Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gelisah Aubrey Newman, Sang Guru Para Jenderal: Bagaimana Jenderal Buruk Bisa Meraih Pangkat Tinggi?

Thursday, September 15, 2022 | 07:22 WIB Last Updated 2022-09-15T00:22:01Z



Jagad  media di Tanah Air sedang ramai membicarakan topik terkait jenderal. Jenderal polisi dan juga jenderal militer. Woouuw, alangkah ramainya.


 Oleh: Djoko Pitono

 (Veteran Jurnalis, Editor Buku)


DI Korp Kepolisian RI, Anda sudah sangat tahu, Ferdy Sambo. Seorang jenderal bintang dua – sekali lagi bintang dua – menjadi tersangka yang membunuh ajudannya sendiri. Kemudian diberitakan berbohong dengan mengarang skenario khayalannya. Kemudian, sang jenderal memerintahkan puluhan bawahannya untuk mengamankan skenarionya itu. 

Skenario penuh keanehan itu akhirnya terbongkar dan sang jenderal ditahan, menunggu pengadilan pidana. Juga berpuluh-puluhan perwira, termasuk jenderal, dan bintara bawahannya, ikut ditahan. Ada juga yang dipecat dari Polri.


Di Korp Kemiliteran, terutama Angkatan Darat, media juga meramaikan tengara “disharmoni” hubungan antara Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Masalahnya Anda juga sudah tahu.


Sementara kalangan DPR mengetahuinya hingga mereka meminta kedua pejabat tinggi militer itu  menjelaskan masalahnya. Dan biasa, saling kritik pun mencuat. Beberapa anggota DPR dikritik sering asal bunyi, sementara ada anggota menilai sang jenderal arogan karena punya beking berpengaruh. Beberapa jenderal, terutama pensiunan, coba dihubungi wartawan. Tapi umumnya tidak sampai viral.


Tak pelak, perbincangan terkait jenderal melebar liar ke mana-mana. Orang jadi dengan mudah mempertanyakan, siapa perwira menengah senior di Polri (Komisaris Besar) bisa jadi jenderal? Siapa pula perwira menengah senior di Korp Militer (AD, AL, dan AU) bisa jadi Jenderal, Laksamana, dan Marsekal?


Sudah barang tentu, masing-masing korp di Republik ini punya aturan, tradisi dan etika yang berbeda dengan negara-negara lain. Tetapi tentu ada juga yang “sama dalam standar”. Misalnya, seorang Kolonel AD adalah ahli strategi andal, pintar berkomunikasi, dan etikanya bagus. Hal itu bisa dilihat dari pendidikan-pendidikan berjenjang yang dijalaninya. Maka dia bisa dicalonkan jadi jenderal.


Hal yang sama juga berlaku di Korp Polri. Semua rekam jejak anggota Polri  tercatat, dari berbagai skill hingga etika seorang perwira. Etika seorang perwira, atau bisa disebut ksatria, bagaimana bila melakukan kesalahan atau kegagalan? Ini bisa menyangkut tradisi. Tetapi secara umum adalah sama. Bila merasa salah atau gagal, seorang perwira jelas harus minta maaf. Hal ini bisa diikuti salah satu konsekuensinya. Mengundurkah diri.


Sebagai contoh, Itaru Nakamura, Kepala Badan Kepolisian Jepang, pada 25 Agustus 2022,  mengumumkan pengunduran dirinya setelah terbunuhnya mantan perdana menteri Shinzo Abe awal bulan itu.


Pada konferensi pers di Tokyo, Itaru Nakamura, dengan menyebut berbagai kegiatan publik penting seperti pemakaman kenegaraan Abe bulan September dan pertemuan G-7 di Hiroshima Mei mendatang, mengatakan kepada para wartawan bahwa ia percaya perlu ada rencana keamanan untuk mencegah insiden seperti pembunuhan itu terjadi lagi. Abe ditembak dan tewas pada 8 Juli pada sebuah acara kampanye di Nara, kota di bagian Barat, oleh pelaku yang menggunakan senjata rakitan. Tersangka pelaku, Tetsuya Yamagami, ditangkap di lokasi kejadian beberapa saat setelah penembakan dan masih menjalani evaluasi kejiwaan.


Para pakar telah menyatakan bahwa keamanan pada acara tersebut sangat kurang, dan bahwa para pengawal seharusnya dapat menyelamatkan Abe dengan membentenginya atau menariknya dari garis tembak hanya dalam 2,5 detik antara tembakan pertama yang meleset dan tembakan kedua yang mematikan.


Kepala Polisi Prefektur Nara Tomoaki Onizuka juga mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Kamis (25/8/2022). Juga diumumkan bahwa tiga eksekutif polisi Nara lainnya diperkirakan akan menghadapi tindakan disipliner, termasuk pemotongan gaji.


Jenderal-Jenderal Amerika


Di Amerika Serikat, etika seorang jenderal, bila merasa bersalah atau menghadapi tantangan yang kemungkinan di luar kemampuannya, umumnya juga bersikap ksatria. Meski tindakan-tindakan koruptif dan menyeleweng juga keniscayaan.


Salah satu contoh adalah Jenderal Austin Miller, Panglima Komando Pasukan AS di Afghanistan, mengundurkan diri pertengahan Juli 2021, sebagai langkah simbolis penarikan pasukan dari perang terpanjang Amerika Serikat. Ia ingin mundur menjelang akhir resmi misi militer di sana pada 31 Agustus, tanggal yang ditetapkan oleh Presiden Joe Biden saat dia ingin melepaskan Amerika dari perang dua decade tersebut.


Contoh lain amat banyak, termasuk kejadian-kejadian sekitar 10 tahun yang lalu. Lihat misalnya kasus Jenderal William Ward, Panglima Komando Pasukan AS di Afrika pada tahun 2012.


Suatu saat Jenderal Ward mengungkapkan kebanggaannya bahwa dirinya telah mendapatkan tempat dalam sejarah sebagai panglima militer AS pertama di kawasan benua tersebut.  Klaim Jenderal Ward tersebut memang benar. Tetapi yang tidak pernah disangkanya, barangkali, karier dirinya ternyata berakhir secara memalukan.


Pada  13 November 2012 dia diturunkan pangkatnya oleh Menteri Pertahanan Leon Panetta karena sering melakukan perjalanan dinas bermewah-mewah, dengan istri ikut serta pula. Dengan keputusan Menhan itu, Ward pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal. Selain itu, Ward juga diminta mengembalikan uang negara sebesar 83.000 dollar AS. 


Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dalam laporannya menyatakan, Jenderal Ward sering memperpanjang perjalanan dinasnya. Saat mengunjungi Bermuda, misalnya, Ward menginap di kamar suite bertarif 747 dollar semalam di Hotel Fairmont Hamilton Princes. Istrinya juga dicurigai menggunakan kendaraan dinas tanpa izin.

Laporan intelijen juga menemukan bahwa Ward melakukan perjalanan selama 11 hari ke Washington dan Atlanta bersama rombongan militer dengan menghabiskan dana 129.000 dollar, padahal perjalanan dinas resmi yang dilakukannya hanya selama tiga hari. Tujuan utama kunjungan tersebut ternyata untuk keperluan pribadi. 


Istri Ward disebut melakukan perjalanan dengannya menggunakan pesawat militer dalam 52 dari 79 perjalanan. Laporan itu juga menyebutkan, Jenderal Ward memperpanjang perjalanannya sebanyak tujuh kali untuk keperluan pribadi.


Kastaf Gabungan Angkatan Bersenjata AS sebenarnya telah mencoba membela Jenderal Ward dan meminta Menhan AS agar sang jenderal itu pensiun dengan status bintang empat. Terlalu berat bila pensiun dengan status bintang tiga dan harus mengembalikan uang sebesar itu. Tetapi Leon Panetta bersikukuh. Apalagi keputusan itu diambil setelah penyelidikan 17 bulan, sampai menunda pensiun Ward yang jadwalnya April 2011. 


Suatu hal yang biasa memang, jenderal-jenderal datang dan pergi. Satu saat diangkat untuk jabatan tertentu, lain kali diberhentikan. Tetapi masih untung kalau dipecat karena perselisihan menyangkut kebijakan dan pengambilan keputusan (eksekusi).


Mayjen Peter Fuller, misalnya, Wakil Panglima Misi Training NATO di Afghanistan, dipecat pada 5 November 2011 karena mengkritik Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Jenderal Stanley McChrystal, Panglima AS di Afghanistan, dipecat atas kritiknya terhadap beberapa pejabat tinggi pemerintah Obama dalam Majalah Rolling Stone. 

Sebelumnya, Menhan AS Robert M. Gates memecat Jenderal  David D.McKlerman, pendahulu McChrystal. Semua itu tentu beda dengan kasus Jenderal Ward yang dipensiun dengan penurunan pangkatnya karena skandal korupsi.


Kasus Jenderal Ward itu menunjukkan, tindakan korupsi memang universal sifatnya, tidak peduli di negeri maju yang sistem organisasi pemerintahannya lebih tertata baik. Seorang jenderal yang mestinya sudah ‘selesai’ urusan finansialnya, di negeri adikuasa lagi, ternyata masih terpikir melakukan korupsi seperti itu. Boleh jadi Ward berpikir, dirinya seorang jenderal bintang empat, seorang panglima militer, mana mungkin ada yang berani mempermasalahkan?


Namun kasus Ward juga menambah pelajaran bagi kita bahwa jenderal memang bermacam-macam kualitasnya, beragam kredibilitas dan integritasnya. Tergantung pula sejarah dan budaya militer di suatu negara. Ada jenderal yang lebih banyak mikir duit, korup, menumpuk aset haram di mana-mana dan sangat mempermalukan korp, keluarga, terutama anak-anaknya. Ada yang ucapan-ucapannya tidak bermutu, menyedihkan. Ada yang tampak penuh prestasi dan bersih namun begitu pensiun terungkap telah berselingkuh, seperti bos CIA Jenderal David Petraeus yang mundur awal November 2012. 


Ada yang biasa melakukan subordinasi alias membangkang, seperti di Pakistan dan Thailand yang puluhan kali dilanda kudeta militer. Tetapi kita juga mengenal jenderal-jenderal pintar dan kuat pula karakter-karakter pribadinya yang terjaga hingga mereka tutup usia. Inilah jenderal-jenderal yang hebat.


Jenderal Buruk, Pangkat Tinggi


Tentang hal itu, ada cerita menarik dari Mayjen Aubrey “Red” Newman dari Amerika Serikat, seorang pahlawan Perang Dunia II. Sebagai pengamat militer, penulis buku, dan guru yang dihormati para jenderal, dia sering mendapat pertanyaan,”Bagaimana jenderal-jenderal yang buruk bisa mencapai pangkat tinggi mereka?”


Dalam bukunya, More on Human Element in Leadership (1981), yang telah diterbitkan di Indonesia dengan judul “Ikuti Aku II” (2003), Jenderal Newman kesal atas pertanyaan yang mempertanyakan seleksi calon jenderal. Namun dia bisa memaklumi. “Itu-itu lagi. Saya hafal dengan jebakan seperti ini, namun selalu ada kesulitan menghadapimya. Secara teknis, ini hanya versi lain dari guyonan kasar macam, ‘Kapan kau berhenti memukuli istrimu’.”


Dalam menjawab pertanyaannya itu, Newman mengatakan lebih baik beralih pada beberapa pertanyaan yang mencoba lebih berimbang,”Siapa bisa mencapai bintang, mengapa, dan bagaimana?”


Menurut Newman, jawaban terbaik untuk pertanyaan ini diberikan oleh Hanson W. Baldwin, wartawan pemenang Hadiah Pulitzer: ” Pembentukan jenderal, sebagaimana penempaan prajurit, adalah sebuah proses rumit yang bertentangan dengan definisi dan pola yang ajeg. Seperti keberuntungan seseorang, bisa dibuktikan namun tidak benar-benar bisa dianalisis.”


Baldwin menambahkan, “Para jenderal besar (hebat), seperti penulis, penyair atau seniman besar, adalah dilahirkan, bukan dibuat, namun berbagai pengaruh yang menyentuh kehidupan mereka tak diragukan lagi, membentuk karier mereka.”


Ya, jenderal-jenderal hebat tidak dibuat dan diangkat. Mereka dilahirkan. (*)





No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update