-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Teater Trump vs Biden yang Menegangkan!

Thursday, November 5, 2020 | 8:55 AM WIB Last Updated 2020-11-05T01:55:38Z




Oleh Syarif Syaifulloh*


PHILADELPHIA (DutaJatim.com) - Luar biasa! Pemilu presiden Amerika Serikat kali ini ternyata sulit untuk memprediksikan siapakah yang akan memenangkan dalam perebutan posisi orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut: Apakah petahana Donald Trump atau Joe Biden. Padahal, biasanya coblosan pagi hari, malamnya sudah ketahuan siapa presiden Amerika untuk periode berikutnya.

 

Kalau dilihat di atas kertas, "seharusnya" Donald Trump yang akan memenangkan pertarungan karena dia baru satu periode. Biasanya presiden AS memimpin negeri selama dua periode, meski di masa lalu banyak pula yang satu periode. Namun dalam beberapa dekade terakhir seringkali dua periode.


Jika kali ini Trump gagal rasanya "seperti tidak masuk akal". Tapi politik adalah seni "ketidakmasukakalan" itu--ketika suara rakyat benar-benar mewakili suara Tuhan. Ya fox populi vox dei.


Bagimana pun juga Trump mempunyai banyak peluang sebab dia petahana. Orang yang masih berkuasa. Tapi kenapa ya saya begitu sulit memprediksikan? Tentu saja karena lawannya Joe Biden juga punya peluang untuk menduduki orang nomor satu di negeri Paman Sam mengingat reputasinya bagai magnet yang juga sangat kuat. Dan cawapres Kamala Harris sangat berperan untuk mendongkrak perolehan suara bagi Biden. Karena itu skor saat ini saya melihatnya masih 50:50, meski sejumlah lembaga survei nasional menempatkan Biden lebih unggul ketimbang Trump.


Artinya keduanya sama-sama kuat. Maka siapa pun pemenangnya nanti perolehan suaranya akan beda tipis sekali. Dari kedua pasangan capres tersebut saya menilai di pihak Joe Biden, sosok Kamala Harris mempunyai nilai yang tinggi, sementara di pihak Donald Trump justru saya melihat sepak terjang Donald Trump memang banyak kontroversialnya--ini kelemahan tapi bisa juga sebuah kelebihan. Namun demikian, saya melihat dia cukup berani mengambil segala risiko walau banyak  pro dan kontra dalam setiap berbicara dan dalam mengambil kebijakan. 


Keberanian dalam memberikan statement terhadap negara-negara lain cukup saya acungi jempol. Dalam pengamatan saya ke depan, jika Trump akhirnya memenangkan kembali pertarungan ini maka dia akan lebih banyak lagi belajar dari periode pertamanya. Artinya dia semakin lunak dalam gaya bicaranya. Lebih berhati-hati. Lebih low profile, meski sifat bawaan Trump memang cukup temperamental. Biasanya di balik gaya bicara orang ceplasceplos  mempunyai karakter orang yang tidak tegaan dan penuh perhatian.


Sementara jika Joe Biden yang akhirnya memenangkan pilpres 2020 maka gaya rasa kepemimpinannya lebih cenderung banyak pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu. Tidak cepat. Tentu negara-negara lain akan banyak dirangkul sebab Biden memiliki sifat kebapaan. Sifat ini  akan lebih menonjol. Dia lebih  ngemong, sementara Trump sendiri tidak mengenal kompromi terhadap negara-negara lain yang dianggap merugikan kepentingan nasionalnya.


Sekali lagi, inilah teater demokrasi yang menggelegar ke sekujur dunia. Semua mata menatap ke satu titik panggung di Amerika. Sebuah pertarungan sengit dengan prediksi kemenangan akan beda suara yang sangat tipis.


Itulah buah Joe Biden yang pintar memilih cawapres sebab bila dia tidak merekrut Kamala Harris  sebagai wakilnya, dipastikan  akan sulit menyaingi Trump sebagai presiden. Bagi saya Kamala Harris  memang berpengaruh sangat besar  untuk Joe Biden. Sosok wanita yang memiliki integritas tinggi.


Namun, masalahnya, apakah Trump legawa bila kalah? Melihat sifatnya yang temperamental, tinggi hati, saya prediksi Trump akan benar-benar membawa pilpres AS ini masuk ke wilayah sengketa hukum dengan membawa ke pengadilan.  Ini akan menambah panas suhu politik di Amerika yang warganya sudah lelah diteror Covid-19. (*)


* Syarif Syaifulloh adalah diaspora Indonesia di Kota Philadelphia Amerika Serikat.

×
Berita Terbaru Update