-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kiprah Muslimat NU Malaysia di Tengah Gelombang 2 Covid-19: Menolong WNI Terdampak hingga Galang Dana untuk Pondok Annahdhoh

Friday, June 11, 2021 | 00:18 WIB Last Updated 2021-06-10T17:18:14Z
Mimin Mintarsih bersama keluarga di Malaysia.


Sama dengan India,  Malaysia  juga menghadapi gelombang kedua  pandemi Covid-19. Negeri jiran ini pun menerapkan  kebijakan lockdown sejak 1 Juni hingga 14 Juni 2021. Semua sektor ditutup  kecuali yang berurusan dengan "perubatan" dan juga restoran atau aktivitas guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.   Kondisi ini membuat masyarakat sangat tertekan. Untuk itu PCI Muslimat Nahdlatul Ulama (PCI MNU) Malaysia turun tangan mendata WNI yang terdampak dan membutuhkan pertolongan.


Oleh Gatot Susanto


KETUA PCI MNU Malaysia, Mimin Mintarsih, termasuk yang sibuk mendata WNI di negeri jiran yang mengalami kesulitan menghadapi pandemi Covid-19 yang kembali mengganas di Malaysia. Data WNI yang diperoleh dari lapangan itu kemudian diserahkan ke KBRI. 


"Setelah diverifikasi, pihak KBRI yang akan memberi bantuan kepada WNI terdampak Covid-19 tersebut," kata Dra Mimin Mintarsih, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU (PCI MNU) Malaysia kepada DutaJatim.com, DutaIndonesia.com, dan Global News Rabu (9/6/2021).


Pemerintah Malaysia menerapkan kebijakan sangat ketat saat lockdown. Misalnya saat Lebaran Idul Fitri 2021 kemarin, warganya dilarang ke luar rumah. Bahkan untuk berkunjung ke rumah warga dalam rangka silaturahim saling memaafkan pun dilarang. 


"Lebaran kemarin memang kita semua tidak boleh keluar maupun menerima tamu. Bahkan ke tetangga juga tidak boleh saling berkunjung, bila didapati ada tamu atau kita yang ke rumah orang lain, pasti didenda RM 2000 atau Rp 6 juta," katanya.


Maka, selama pandemi Covid-19 belum ada pembelajaran tatap muka (PTM) penuh.  Yang dilakukan baru dua atau tiga hari sekali dalam seminggu. Yang lain pembelajaran secara online. "Tapi sekarang total online. Selanjutnya untuk keputusan resmi pendidikan tatap muka belum ada, menunggu kebijakan dari Pemerintah," katanya. 


Sama dengan dunia pendidikan, Pemerintah Malaysia juga belum memutuskan soal pemberangkatan jamaah haji. "Sampai saat ini saya belum mendengar keputusan resmi tentang pemberangkatan haji tahun ini," tambahnya.


Yang jelas dampak pandemi Covid-19 terhadap kehidupan warga sangat besar dan luas. Termasuk pekerja migran Indonesia di negeri jiran. Karena itu, Muslimat NU Malaysia aktif memantau anggotanya yang membutuhkan pertolongan. "Yang sekarang  sedang dilakukan oleh seluruh ormas, termasuk PCI Muslimat NU Malaysia, adalah sedang mendata orang-orang yang memerlukan bantuan tadi. Dan data itu kami kirimkan ke KBRI untuk dilakukan pemberian bantuannya," katanya.

Mimin Mintarsih


Bukan hanya itu, di tengah pandemi Covid-19 ini, program Muslimat NU Malaysia juga terus berjalan.  Misalnya Tadarrus Al Quran via aplikasi Whatsapp (WA) satu minggu 5 khataman dan secara rutin mengikuti program-program  dari PP Muslimat NU di Jakarta. Selain itu juga masih rutin mengumpulkan dana untuk pembangunan Pondok Annahdhoh. 


"Untuk jangka panjang selama pandemi ini vakum sebab kami belum bisa berkumpul beramai-ramai.  Selama pandemi ini memang banyak program Muslimat, baik pendidikan maupun sosial, kami  pending. Biasanya untuk pendidikan kami mengadakan Kem Ibadah semacam pesantren kilat dan sekarang juga PCI MNU Malaysia punya sanggar bimbingan kerjasama dengan KBRI KL, khususnya dengan Atase Pendidikan. Hal ini untuk anak-anak  Indonesia yang gak punya dokumen dari kelas 1-6, sekarang belajar secara online.  Untuk bidang sosial juga biasanya kami mengadakan sunatan massal untuk anak yatim dan kurang mampu secara gratis," katanya.


Mimin memimpin Muslimat NU selama dua periode. Ibu dari 5 orang anak dan semuanya warga negara Malaysia itu berusaha membantu WNI dalam menghadapi masalah pandemi ini. 


"Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir," kata perempuan yang semua putra putrinya mendapat beasiswa dari Kerajaan Malaysia ini.



Mendirikan NU


Perempuan kelahiran Kabupaten Cirebon  ini bersama suaminya yang asal Kabupaten Kuningan berusaha mengembangkan  NU dan badan otonomnya di negeri jiran Malaysia.  Mimin memimpin Muslimat NU dan Ustadz Liling, sang suami, menjadi salah seorang perintis NU. Saat itu  pada tahun 1999, pasutri ini  bersama tim 9, di antaranya Hj Nasikhin, Miftahurrohim, H Hamdun, Mislakhuddin, bersepakat mendirikan NU dan banomnya dalam rapat di kediaman pasangan Ustad Liling dan Mimin di Kuala Lumpur. Mimin  kemudian merintis berdirinya Muslimat yang juga dilakukan di kediamannya.  Saat ini Mimin dan suaminya tinggal di kediaman No 52 lorong Sg Mulia 5 BT 5 Jalan Gombak 53000 Kuala Lumpur.


Mimin menceritakan, dirinya merantau ke Malaysia sejak 1994. Setelah lulus dr IKAHA Tebuireng Jombang dia ikut suaminya, Ustadz Liling, mengajar mengaji di negeri itu. Sebagai seorang santri dan Nahdliyin, sang suami dan dirinya berkeinginan untuk mengembangkan NU di negeri asing.

Bersama ibu-ibu Muslimat NU Malaysia


Sebelum mendirikan Muslimat, Mimin Mintarsih pernah menjadi pengurus Fatayat NU yang dirintis oleh mahasiswi-mahasiswi Indonesia yang ada di Malaysia pada tahun 2005. Mimin menjadi pengurus Fatayat NU selama 6 tahun. Kemudian dia menjadi ketua selama 3 tahun. 


“Yang mempunyai  ide untuk mendirikan Fatayat adalah para mahasiswi yaitu Alimul Muniroh, Qorrutl A'yun, Aliyah Alimul dan  Fatonah. Mereka semua sudah tidak ada di Malaysia,” katanya. 


Setelah para mahasiswi itu membentuk Fatayat NU Malaysia, beberapa hari  kemudian mereka menemui  Mimin Mintarsih. Mereka memintanya untuk bergabung di kepengurusan, serta ikut mengembangkan dan mengaktifkannya.  “Kalau Muslimat NU didirikan di rumah saya dan saya sendiri perintisnya,” katanya.


Setelah Muslimat dibentuk, hal pertama yang dilakukan Mimin adalah menemui ibu-ibu Nahdliyin asal Indonesia yang ada di Malaysia untuk meyakinkan bahwa kehadiran Muslimat NU tidak hanya untuk tahlil dan Yasinan saja, tapi juga mampu memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan seperti bantuan anak-anak yatim, ibu tunggal (janda), sunatan massal gratis, dan juga mengadakan beberapa peringatan hari-hari besar Islam. Apalagi saat pandemi Covid-19 sekarang, peran Muslimat NU sangat dibutuhkan masyarakat.


“Alhamdulillah untuk Muslimat saya sangat mudah untuk mencari anggota atau membentuk ranting  karena rata-rata di Malaysia, baik WNI maupun TKW,  berumur lebih dari 40 tahun dan memang mereka sudah aktif di daerah mereka masing-masing. Bahkan masih merindukan program-program NU dan pengurus Muslimat rata rata sudah berdomisili di Malaysia antara 20 tahun sampai 35 tahun," katanya.


Menurut Mimin Mintarsih, saat ini Muslimat NU Malaysia memiliki 7 ranting yakni Ranting MNU Kg Changkt Gombak, Ranting MNU Chowkit,  Ranting MNU Sg Chinchin, Ranting MNU Cheras, Ranting MNU Ampang Campuran,  Ranting MNU Puchung, Ranting MNU Pantai Dalam. (*)


×
Berita Terbaru Update