Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Fenomena Wakaf Produktif, CEO DeDurian Park dan Siti Aisah Ingin Banyak Orang Seperti Utsman Bin Affan

Thursday, May 4, 2023 | 09:56 WIB Last Updated 2023-05-04T02:56:54Z

Hj. Siti Aisah hartanya semakin banyak dengan beramal. 


Fenomena wakaf produktif sedang marak. Banyak pengusaha muslim mulai memiliki kesadaran pentingnya wakaf. Salah satu yang saat ini viral adalah pengusaha perempuan Hj. Siti Aisah yang mewakafkan hotel miliknya untuk kemudian dijadikan sekolah di Surabaya. 


PENGURUS Pusat Forjukafi (Forum Jurnalis Wakaf Indonesia), Yusron Aminulloh, mendukung program wakaf produktif, baik yang menjadi program BAZNAS, Pemprov Jatim, maupun kalangan pengusaha seperti dilakukan Siti Aisah. 


“Wakaf punya dampak puluhan bahkan ratusan tahun kalau dijadikan produktif. Karena mengalir sepanjang zaman. Ingatlah wakaf sumur Sahabat Nabi, Utsman Bin Affan, sampai hari ini mengalir menjadi kebun kurma bahkan hotel berbintang,” kata Yusron Aminulloh, yang juga CEO Kampus Alam DeDurian Park Wonosalam, Jombang, kepada Global News dan DutaIndonesia.com, Rabu (3/5/2023) siang.  


Yusron menyebut, zakat mengatasi kemiskinan masa kini, tapi wakaf produktif mengatasi dan membangun masa depan dan peradaban.  Zakat penting, tapi wakaf produktif tidak kalah penting.


“ Kita sering fokus berlebihan ke zakat, tapi mengabaikan wakaf produktif. Padahal ada contoh nyata sahabat Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur Raumah, berlanjut untuk kebun kurma dan hingga kini jadi hotel, melahirkan program beasiswa,” tambah Yusron yang juga dikenal sebagai Master MEP Trainer Center ini.


Karena itu dia pun berharap ke depan wakaf produktif tidak hanya berupa masjid dan makam. "Tapi bisa juga hotel syariah, tempat wisata halal, yang juga produktif," kata  pendiri Forum Pendidikan Jatim (FPJ) ini.


Seperti dilihat dari Youtube Cinta Quran TV, Rabu (3/5/2023), Hj. Siti Aisah juga ingin seperti Utsman Bin Affan. Dia juga berharap semakin banyak orang seperti sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga seorang saudagar itu. 


Siti Aisah sendiri merupakan seorang wanita sukses yang telah mewakafkan hotel milik sang ibunda yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Bahkan hotel tersebut diterima langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan kini telah dijadikan sekolah. 


Bukan hanya itu, Siti Aisah juga mewakafkan lahan yang luas untuk pesantren. Dia juga menyumbang dana untuk membangun pesantren Al Quran tersebut. 


Pengurus pesantren ini menyebut nilai sumbangan Siti Aisah mencapai miliaran rupiah. "Beliau sangat sederhana, tapi menyumbang pesantren ini miliaran rupiah," kata Ustad tersebut.


Kebiasaan beramal itu tidak membuat hartanya berkurang, malah semakin bertambah banyak. Siti Aisah malah sampai "bosan" memiliki uang banyak.  

"Hotelnya (ibu) diwakafkan. Mangkannya saya bilang, saya ini belum apa-apanya dibandingkan dengan ibu saya. Sekarang jadi sekolah Khadijah plus, ibu Khofifah yang menerima (wakaf, Red.) " kata dia. 


Dengan bercanda, dia mengaku bahwa motif utamanya mewakafkan hotel dan restorannya tersebut adalah rasa bosan memiliki banyak uang. "Saya bosan, banyak duit, hahaha," ungkap Siti Aisah seolah tak mementingkan harta duniawi.


"Dunia itu pasti akan kejar kita, kata Allah. Itu adalah teori yang harus dipelajari, bagaimana agar bisa dikejar dunia. Di manapun saya berada, saya pegang apa, itu akan jadi duit," katanya.


Hal serupa dilakukan pengusaha asal Kalimantan Timur, Haji Sasa. Dalam video yang beredar, Haji Sasa telah membantu Kakek Suhud yang sempat menjadi pusat perhatian setelah video dirinya dimarahi oleh aktor Baim Wong, karena dituduh membuntuti untuk meminta uang. Video itu viral di media sosial. Merasa kasihan, Haji Sasa terbang dari Kalimantan Timur ke Jakarta untuk menyumbang Kakek Zuhud sebesar Rp50 juta.


Haji Sasa selama ini sudah dikenal sebagai penyelamat para pedagang kaki lima (PKL). Ini karena Haji Sasa suka membantu PKL. Mulai memberi modal hingga memborong dagangan PKL yang sepi pembeli. Barang dagangan milik PKL yang sudah dibeli lalu dibagikan ke warga. 


Bukan hanya itu, melalui yayasan miliknya, Haji Sasa juga mendirikan Rumah Lansia bagi para lansia telantar dan sebatang kara yang berada di Jalan Damanhuri Kelurahan Sungai Pinang Dalam. Dia juga membiayai hidup sehari-hari para lansia tersebut. Rumahnya yang mewah bertingkat dua dipakai untuk menampung para lansia yang sebatang kara.


Rumah mewah bertingkat dua itu dulu merupakan rumah yang ia berikan untuk ibunya, namun sejak ibunya meninggal beberapa tahun lalu, Haji Sasa membulatkan tekadnya untuk menjadikan rumah tersebut sebagai Rumah Lansia.


Haji Sasa sendiri diketahui berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Mansyur bin Taman, seorang tukang yang bekerja mendirikan rumah. Sedangkan sang ibunda, Tuah binti Kastawi, bekerja sebagai pembantu rumah tangga.


Masa kecil Haji Sasa terbilang pas-pasan. Dia harus putus sekolah saat duduk di bangku SMP pada 1980-an. Kemudian, pada usia 16 tahun, ibunya meminta dirinya bekerja sebagai kuli bangunan membantu pamannya. Empat tahun kemudian pada 1994, dia sudah menjadi tukang sebelum akhirnya menjadi pemborong bangunan (kontraktor skala kecil) pada 1997.


"Saya didatangi preman yang menagih utang. Waktu itu, saya sudah tidak punya apa-apa. Tidak punya siapa-siapa," tuturnya. Dia pun sempat putus asa. Titik balik kehidupan Haji Sasa terjadi 12 tahun lalu di Pelabuhan Samarinda. Ia bertemu seorang pria yang baru dikenalnya dan membagikan kisah pilunya.


“Orang itu meminta saya pulang, cuci kaki kedua orangtua, dan minta ampun. Saya juga diminta mengubah perilaku dan kata-kata," ungkapnya.


Pada awal 2010, Haji Sasa mendapatkan sejumlah uang dari bisnis jual-beli tanah. Uang itu dia pakai sebagai modal untuk kembali berusaha di bidang properti.  Pelan tapi pasti, Haji Sasa membangun rumah demi rumah kemudian menjualnya. Begitu modal yang terkumpul semakin banyak, dia memutuskan membangun perumahan. Ia membangun tiga perumahan di Jalan PM Noor, di Kecamatan Palaran dan di dekat Perumahan Bengkuring. Ketiganya selesai dibangun pada 2012.


Keberhasilan di bisnis properti ini membuatnya merambah ke bisnis lain; pertambangan batu bara. Haji Sasa membangun beberapa perusahaan pertambangan. Kini Haji Sasa bukan hanya mampu melunasi utang-utangnya tapi telah menjadi saudagar yang sukses di Kota Tepian.  " Mukjizat itu nyata. Allah memiliki cara-cara indah atas hidup yang saya jalani ini," tuturnya. (gas/mdk)




No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update