, orang Indonesia pendukung Trump biasanya dikucilkan. Dalam arti tidak akrab dengan yang lain. "Ini menurut pengakuan temen, kalo saya sih tetap berteman dengan siapa pun. Mereka juga tidak merugikan WNI lainnya kok, cuma ada program Trump yang mereka lebih cocok dibanding orang Demokrat, misalnya Trump tidak setuju dengan diberlakukannya aborsi," katanya.


Trump Musuh Imigran


Tapi Trump terkesan memusuhi imigran. Bahkan Trump seakan mau 'mengusir' imigran terutama yang ilegal dan kriminal. "Orang Indonesia kan masih banyak yang ilegal Mas. Jadi kadang mereka merasa orang Indonesia yang pendukung Trump tidak berperasaan, 'mentang-mentang sudah menjadi warga negara', padahal tidak semua pendukung Trump setuju juga dengan itu, seperti yang saya bilang mereka setuju dengan program lainnya," kata Hany, yang putranya ikut jadi voluntir di TPS di daerahnya.


Karena itu kebanyakan orang asal Indonesia--baik yang sudah warga AS maupun masih WNI-- memang aktif mendukung Joe Biden karena dari Partai Demokrat yang lebih ramah terhadap imigran. Philadelphia sendiri, kata dia,  dikenal sebagai  kota yang banyak penduduk imigran, antara lain orang kulit hitam dan Asia serta dari negara-negara Eropa seperti Italia atau Irlandia. Sayang mereka sering terjadi permusuhan. Salah satunya karena orang Asia banyak memiliki small business dan banyak orang kulit hitam yang melakukan perampokan dan pencurian terhadap orang Asia. 


Pencurian terjadi di toko-toko, perampokan terjadi di jalanan, target orang Asia karena mereka punya stereotip orang Asia banyak yang membawa uang cash di jalanan. "Tapi itu kebanyakan terjadi di South Philly karena banyak orang Asia yang tinggal di daerah ini. Kasus penembakan warga kulit hitam kemarin juga terjadi di sini," katanya.


Namun demikian banyak yang tidak setuju dengan tindakan Polisi yang melakukan penembakan terhadap orang hitam minggu lalu, meskipun ada beberapa yang beralasan bahwa orang hitam lebih banyak yang melakukan kriminal dibanding warga lainnya. "Daerah West Philly tempat kejadian penembakan itu memang mayoritas penduduknya orang kulit hitam dan daerah rawan," katanya.


Kota Philadelphia sempat diberlakukan jam malam menyusul aksi demonstrasi berujung rusuh pasca-penembakan warga kulit hitam oleh polisi. "Meskipun diberlakukan curfew (jam malam), masih banyak warga yang di luar setelah jam 9 malam, terutama untuk daerah-daerah yang dirasakan warga aman," katanya. (gas)


×
Berita Terbaru Update