-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kontroversi Pembatasan Pengeras Suara di Masjid Arab Saudi Berlanjut

Tuesday, June 1, 2021 | 12:13 WIB Last Updated 2021-06-01T05:14:06Z

 


MAKKAH (DutaJatim.com) -  Pemerintah Arab Saudi  membatasi penggunaan pengeras suara di masjid. Keputusan itu memicu kontroversi di masyarakat sebab selama ini sudah lumrah masjid memakai pengeras suara untuk acara keagamaan.


Namun, Menteri Urusan Islam Arab Saudi Abdullatif al-Sheikh membela keputusan Pemerintah tersebut.
Seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (1/6/2021), Al Sheikh mengatakan perintah membatasi volume pengeras suara di masjid dipicu oleh keluhan di kerajaan itu tentang kebisingan yang berlebihan. 

Dalam kebijakan utama yang diumumkan pekan lalu di Arab Saudi, Kementerian Urusan Islam mengatakan pengeras suara di masjid harus diatur tidak lebih dari sepertiga volume maksimumnya.


Perintah tersebut  juga membatasi penggunaan pengeras suara hanya untuk mengumandangkan azan dan iqomah. Keputusan itu langsung memicu reaksi di media sosial.

Menteri Urusan Islam Abdullatif al-Sheikh mengatakan perintah itu sebagai tanggapan atas keluhan warga bahwa volume keras menyebabkan gangguan pada anak-anak serta orang tua.

"Mereka yang ingin salat tidak perlu menunggu ... azan imam," kata Sheikh dalam sebuah video yang diterbitkan oleh televisi pemerintah.

"Mereka harus berada di masjid lebih dulu," katanya.

Sheikh mengatakan, beberapa saluran televisi juga menyiarkan doa dan pembacaan Al Quran. Karena itu, dia pun menyarankan pengeras suara masjid untuk tujuan yang terbatas.

Di negara yang memiliki puluhan ribu masjid itu, banyak yang menyambut baik langkah untuk mengurangi tingkat desibel tersebut.

Namun, keputusan itu juga menimbulkan kebencian di media sosial, dengan tagar yang menyerukan pelarangan musik keras di restoran dan kafe. Aksi ini juga  banyak mendapat dukungan.

Sheikh mengatakan kritik terhadap kebijakan itu disebarkan oleh "musuh kerajaan" yang "ingin membentuk opini publik".


Kebijakan tersebut mengikuti gerakan liberalisasi besar-besaran dari penguasa de facto, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang telah mendorong era keterbukaan baru.


Pangeran muda itu telah melonggarkan sejumlah pembatasan sosial di kerajaan ultra-konservatif itu, mencabut larangan bioskop dan pengemudi wanita selama puluhan tahun serta mengizinkan konser musik campuran gender.

Pangeran Mohammed telah menjanjikan Arab Saudi yang "moderat" ketika ia mencoba untuk mematahkan citra kerasnya, sementara secara bersamaan menindak keras perbedaan pendapat.

Selama tiga tahun terakhir, kerajaan telah menangkap puluhan aktivis perempuan, ulama, jurnalis, serta anggota keluarga kerajaan. Ini ironis. Karena itu semua kebijakan ini bersifat sangat  politis untuk kepentingan sang pangeran. (det/wis)

×
Berita Terbaru Update