-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kepada Aktifis LSM, Bupati Baddrut Taman Akui Vaksinasi Covid-19 di Pamekasan Terbaik di Jatim

Thursday, February 4, 2021 | 6:47 AM WIB Last Updated 2021-02-03T23:47:17Z
Bupati Baddrut Tamam menerima draf pemikiran LSM soal Covid-19.


PAMEKASAN (DutaJatim.com) - Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menegaskan penanganan Covid 19 lebih khusus soal pelaksanaaan vaksinasi di Pamekasan sudah berjalan baik. Pelaksanaan Vaksinasi di Pamekasan masuk ranking terbaik di Jawa Timur. Selain itu mortality rate Pamekasan hanya 0,05 % dari masyarakat yang suspect dan positif Covid-19.


Baddrut Tamam menegaskan hal itu saat memberi penjelasan kepada  para aktifis Aliansi LSM yang melakukan audiensi tentang pelaksanaan vaksinasi di Pamekasan, di ruang peringgitan dalam Rumah Dinas Bupati Pamekasan, Rabu (3/2/21) siang. Ikut hadir dalam audiensi ini Dandim 0826 Pamekasan, Kapolres Pamekasan, Sekdakab dan sejumlah pimpinan OPD terkait.


“Artinya apa yang kita lakukan itu sudah luar biasa, kalau kita pakai kacamata jernih. Tetapi  kalau kacamata kita buram, semua akan kelihatan buram, kalau kacamata kita merah, semua nampak merah. Kalau dari sudut pandang kita yang jernih, beberapa langkah yang sudah kita lakukan sudah sangat luar biasa,” terangnya. 


Kalau kemudian dalam pelaksanaannya ada sesuatu yang belum maksimal, kata Baddrut Tamam, itu merupakan hal yang wajar. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Dikatakan,  target dari pelaksanaan vaksinasi adalah membangun high immunity, membangun ketahanan kesehatan secara kolektif di tengah masyarakat.


Baddrut Tamam menegaskan kalau audiensi para aktifis LSM itu dilakukan untuk mencari solusi terbaik, dia menegaskan apa yang dilakukan selama ini semua sudah yang terbaik. Tinggal kemudian ada beberapa hal yang memang harus diperbaiki. Dia memastikan dalam pengambilan keputusan akan perhatikan masalah kemakmuran dan keadilan, tidak melanggar regulasi, stabilitas dan kemaslahatan. 


Dalam audiensi tersebut, para aktifis LSM mengungkapkan  berbagai persoalan. Antara lain menilai kurangnya sosialisasi yang massif sebelum pelaksanaan vaksinasi.  Akibatnya banyak warga bersuara menolak untuk divaksinasi. Mereka juga ada yang mempertanyakan tentang keamanan jenis vaksin sinovac yang dipakai dalam vaksinasi. Ada juga yang mempertanyakan tentang anggaran kegiatan vaksinasi. 


Dr Nanang Suyanto, dari Dinas Kesehatan Pamekasan menjelaskan bahwa sasaran vaksinasi adalah usia 18-59 tahun. Program vaksinasi ini terbagi dalam empat tahap. Tahap pertama khusus tenaga kesehatan yang sedang berlangsung saat ini.  Tahap kedua adalah pelayan public termasuk TNI/Polri, anggota DPRD, PNS termasuk wartawan, karena wartawan masuk pelayan public.


Tahap ketiga adalah masyarakat awam. Masyarakat yang rentan terhadap covid. Tahap keempat adalah masyarakat dengan kategori khusus dengan mempertimbangkan ketersediaan vaksin yang ada di Indoensia. 


“Gelombang pertama berlangsung mulai Januari  hingga April 2021, kemudian di bulan yang sama bulan Februasi sampai April gelombang kedua. Masyarakat akan dimulai April 2021 sampai Maret 2022. Karena jumlah masyarakat sangat banyak sehingga membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dosis diberikan satu orang dua kali  dengan rentang waktu minimal 14 hari,” jelasnya. 


Vaksin yang digunakan, kata  Dr Nanag, adalah vaksin sinovac sama dengan  yang disuntikkan ke Bapak Bupati beberapa hari lalu. Kenapa diberikan vaksin sinovac ? Karena vaksin sinovac ini adalah vaksin yang sudah sangat sesuai dengan kondisi di Indonesia terutama kondisi Puskesmas. Vaksin ini nanti akan disimpan di Puskesmas untuk diberikan layanan ke masyarakat. 


“Sesuai dalam hal apa? Sesuai dalam hal suhu penyimpanan. Suhu penyimpanan vaksin sinovac ini sekitar 2-8 derajat Celsius. Kemudian vaksin sinovac ini menggunakan waksin jenis virus yang sudah dilemahkan atau dimatikan yang sudah berpuluh puluh tahun digunakan di Indonesia untuk  vaksinasi umum, “ paparnya.


Dr Nanang menegaskan vaksi yang digunakan di Amerika dan Eropa tidak cocok digunakan di Indonesia, karena masuk jenis vaksin baru. Selain itu  penyimpanannya membutuhkan kondisi khusus, ada yang minus 70 derajat Celsius, minus 20 derajat Celsius di bawah nol. Vaksin itu tidak bisa disimpan di Puskemas seluruh Indonesia, karena menggunakan system yang terdingin suhu 2-8 derajat celsius. 


“Vaksin sinovac bukan lagi vaksin abuabu. Secara agama MUI sudah memberikan sertifikat halal dan suci. BPOM sudah memberikan sertifikat emergancy use pemakaian darurat pada masa pandemic. Jadi dari segi agama dan kesehatan sudah aman dinyatakan oleh BPOM dan dinyatakan halal oleh MUI,” pungkasnya. (mas)

×
Berita Terbaru Update