-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun, KH Noer Muhammad Iskandar Wafat

Sunday, December 13, 2020 | 4:18 PM WIB Last Updated 2020-12-13T09:18:34Z

 


JAKARTA (DutaJatim.com) - Ulama pimpinan Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jakarta, KH Noer Muhammad Iskandar SQ meninggal dunia, pukul 13.41 WIB, Minggu (13/12/2020). 

"Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Mohon maaf segala kesalahan murobbi ruuhina Abah KH Noer Muhammad Iskandar SQ telah kembali kepada Allah swt pukul 13:41 siang ini beliau ahli surga husnul khotimah Insyaallah," demikian pernyataan duka dikutip dari nu.or.id, Minggu (13/12/2020).


Jenazah Kiai Noer disemayamkan di Kompleks Ponpes Kedoya. Almarhum wafat pada usia 65 tahun.  Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid membenarkan kabar duka itu. Jazilul menilai almarhum merupakan ulama yang sukses di jalur dakwah.


KH Noer Muhammad Iskandar SQ merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, sebuah lembaga pendidikan yang kini memilik 11 cabang di dalam dan luar kota. Pesantren ini  memadukan sistem pembelajaran klasik dan modern.


KH Noer Muhammad Iskandar lahir di Banyuwangi 5 Juli 1955, anak dari pasangan Kyai Iskandar dan Nyai Rabiatun. Pria yang akrab disapa Kiai Noer ini memulai pendidikannya di pesantren tradisional Jawa Timur untuk kemudian sekolah di Jakarta dan mengembangkan pondok pesantren di kota besar dengan karakter budaya yang berbeda dengan kultur dasarnya. 


Karena itulah, ketepatan pengetahuan akan peta sosiologis daerah akan sangat menentukan efektif tidaknya dakwah yang disampaikan. Makin rendah pengetahuan seorang santri akan peta simbolik masyarakat kota, akan tipis kemungkinan baginya untuk diterima dalam kelompok sosial yang di hadapinya.


Upaya membangun pesantren di Ibu Kota bukan tanpa perjuangan. Perjalanan dan perjuangan panjang pun harus dilalui dengan berbagai tantangan yang berat. Namun berkat dukungan dan dorongan yang begitu kuat dari Kyai Mahrus Ali, Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kyai Noer Muhammad Iskandar, SQ pun berhasil. 


Pria kelahiran Sumber Beras ini, ketika usianya memasuki 27 tahun, tepatnya tahun 1982, menikah dengan Siti Nur Jazilah, putri KH. Mashudi, asal Tumpang, Malang, Jawa Timur. Nur Jazilah pernah memimpin pondok pesantren putri Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.


Bersama dengan beberapa teman, KH. Noer Muhammad Iskandar mendirikan Yayasan Al-Muchlisin di Pluit. Berbagai kegiatan pendidikan yang sudah mulai dirintis, terus ia tangani dengan sepenuh hati.


Bahkan, kegiatan yang berawal dari remaja Masjid Al Muchlisin ini, telah berkembang menjadi madrasah Diniyah, yang lambat laun mulai mendapat simpati masyarakat. Bukan hanya itu, undangan ceramah juga mulai berdatangan kepada dirinya. Kiai Noer termasuk pendakwah yang sangat popular di zamannya. Dia juga sempat terjun ke dunia politik bergabung dengan PPP. (hud)

×
Berita Terbaru Update