-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Korban Gempa Sulbar Jadi 84 Meninggal, Belum Dapat Bantuan Banyak Pengungsi Kelaparan

Monday, January 18, 2021 | 7:14 PM WIB Last Updated 2021-01-18T12:41:21Z

 


MAJENE (DutaJatim.com) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan sebanyak 84 orang meninggal dunia akibat gempa di Sulawesi Barat (Sulbar). Selain itu total terdapat 932 orang luka-luka baik ringan maupun berat.


Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa per Senin (18/1/2021) pukul 14.00 WIB menjadi 84 orang. Rinciannya, 73 orang meninggal di Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majene.

"Selain itu, tercatat 679 orang luka ringan serta terdapat 253 orang mengalami luka berat, yaitu 189 orang luka berat di Kabupaten Mamuju dan 64 orang luka berat di Kabupaten Majene," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangannya Senin siang tadi.

Seperti dikutip dari detik.com, Pusdalops BNPB juga melaporkan sebanyak 19.435 orang mengungsi pascagempa M 6,2. Rinciannya, 4.421 orang mengungsi di Kabupaten Majene dan 15.014 orang mengungsi di Kabupaten Mamuju.

BPBD Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju serta Kabupaten Polewali Mandar terus mendata dan berkoordinasi dengan TNI-Polri, Basarnas serta relawan maupun instansi lainnya dalam proses evakuasi masyarakat terdampak.

"Kondisi mutakhir saat ini jaringan listrik yang terdapat pada dua kabupaten terdampak telah berangsur normal," ujarnya.


Raditya Jati mengatakan jalur Majene-Mamuju yang terputus akibat longsor, tepatnya di Dusun Belalan, Desa Onang Utara, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene saat ini telah dapat dilalui.

Pengungsi Kelaparan

Sementara itu warga korban ada yang kelaparan sebab belum mendapat bantuan. Bahkan ada kabar warga menjarah bantuan yang dikirim ke lokasi bencana.


Personel Polres Mamuju pun mengawal distribusi bantuan untuk korban gempa Sulawesi Barat (Sulbar). Sebab, para pengungsi di sejumlah posko rawan berebut bantuan logistik saat kendaraan pengantar logistik lewat.


"Kegiatan kami dalam melakukan pengamanan, mobile agar masyarakat tertib saat pembagian bantuan," ujar Kasat Reskrim Polresta Mamuju AKP Robertus Roedjito, kepada warga di lokasi penyaluran bantuan, Senin (18/01/2021).

Pantauan di posko pengungsian di Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, petugas tampak berpakaian preman dan bersenjata lengkap tengah bersiaga mengawasi bantuan yang diturunkan dari mobil. Saat itu pula, warga langsung mengerumuni mobil pengantar bantuan logistik.


"Sampai saat ini titik yang dianggap rawan tidak ada, tetapi saat pembagian, pasti masyarakat berkerumun di situ, sehingga rawan terjadi keributan karena tidak sabar hingga rebutan," katanya.

AKP Robertus berharap distribusi bantuan logistik untuk korban gempa bumi di Mamuju selalu dikoordinasikan dengan pihak terkait. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan

"Kami berharap dengan koordinasi yang baik, pembagian bantuan bisa berjalan lancar," imbuhnya.

Salah satu warga korban gempa Syahril mengungkapkan, sejak bencana terjadi baru kali ini dirinya mendapat bantuan.

"Kalau pasokan bantuan sampai sekarang, ini yang pertama dan masih sangat terbatas," terangnya.


Bahkan  sebanyak 120 keluarga korban gempa Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), di wilayah Sese Selatan hingga kini belum menerima bantuan logistik. Akibatnya, para pengungsi kelaparan dan anak-anak mulai mengalami diare akibat hanya mengkonsumsi air sungai.


Untuk diketahui, Sese Selatan merupakan sebuah lingkungan di Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Mamuju.

Sese Selatan dapat diakses dengan dua jalan, yakni Jalan Salupangi dan Jalan Tambayako, di mana bantuan logistik kerap habis di sepanjang kedua jalan tersebut dan tak sampai ke Sese Selatan. (det/wis)


×
Berita Terbaru Update