-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kalau Boleh Memilih, Saya Tak Akan Merayakan Hari Ibu, Kenapa?

Monday, December 21, 2020 | 6:22 PM WIB Last Updated 2020-12-21T11:23:58Z
 (Foto: contemplativejournal.com)


SURABAYA (DutaJatim.com) - Setiap tanggal 22 Desember masyarakat memperingati Hari Ibu. Para ibu ada yang meminta kepada suami atau anaknya istirahat sejenak dari rutinitas kerja sebagai seorang ibu. Memasak di dapur atau mencuci pakaian dan sejenisnya.

 

Ada pula suami dan anak yang secara pro-aktif meminta istri atau ibunya istirahat tidak bekerja pada hari itu. Lalu, disiapkan kado Hari Ibu, disertai acara-acara yang menggembirakan buat sang ibu atau sang istri. Pokoknya, sehari itu, ibu diperlakukan istimewa. Seperti seorang ratu.


Lalu benarkah demikian? 


Ya, bisa dianggap benar bila Anda ingin membuat ibu atau istri senang, tapi pasti salah bila senang dan gembira itu hanya diberikan pada hari ibu tanggal 22 Desember itu saja. Seperti peringatan hari-hari lain yang sejatinya bertujuan baik, tapi bila dilakukan secara salah kaprah, sekadar ikut-ikutan belaka, mengingat ini budaya Barat, jelas itu salah.


Seorang ibu istimewa dalam sepanjang hidupnya. Bukan hanya sehari saja. Ibu yang melahirkan kita, merawat, melindungi, mendidik kita, hingga kita dewasa. Kasih ibu sepanjang masa, sementara kasih Anda kepada ibu hanya sepanjang gala mengingat ditunjukkan hanya pada saat Hari Ibu saja. Yang benar, kasih kita kepada ibu juga sepanjang masa. 


Karena itu, kita harus kritis kepada tradisi barat tersebut. Tradisi barat tercipta karena tradisi-tradisi lain, seperti individualistis dan materialisris. Keduanya yang memicu lahirnya Hari Ibu sebab pada masyarakat Barat tidak ada tradisi sepanjang masa kita menyayangi ibu, memperlakukannya dengan sangat istimewa, mengingat agama (Islam) menempatlan seorang ibu juga sangat istimewa. Bukankah surga ada di telapak kaki ibu?


Soal peringatan Hari Ibu sudah lama menjadi pro-kontra. Mengutip republika.co.id, di kalangan ulama juga terjadi beda pendapat. Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta’) misalnya pernah menegaskan merayakan Hari Ibu hukumnya boleh dan tidak dilarang dalam syariat. Apalagi ini menjadi salah satu wadah mengekspresikan kecintaan dan kebaikan kita terhadap ibu. 


Prinsip ini sejalan dengan tuntutan berbuat baik kepada orang tua, seperti termaktub Surah Luqman ayat ke-14. Tidak ada larangan agama mengekspresikan kebaikan tersebut dan tidak perlu mengaitkan persoalan ini dengan bidah.

     

Sedang sejumlah ulama  Al-Azhar Mesir tidak setuju dengan perayaan Hari Ibu, seperti Syekh Mutawalli as-Sya’rawi dan Syekh Ali Mahfudh. Sejumlah cendekiawan seperti Syekh Musthafa al-Adawi dan Syekh Abdul Hamid Kisyk juga bersikap sama. 


Dalam pandangan mereka, mengapa perayaan ini tidak boleh dilakukan karena, tradisi ini tidak ada dalam syariat Islam dan termasuk taklid terhadap tradisi Barat. Barat menciptakan peringatan ini sebagai bentuk hiprokrit. 


Fenomena abai terhadap orang tua menjadi pemandangan lumrah di Barat. Peradaban materialistik membuat sebagian dari mereka dengan mudahnya menelantarkan kedua orang tua. Kendati demikian, para ulama tersebut tidak memvonis kafir bagi Muslim yang melakukan perayaan hari ibu tersebut. 


Sementara Syekh Yusuf al-Qaradhawi menilai peringatan Hari Ibu bukanlah termasuk perkara yang haram. Pengharaman sebuah perkara harus didahului dan dilandasi teks. Dan kaidah dasar memandang perkara dan tradisi adalah boleh.


“Meski saya sendiri cenderung tak perlu merayakannya dalam komunitas kita,” kata dia. Jika memang harus dilaksanakan, sebaiknya menghindari penamaannya tanpa menyebutkan nama I’d (hari raya). Karena istilah Id memiliki korelasi yang kuat terhadap agama. 


Syekh Yusuf Qaradhawi juga mengingatkan hendaknya perayaan Hari Ibu, tetap memperhatikan nasib dan kondisi anak-anak yang kehilangan ibu mereka. “Jangan sampai justru perayaan ini menyakiti hati mereka,” kata dia. 


Catatan yang sama juga disampaikan Grand Syekh al-Azhar, Mesir, Syekh Ahmad at-Thayyib. Dia mengakui memang perayaan ini membahagiakan ibu, tetapi ingat pula peringatan ini juga menyakiti anak-anak yatim yang kehilangan ibundanya. “Jika harus memilih, saya lebih memilih menjaga perasaan anak-anak Yatim, karena kewajiban membahagian ibu adalah setiap saat,” kata dia. (rpk/nas)

×
Berita Terbaru Update