Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Diaspora Indonesia di Amerika Senang Bisa Berkumpul Lagi, Umat Islam Salat Idul Fitri di Masjid Al Hikmah dan Masjid NAM New York

Sunday, May 1, 2022 | 00:12 WIB Last Updated 2022-04-30T17:12:40Z

 

Konjen RI New York, Bapak Dr. Arifi Saiman, MA melakukan pertemuan dengan sejumlah diaspora senior di Queens, New York pada tanggal 4 Maret 2022. Pertemuan berlangsung hangat dengan penuh dengan nuansa kekeluargaan.


NEW YORK (DutaJatim.com) - Umat Islam di New York, Amerika Serikat, khususya diaspora asal Indonesia, berlebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah pada Senin 2 Mei 2022. Mereka akan melakukan Salat Idul Fitri setidaknya di dua masjid. Pertama di Masjid Al Hikmah. Kedua, di Masjid Nurul Amir Mukmin (NAM). 


"Selain itu, biasanya ada open house. Kami bersilaturahmi melepas kangen sesama orang muslim dari Indonesia, setelah dua kali Idul Fitri tidak bisa berkumpul karena pandemi Covid-19. Pandemi juga membuat acara pertemuan para senior club ditiadakan.  Kami senang sekarang bisa berkumpul lagi. Pada 4 Maret 2022 lalu kami sejumlah diaspora senior sempat mengadakan pertemuan, dihadiri Konjen RI New York, Bapak Dr. Arifi Saiman, MA.  Acara pertemuan dengan sejumlah diaspora senior itu dilakukan di Queens, New York, yang berlangsung hangat dengan nuansa penuh kekeluargaan," kata salah seorang diaspora senior, Mustari Siara, kepada DutaJatim.com, Sabtu 30 April 2022.


Sesuai undangan dari panitia, kata Mustari yang juga sempat menjadi aktor di Indonesia, untuk salat Idul Fitri di Masjid  Nurul Amir Mukmin ll, 62-17 Northern blvd, Woodside NY 11377, diadakan pada hari Senin tanggal 2 Mei 2022 pukul 9.00 pagi. Bertindak selaku imam dan khotib adalah Ustad Ahmad Mutohar. 


"Jamaah langsung melakukan silaturahmi setelah salat Idul Fitri. Itu sesuai undangan panitia Salat Idul Fitri dari Masjid NAM untuk jamaah dari KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) dan  teman-teman lain yang  berada di NY," katanya.


Masjid Al Hikmah sudah sangat terkenal di Kota New York. Begitu pula Masjid NAM. Hanya saja, Masjid NAM menjadi menarik karena didirikan oleh diaspora Indonesia yang sukses di negeri Paman Sam. Beliau adalah H. Amir Sumaila. 


Amir merupakan perantau asal Sulawesi Selatan yang sudah puluhan tahun bermukim atau  sudah menjadi warga negara (citizen) setempat. Bahkan  kini masih aktif sebagai pegawai negeri kota New York.


Pria kelahiran Makassar, 5 Juli 1950 yang memiliki tiga anak itu masuk daratan Amerika, tepatnya di California, pada Maret 1985. Setahun kemudian dia berpindah masuk ke New York hingga hari ini. 


Mengutip pinisi.co.id, Amir  merantau ke Amerika karena dikirim oleh perusahaan tempatnya  bekerja yakni ekspedisi LTH. "Setahun kemudian, saya memilih pindah dan menetap di kota New York, mulai dengan usaha sendiri di bidang properti, building, dan apartemen, kemudian saya daftar dan bekerja sebagai pegawai kota di bidang pertanaman,” kata Amir Sumaila.


Dari juru bangunan, Amir menjelma menjadi lender (orang yang menyewakan) rumah dan apartemennya ke orang lain, termasuk ke penduduk asli, orang Amerika dan Meksiko.


“Saya punya gedung, bangunan, disewa oleh orang Meksiko, dijadikan restoran. Saya lahir di Makassar, ibu saya berasal dari Jeneponto dan Bapak saya berasal dari Toli-toli, Sulawesi Tengah, serta istri saya bernama Hartati Sumaila, asal Makassar juga,” kata Amir.


Amir mengenal KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) sejak tahun 1999. Dia pernah dipilih dan menjabat Ketua Badan Pengurus Luar Negeri (BPLN) KKSS New York, 2006-2015. Lalu dilanjutkan oleh menantunya, Hamzah Lopo selama setahun. Dan sejak tahun 2017, Ketua KKSS dijabat oleh Syaiful Hamid, asal Luwu, yang juga sudah puluhan tahun di New York.


“Ada 20 Kepala Keluarga dan 60-an warga KKSS di New York. Kami sering kumpul dan saling membantu dalam suka-duka, termasuk menghadiri acara pernikahan,” kata Amir.


Ketika ditanya, apa kendala bagi perantau asal Sulawesi Selatan, Amir menjawab, “Minimal dua hambatan: faktor bahasa Inggris, dan legalitas atau visa kunjungan. Idealnya mereka datang dengan visa pelajar atau pekerja profesional yang mendapat jaminan dari perusahaannya, agar mereka hidup nyaman, legal, dan fokus belajar atau bekerja,” pungkasnya.


Satu hal yang menarik dikenang dan itu bisa dibilang jejak kesuksesan dari kerja keras Amir Sumaila adalah karena dia telah memiliki tiga rumah di New York dan mengelola tiga masjid, yakni dua masjid di New York, beralamat di 25-38 82 Street East Elmhurst NY 11370 dan 62-17 Northern Blvd Woodside, NY11377, serta satu masjid plus pesantren di Makassar, di Jalan Ballaparang Nomor 27, Rappocini. Ketiganya bernama Masjid Nurul Amir Mukmin. (nas)


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update