-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan, Begini Hukumnya

Monday, April 12, 2021 | 08:23 WIB Last Updated 2021-04-12T02:18:49Z

 


SETIAP menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri umat Islam memiliki tradisi nyekar ke makam orang tua yang sudah meninggal dunia. Hukum nyekar atau ziarah kubur ini masih jadi perdebatan meski sudah jadi tradisi umat Islam sejak lama. Bahkan sebelum Islam masuk Indonesia, sudah ada tradisi itu. 

Biasanya orang yang mempermasalahkan ziarah kubur atau nyekar khawatir tradisi itu hukumnya bidah. Bahkan syirik. Apa benar demikian?

Ya, tentu, boleh saja orang berpendapat demikian. Yang penting jangan memaksakan untuk menyalahkan atau memusuhi orang lain dengan tradisinya masing-masing tersebut. Jangan merasa paling benar dalam beragama, kecuali terus berdiskusi atau dialog untuk mencari kebenaran dengan argumentasi atau dalil dalil. Adu ilmu lebih mulia ketimbang adu kekuatan apalagi kekerasan.

Salah satu dalil itu disampaikan Pemimpin Majelis Ar-Raudhah di Kota Solo, Habib Novel Alaydrus. Mengutip detik.com, Beliau menyitir sebuah hadis populer yang menceritakan Nabi Muhammad SAW pernah menancapkan sebatang dahan kurma yang masih basah daunnya ke dua makam yang dilewatinya. 

Kepada para sahabat yang bertanya Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hal itu dimaksudkan dengan harapan agar jenazah yang tengah disiksa di dalam kubur mendapat keringanan selama batang pohon tersebut masih ada. 

Para ulama lalu menjelaskan, apa yang masih hidup akan berdzikir kepada Allah. 

"Karena di kita tak ada pelepah kurma, lalu diganti dengan menaburkan bunga yang warna dan aromanya enak dicium. Itulah fenomena yang dilakukan orang -oramg tua kita di Indonesia," kata Habib Novel Alaydrus saat ditemui tim Blak-blakan di kediamannya, Minggu (11/4/2021).

Tradisi berziarah sebelum Ramadhan ini, kata Beliau, dilakukan sebagian besar ulama di Indonesia juga untuk membudayakan silaturahmi baik di antara masyarakat mau pun dengan mereka yang telah berpulang. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan "nyadran".

Badrul Tamam dalam tulisannya di voa-islam.com mengutip pendapat ulama
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah yang pernah ditanya, "Apakah ziarah kubur pada hari-hari raya halal atau haram?".

Beliau menjawab:

لاحرج في ذلك، في أي وقت، لكن تخصيصها بوقت العيد ما يصلح، إذا كان لقصد أن يوم العيد أفضل أو كذا، أما إذا كان التخصيص من أجل الفراغ ـــ فلا حرج وإلا فالزيارة ليس لها وقت معلوم، يزورها في الليل أو في النهار في أيام العيد أو في غيره ليس لها حد محدود، ولا زمان معلوم والرسول عليه الصلاة والسلام قال: (زوروا القبور فإنها تذكركم الآخرة)، ولم يحدد وقتاً، فالمؤمن يزورها في كل وقت في الليل، والنهار في أيام العيد، وغيرها ولا يخصص يوم معين لذلك بقصد أنه أفضل من غيره، أما إذا خصصه؛ لأنه لا فضاء له، ما عنده وقت إلا ذلك الوقت فلا بأس بذلك

“Hal itu (ziarah kubur) tidak mengapa. Kapan saja boleh. Tetapi mengkhususkannya pada hari raya tidak benar. Yakni apabila mempercayai bahwa ziarah pada hari raya lebih utama atau semacamnya. Adapun apabila pengkhususan dikarenakan waktu yang luang, maka tidak mengapa karena ziarah tidak ada waktu yang khusus. Boleh berziarah di malam hari atau siangnya. Pada hari-hari raya atau selainnya. Tidak ada ketentuannya. Tidak ada waktu yang khusus, karena Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda: "Ziarahilah kuburan, karena itu dapat mengingatkan kepada kalian akhirat," dan Beliau tidak menentukan waktunya. Maka setiap muslim dapat menziarahinya di setiap waktu. Di malam hari dan siangnya. Pada hari-hari raya dan lainnya. Namun tidak mengkhususkan hari tertentu dengan maksud bahwa hari itu lebih utama dari lainnya. Adapun jika mengkhususkannya karena tidak ada waktu selain itu maka tidak mengapa.” (Fatwa berjudul “Ziarah Kubur fi Ayyamil ‘Ied).

Namun Beliau juga mengingatkan tradisi menabur bunga atau nyekar tidak ada dalilnya.


Mensucikan Diri

Semakin mendekati awal Ramadhan juga dikenal tradisi padusan (menyucikan diri dengan mandi). Hal ini, kata Habib Novel, dilatarbelakangi keyakinan bahwa Ramadhan adalah bulan mulia sehingga fisik dan hati harus dibersihkan.

"Membersihkan hati itu idealnya dengan saling meminta maaf dan memaafkan. Sebab Ramadhan itu bukan bulan amal melainkan bulan panen pahala sehingga disarankan memperbanyak ibadah agar bisa menuai pahala yang berlimpah," katanya.

Supaya bisa memperbanyak ibadah dan memanen pahala, kata Habib Novel, hendaknya menahan diri untuk tidak berlebihan setidaknya saat berbuka puasa. (det/wis)


×
Berita Terbaru Update