Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tokoh NU Dominasi Bakal cawapres 2024, Gus Salam: Sulit Disatukan, tapi Bisa Diupayakan Mayoritas Satu Suara

Thursday, July 6, 2023 | 08:03 WIB Last Updated 2023-07-06T01:03:14Z

 

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) bersama kader NU yang juga wartawan dan penulis buku Riadi Ngasiran.


SURABAYA (DutaJatim.com) - Pemilihan Umum (Pemilu) yang akan digelar  pada 14 Februari 2024 mendatang tampaknya akan diwarnai dengan tampilnya banyak tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Sama seperti Pemilu tahun 2019 silam di mana salah satu ulama NU, KH Ma'ruf Amin, menjadi Wakil Presiden. Saat itu, tokoh NU juga banyak yang tampil menjadi cawapres, antara lain Mahfud MD yang sekarang menjabat Menko Polhukam. 


Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), kepada DutaJatim.com, Rabu (5/7/2023) mengatakan, bahwa realitas politik  yang sudah terjadi sejak Pilpres langsung tokoh NU selalu menjadi kuncinya. Hal itu karena memang warga NU mayoritas di negeri ini.


"Dan semakin dibuktikan dengan terpilihnya KH Ma'ruf Amin sebagai Wapres," kata Gus Salam. Sebelumnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga menjabat presiden setelah mengalahkan Megawati. 


Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar Jombang ini menegaskan, jamaah NU juga membutuhkan kadernya ada yang menjadi representasi untuk memberikan kebijakan-kebijakan afirmasi. Pasalnya, warga NU sejauh ini masih banyak yang termarginalkan. "Baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun sosial budaya," katanya.


Lalu untuk memenangkan Pilpres, apa tidak mungkin suara NU disatukan untuk memilih satu calon saja, sebab selama ini di musim politik warga NU terkesan selalu terpecah mengingat ada sejumlah kadernya yang maju sebagai kontestan? Soal ini, Gus Salam mengakui sulit.


"Kalau disatukan agak sulit nggeh. Tapi kalau diupayakan agar mayoritas satu suara masih bisa," katanya.

 

Saat ini sebelum pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) mendaftarkan diri ke KPU pada 19 Oktober hingga 25 November 2023, sudah banyak nama tokoh NU dimunculkan sebagai bakal cawapres. Hal ini pula yang membuat polarisasi di kalangan Nahdliyin mulai terasa sehingga terkesan ada perpecahan akibat saling dukung mendukung calon tersebut. Tapi biasanya itu sesaat saja. Dan sudah menjadi peristiwa rutin lima tahunan yang lumrah di kalangan NU. Hal serupa terjadi pada pilkada. Hal serupa juga terjadi pada ormas lain meski lebih kecil mengingat massanya tidak sebesar warga NU. 


Saat ini, setidaknya sudah ada tiga bakal capres yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Rasyid Baswedan. Namun sejauh ini tidak ada satu pun capres yang mengumumkan secara resmi bakal cawapresnya. Yang ada hanya sinyal-sinyal dari capres atau dari parpolnya. Misalnya, bakal Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sudah deklarasi berkoalisi dengan PKB, tapi nama bakal cawapresnya masih belum jelas. Tidak harus Muhaimin Iskandar selaku ketua umum PKB. Gus Muhaimin adalah kader NU, tapi toh masih muncul nama kader NU lain yang disebut-sebut layak mendampingi Prabowo. 


Misalnya, Erick Thohir, Khofifah Indar Parawansa, dan Mahfud MD. Hal yang sama terjadi di kubu bakal capres PDIP Ganjar Pranowo dan bakal capres NasDem Anies Baswedan. Bahkan, nama tiga bakal cawapres di atas juga masuk dalam radar kubu Ganjar dan Anies. Tokoh-tokoh NU dilirik untuk menjadi pendamping bakal capres agar bisa memenangkan Pemilu 2024 mendatang. Selain tiga tokoh di atas, ada Agus Harimurti Yudhoyono (Ketua Umum Demokrat) yang disebut bakal cawapres Anies. Yang menarik, Yenny Wahid putri Gus Dur, juga disebut bakal cawapres Anies. 


Lalu ada Sandiaga Uno. Tokoh yang menjabat Menparekraf ini sekarang menjadi politisi PPP yang berkoalisi dengan PDIP mengusung Ganjar Pranowo. Sandiaga potensial menjadi cawapres bagi Ganjar. Selain itu, ada nama non NU yang disebut bakal maju cawapres antara lain Airlangga Hartarto (ketum Golkar), Ridwan Kamil (Golkar), Puan Maharani (PDIP). 


Karena itu, hampir semua lembaga survei menempatkan tokoh NU sebagai kunci kemenangan Pemilu. Seperti dikutip nu.or.id, berikut ini sejumlah lembaga survei yang menampilkan elektabilitas tokoh NU yang disebut akan maju sebagai cawapres. 


1. SMRC 


Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) merilis hasil survei 'Kekuatan Elektoral Nahdlatul Ulama' pada 16 Februari 2023. Survei ini dipaparkan melalui program 'Bedah Politik bersama Saiful Mujani' di Kanal Youtube SMRC TV. Survei dikeluarkan dalam rangka 1 Abad NU.  Survei SMRC tersebut dilakukan untuk mengukur tingkat elektabilitas beberapa tokoh NU. Beberapa di antaranya adalah Muhaimin Iskandar, Mahfud MD, dan Khofifah Indar Parawansa. 


Pada rentang waktu Desember 2021 hingga Desember 2022, suara dukungan pada Muhaimin bergerak dari 13,7 persen menjadi 18,2 persen. Sementara suara Mahfud fluktuatif. Sempat di angka 14,5 persen pada Desember 2021, lalu mencapai 22,1 persen di November 2022, dan menjadi 18 persen di Desember 2022. Lalu suara dukungan untuk Khofifah pada Desember 2021 sebesar 18,9 persen dan menjadi 15,4 persen pada Desember 2022. 


SMRC juga memasukkan nama tokoh NU yang dianggap kharismatik dan berpengaruh. Tokoh tersebut adalah KH Said Aqil Siroj dan KH Yahya Cholil Staquf. Nama-nama tokoh NU yang kharismatik dan berpengaruh ini kerap menjadi pertimbangan partai politik untuk menggandeng NU. 


2. Charta Politika Indonesia 


Charta Politika Indonesia merilis survei nasional sebagai catatan akhir tahun yang bertajuk Tren Persepsi Publik dan Proyeksi Politik Menuju 2024. Survei ini dilakukan pada 8-16 Desember 2022.  Dalam survei ini, Charta Politika Indonesia juga mengukur tingkat elektabilitas, yakni keterkenalan dan kesukaan warga terhadap para tokoh nasional. Terdapat 21 tokoh yang dihimpun, tiga di antaranya adalah kader dan tokoh NU.  


Nama Erick Thohir sebagai kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU menduduki urutan ke-9 dengan tingkat keterkenalan 68 persen dan kesukaan 92 persen.  Kemudian ada nama Khofifah Indar Parawansa sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU di urutan ke-12 dengan tingkat keterkenalan 55 persen dan kesukaan 93 persen.


Selanjutnya ada Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, di urutan ke-14 dengan tingkat keterkenalan 52 persen dan kesukaan 88 persen. Lalu ada nama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf di urutan ke-20 dengan tingkat keterkenalan 22 persen dan kesukaan 89 persen.  Di dalam survei elektabilitas wakil presiden yang dilakukan Charta Politika, terdapat 18 tokoh nasional yang 4 di antaranya adalah nama-nama tokoh NU yang sudah disebutkan di atas. Di antara nama-nama tokoh NU di dalam survei elektabilitas wakil presiden ini, Erick Thohir berada di posisi teratas dengan 8,4 persen. Kemudian disusul Khofifah Indar Parawansa (6,1 persen), Muhaimin Iskandar (4,4 persen), dan KH Yahya Cholil Staquf (0,1 persen). 


3. LSI 


Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei yang bertajuk 'Peta Elektoral Pilpres dan Antisipasi Putaran Kedua' melalui Kanal Youtube Lembaga Survei Indonesia pada 3 Mei 2023 dan dilakukan pada 12-17 April 2023. Salah satu temuan LSI adalah soal pemilihan calon wakil presiden 2024. 


Di antara banyak tokoh yang menjadi pilihan, terdapat beberapa nama kader NU yang kembali masuk ke dalam daftar cawapres.  Erick Thohir, misalnya, menduduki peringkat ke-4 dengan mendapatkan 10,5 persen. Kemudian di peringkat ke-5 ada Khofifah Indar Parawansa dengan 6,8 persen.  Lalu ada Mahfud MD di peringkat ke-7 dengan raihan 4,5 persen. 


Terakhir di peringkat ke-11 ada nama Muhaimin Iskandar dengan meraih 0,7 persen.  


4. Litbang Kompas 


Nama kader NU juga masuk dalam survei terbaru Litbang Kompas yang digelar dengan melakukan wawancara tatap muka pada 29 April-10 Mei 2023. Survei ini memiliki responden sebanyak 1.200 yang dipilih secara acak dan menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 38 provinsi.  


Dalam survei Litbang Kompas ini, terdapat 8 tokoh bakal cawapres. Hanya satu di antara tokoh itu yang merupakan kader NU, yakni Erick Thohir. Nama Menteri BUMN itu menduduki peringkat ke-5 dengan elektabilitas 4,5 persen. Dalam catatan Litbang Kompas, elektabilitas Erick Thohir mengalami peningkatan karena ia menjabat Ketua Umum PSSI. 


Kenaikan itu sebesar 3,1 persen dari survei yang dilakukan pada Januari 2023. Erick Thohir saat ini juga masih konsisten menunjukkan tren positif untuk keterpilihan sebagai bakal cawapres. Angka keterpilihan Erick dalam survei terbaru ini bahkan kembali mengalami peningkatan menyentuh 4,5 persen. (gas/nuo)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update