-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

​KH Hasyim Asy’ari Hilang dari Kamus Sejarah RI, Ini Respon Keluarga Sang Kiai

Thursday, April 22, 2021 | 08:46 WIB Last Updated 2021-04-22T01:49:27Z
Yenni Wahid

JAKARTA (DutaJatim.com) - Keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari merespon  polemik hilangnya nama KH Hasyim Asy'ari dalam Kamus Sejarah Jilid I. Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau biasa disapa Yenny Wahid, cucu Mbah Hasyim Asy’ari, mengapresiasi jiwa besar, komitmen, dan respons cepat yang ditunjukkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim terhadap masalah tersebut. Padahal, penyusunan konten kamus tersebut tidak terjadi di zaman Nadiem sebagai Mendikbud.


Yenny mengatakan, kamus itu dibuat sebelum Nadiem menjadi menteri, sehingga tidak berada dalam supervisinya. “Saya mengapresiasi Pak Nadiem memberi respons cepat menyikapi masalah ini dan memberikan klarifikasi dan penegasan akan komitmen untuk terus memasukkan tokoh-tokoh yang punya jasa besar dalam proses perjalanan bangsa dalam materi pembelajaran anak-anak didik kita,” kata Yenny dalam keterangannya, Rabu (21/4/2021).


Berita Terkait:

-  GBN Minta Pemerintah Serius Tangani Pengaburan Sejarah Bangsa: Ganti Mendikbud dan Menko PMK!

- Nadiem Makarim Temui Megawati, Ada Apa?

Yenny menegaskan, KH Hasyim Asy’ari memiliki jasa yang sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Salah satunya mengobarkan Resolusi Jihad. Resolusi Jihad menjadi faktor terbesar yang menjadi kekuatan pemukul para pejuang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda. Kontribusi ini sangat fundamental bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.


Putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menilai Nadiem memiliki semangat dan komitmen untuk terus mengedepankan penghormatan terhadap jasa-jasa para tokoh bangsa. Ia pun berharap respons tersebut segera diikuti dengan langkah nyata berupa perbaikan penyusunan sejarah melalui proses yang lebih transparan dan partisipatif.




Yenny mengimbau agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera menarik draf yang sudah telanjur beredar dan melakukan revisi kontennya.


“Disisir lagi semua konten-kontennya apakah ada yang bertentangan dengan konteks sejarah kita. Apakah ada penghilangan atau omisi aktor-aktor sejarah kita yang penting tidak masuk di dalamnya. Atau justru ada memasukkan tokoh-tokoh yang sebenarnya musuh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, “ kata Yenny.  


Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, juga angkat bicara terkait hilangnya nama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari dari kamus sejarah Indonesia. 


Humas Pesantren Tebuireng Nur Hidayat mengatakan, berkenaan dengan beredarnya softcopy Kamus Sejarah Indonesia Jilid I (Nation Formation) dan Jilid II (Nation Building) yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pesantren Tebuireng Jombang merasa perlu menyampaikan pernyataan sikap yakni, naskah tersebut sama sekali tidak layak dijadikan rujukan bagi praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia, karena banyak berisi materi dan framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama, terutama peran Hadratus Syaikh KH Mohammad Hasyim Asy'ari.


”Di antara framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama sebagaimana dimaksud dalam butir 1 (satu) di atas adalah tidak adanya nama Nahdlatul Ulama dan KH Hasyim Asy'ari dalam Jilid I dan Jilid II Kamus Sejarah Indonesia tersebut,” ujarnya kemarin. 


Jika dicermati lebih dalam, narasi yang dibangun dalam kedua jilid Kamus Sejarah Indonesia tersebut tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, karena cenderung mengunggulkan organisasi tertentu dan mendiskreditkan organisasi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa naskah tersebut tidak layak menjadi rujukan para praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia. 


Di luar itu, banyak kelemahan substansial dan redaksional yang harus dikoreksi dari konten Kamus Sejarah Indonesia tersebut. 


Sejarah sebuah bangsa sangat penting untuk membangun peradaban di masa yang akan datang. Tidak ada satu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya. Karena itu, penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa. 


”Berkenaan dengan hal-hal tersebut, Pesantren Tebuireng Jombang menuntut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menarik kembali naskah tersebut dan meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus sejarah tersebut,” katanya. (tmp/sdn)

×
Berita Terbaru Update