Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hari Ini Presiden Jokowi Resmikan PLTSa Benowo, Ibrahim Hasyim: 11 Kota Susul Surabaya

Thursday, May 6, 2021 | 11:56 WIB Last Updated 2021-05-06T04:57:15Z
PLTSa Benowo Surabaya diresmikan Presiden Jokowi Kamis (6/5/2021)

SURABAYA (DutaJatim.com) -  Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Benowo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/5/2021). Surabaya menjadi kota pertama di antara 12 kota lain di Indonesia yang akan mengolah sampah menjadi energi listrik sebesar 10 MW dari volume sampah  1.500 ton/hari dengan nilai investasi sekitar US$ 49,86 juta.


Untuk itu praktisi dan pengamat energi, Dr Ibrahim Hasyim, mendukung kota-kota lain yang produksi sampahnya sudah mencukupi untuk sebuah PSEL atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTsa) agar segera membangun PLTSa.  Hal ini karena dengan cara itu kita bisa menghasilkan listrik dari sumber energi terbarukan, sekaligus bisa meningkatkan lingkungan yang sehat. 


"Kita sedang mengembangkan energi terbarukan. Sampah, terutama di kota besar, tidak pernah habis dan teknologinya pun sudah tersedia. Teknologi listrik untuk biomasa ini bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di dalam negeri. Jadi PLTsa di Surabaya yang pertama terbesar,  dan segera juga disusul di 12 kota lainnya," kata Ibrahim Hasyim dikutip dari koran Global News, Kamis (6/5/2021).


Investasi energi terbarukan seperti PLTSa yang sangat besar disebut-sebut sebagai kendala untuk membangun PSEL/PLTSa. Namun, kata Ibrahim Hasyim, semua investasi di awal produksi untuk energi terbarukan selalu membutuhkan biaya besar tapi akan semakin murah seiring berjalannya waktu. Karena itu Pemerintah harus turun tangan membantu dengan memberikan insentif pada proyek energi terbarukan seperti PLTSa ini.


"Semua saja pada tahap awal pasti mahal. Dan Pemerintah harus memberi insentif dengan mengkapitalisasi nilai perbaikan lingkungan sekiranya masih ada sampah yang harus diurus dan penyakit yang ditimbulkan," katanya.


Sebelumnya Walikota Surabaya Eri Cahyadi saat meninjau kesiapan peresmian PSEL Benowo membenarkan bahwa PSEL Benowo merupakan pengolah sampah menjadi energi listrik pertama yang berkapasitas listrik terbesar se-Indonesia. Dia membenarkan PSEL Benowo sudah siap diresmikan oleh Presiden Jokowi Kamis hari ini.


"Semua sudah berjalan dengan baik. Tadi boilernya dan turbinnya berjalan dengan baik. Alhamdulillah sudah sesuai dengan apa yang ada di kontrak, sehingga tinggal diresmikan oleh Pak Presiden," kata Eri.


Bahkan, saat ini PSEL Benowo sudah bisa menghasilkan listrik 11 megawatt dari pengolahan 1.000 ton sampah per hari. “Sesuai kontrak 1.000 ton per hari harus bisa diolah menjadi listrik, tentu ini sangat bermanfaat bagi warga,” ujarnya. Sebelumnya data Kementerian ESDM, PSEL Benowo  menghasilkan  listrik sebesar 10 MW dari volume sampah  1.500 ton/hari dengan nilai investasi sekitar US$ 49,86 juta.


Selanjutnya dari 11 megawatt yang dihasilkan PLTSa Benowo itu nantinya dijual kepada PLN sebanyak 9 megawatt untuk kemudian disalurkan ke warga. Sedangkan 2 megawatt dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan operasional PLTSa Benowo dan sisa 1 megawatt redundant.


PLTSa yang Lain


Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, ada 12 Pembangkit Listrik Tenaga Sambah (PLTSa) yang bakal beroperasi hingga 2022.  "Sesuai rencana, 12 pembangkit tersebut akan mampu menghasilkan listrik hingga 234 Megawatt (MW) dari sekitar 16 ribu ton sampah per hari," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, beberapa waktu lalu.


Dia lalu merinci, selain  PLTSa Benowo Surabaya, ada PLTSa Bekasi dengan nilai investasi sebesar US$ 120 juta dengan daya 9 MW. Selanjutnya tiga kota, yakni Surakarta (10 MW), Palembang (20 MW), dan Denpasar (20 MW). Total investasi untuk menghasilkan setrum dari tiga lokasi yang mengelola sampah sebanyak 2.800 ton/hari sebesar US$ 297,82 juta.


Selain itu juga Jakarta sebesar 38 MW dengan investasi US$ 345,8 juta, Bandung dengan kapasitas 29 MW dan investasi sebesar US$ 245 juta, Makassar, Manado, dan Tangerang Selatan dengan masing-masing kapasitas 20 MW dan investasi yang sama, yaitu US$ 120 juta.


Dari 12 usulan pembangunan PLTSa, 4 di antaranya yakni  Surabaya, Jakarta, Bekasi, dan Solo, dikebut pembangunannya.  Bahkan, pembangunan PLTSa di kota-kota tersebut dimonitor langsung oleh Presiden Joko Widodo. "Kota-kota tadi termasuk di Bali menjadi prioritas utama penanganan sampah di bawah pengawasan Presiden Joko Widodo," kata Agung.


Sebelumnya, pembangunan PLTSa sempat disinggung oleh pemerintah karena dinilai lambat. PT PLN (Persero) pun disebut-sebut menjadi salah satu penyebabnya. PLN sendiri menyerahkan pembangunan PLTSa kepada pemerintah daerah masing-masing. PLN akan membeli listrik PLTSa dengan harga US$ 13,3 per kWh mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.


PLN sendiri akan memanfaatkan sampah sebagai energi listrik pada opsi terakhir bila sampah tidak dapat lagi memenuhi kriteria reduce, reused, dan recycle (3R). Kementerian ESDM juga pernah merilis data perkembangan pengoptimalan pembangkit listrik dari sampah. Dari paparan tersebut diketahui, tantangan salah satu pembangkit listrik energi baru ini kerap hadir dari pemerintah daerah.


"Adanya persepsi yang kurang tepat dari Pemda bahwa penjualan listrik menggantikan kewajiban Pemda untuk mengelola sampah melalui pembayaran Biaya Layanan Pengelolaan Sampah (BPLS)," tulis di paparan ESDM tersebut. (gas, nas)


10 Proyek PLTSa di Indonesia

----------------------------------------------------------------------------------------------

Lokasi PLTSa           Investasi                         Listrik               Mengolah Sampah  

-------------------------------------------------------------------------------------

Surabaya                US$ 49,86 juta                  10 MW              1.500 ton/hari

Bekasi                    US$ 120 juta                      9 MW                  -

Surakarta                US$ 297,82 juta                10 MW              2.800 ton/hari 

Palembang              US$ 297,82 juta                 20 MW                2.800 ton/hari 

Denpasar                 US$ 297,82 juta              20 MW                2.800 ton/hari 

Jakarta                     US$ 345,8 juta                38 MW                -

Bandung                 US$ 245 juta                      29 MW               -

Makassar                US$ 120 juta                    20 MW               -

Manado                  US$ 120 juta                  20 MW               -

Tangerang Selatan  US$ 120 juta                     20 MW                -

-------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Kementerian ESDM 





No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update