-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Selain KH Syeichona Cholil, Bupati Baddrut Tamam Dukung M. Tabrani Diajukan Sebagai Pahlawan Nasional

Wednesday, March 31, 2021 | 12:25 PM WIB Last Updated 2021-03-31T05:25:05Z
M. Tabrani


PAMEKASAN (DutaJatim.com) - Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan setuju dan mendukung penuh pengajuan  Moh. Tabrani diusulkan menjadi pahlawan nasional. Putra kelahiran 10 Oktober 1904 dan wafat tahun 1984 itu, dinilai layak menjadi pahlawan nasional, karena jasanya dalam memperjuangkan terbentuknya Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan.


Bupati Baddrut Tamam mengungkapkan hal itu saat memberikan sambutan pada acara sosialisasi pengajuan M. Tabrani sebagai Pahlawan Nasional, yang digelar oleh Balai Bahasa Jawa Timur dengan Pemkab Pamekasan, di Hotel Frontone, Selasa (30/3/2021).

Selain dihadiri Bupati Baddrut Tamam, juga hadir Prof Aminuddin Aziz Kepala Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI, Mohammad Abdul Haq Kepala Pusat Pembinaan dan Sastra Kemendikbud RI, Dr Asrid Kepala Balai Bahasa Jawa Timur,  budayawan  RKH. Thoriq Syakrani, Ketua DPRD Fathorrahman dan Kepala Disdikbud Pamekasan Achmad Zaini.


“Kalau memang harus saya tanda tangan sekarang kepada Presiden mengusulkan bapak  Mohammad Tabrani menjadi pahlawan nasional, saya siap. Tetapi harus ada narasi yang mengikuti usulan itu, kenapa harus ada narasi yang harus mengikuti? Biar nanti tidak hanya usul, tetapi terlihat ada prestasi inspirasi semangat darah juang yang dikorbankan,” katanya.


Dia mengatakan saat ini ada beberapa tokoh di Madura yang sekarang sedang diusulkan menjadi pahlawan nasional, diantaranya KH Syeichona Muhammad Cholil Bangkalan yang juga sedang dirintis dikomunikasikan menjadi pahlawan nasional. Beliau merupakan ulama yag mengajak bukan mengejek, ulama yang banyak melahirkan tokoh nasional.  Beberapa santrinya di antaranya KH Hasyim As'yari sudah jadi pahlawan nasional.


Baddrut Tamam mengetahui  perjalanan hidup M. Tabrani yang pernah menjadi wartawan dan menjadi redaktur sebuah media. Pada saat itu M. Tabrani membangun organisasi kepemudaan lain yang orientasinya mencintai dan memperjuangkan Indonesia, yang terstruktur di berbagai daerah. 


“Hari ini Balai Bahasa Jawa Timur mengusulkan M. Tabrani menjadi pahlawan nasional, tentu kita akan merasa bangga, merasa suka atas ikhtiar Balai Bahasa Jawa Timur atas usulan ini.  Karenanya kita perlu menyampaikan terimakasih yang sedalam dalamnya atas ikhtiar ini.  Terima kasih juga pada seluruh elemen lain yang berkenan memberikan dukungan atas ikhtiar ini,” katanya. 


Baddrut Tamam mengusulkan agar elemen kepemudaan KNPI juga memberikan rekomendasi pada HMI dan PMI  dan seluruh ormen kepemudaan yang lain untuk memberikan penghargaan memberikan dukungan pada Tabrani.   Bukan hanya dari sisi bahasanya, tetapi dari sisi lain, sebagai pemuda pejuang yang pernah menjadi panitia utama Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda.


“Sesuatu yang luar biasa itu sedang kita rintis hari ini untuk  memberikan dukungan yang pasti kepada yang kita banggakan bersama Mohammad Tabrani orang Pamekasan yang waktu awal abad 19 sebagai pemuda pemberani, tidak hanya memperjuangkan bahasa tetapi jauh didalam itu semua adalah memperjuangkan kemerdekaan,” paparnya. 


“Pemuda dengan kegigihan dan keberaniannya ditengah himpitan hegemoni penjajahan VOC berani menyampaikan memilih bahasa Indonesia, memilih mendorong menjadi ketua panitia sumpah pemuda, ini sungguh luar biasa, taruhannya bukan hanya bahasanya yang hilang, tetapi orangnya yang hilang. Keberanian itulah yang kemudian kita butuhkan hari ini, persatuan kesetiakawanan itulah yang kita butuhkan.” ungkapnya. 

M. Tabrani penggagas Bahasa Persatuan Indonesia. Dia lahir di Pamekasan 10 Oktober 1904 dengan nama lengkap Mohammad Tabrani Suryowicitro dan meninggal tahun 1984 di Jakarta. Dia menggagas Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sejak bekerja sebagai insan wartawan di Harian Hindia Baru Juli 1925. Ketika itu dia menyebut Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan.

Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan M. Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman orang orang Indie Hindia Belanda yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku ataupun daerahnya masing masing, sebagaimana terbentuknya organisasi organisasi kepemudaan pada masa itu. (mas)
×
Berita Terbaru Update