Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Muktamar Petani Nahdliyin, Gus Yahya Tekankan Petani Soko Guru Katahanan Pangan

Monday, August 17, 2026 | 09:42 WIB Last Updated 2026-08-17T02:42:07Z

KH Yahya Cholil Staquf

 

JAKARTA  (DutaJatim.com) - Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengapresiasi Muktamar Petani Nahdliyin yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PBNU dan LPP NU bersama jaringan petani Nahdliyin. Kegiatan itu dilangsungkan di Pesantren Al-Itqon, Semarang, Jawa Tengah, Senin 10 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Muktamar ke-35 NU sekaligus ruang konsolidasi petani Nahdliyin untuk merumuskan penguatan ekosistem ekonomi pertanian dari sektor hulu hingga hilir.


Dalam Muktamar Petani NU ini disebutkan, bahwa jumlah petani Indonesia saat ini mencapai sekitar 29,34 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen disebut merupakan warga NU yang hidup dan menggantungkan perekonomiannya dari sektor pertanian. Karena itu, penguatan sektor pertanian dinilai penting bagi kemandirian ekonomi warga Nahdliyin sekaligus ketahanan pangan nasional.


Dikutip dari Instagram resminya, Senin (17//8/2026), dalam  kesempatan terpisah, Gus Yahya menyebutkan bahwa petani merupakan soko guru ketahanan pangan. Itu sebabnya, nasib petani perlu mendapat perhatian dari seluruh pihak. Gus Yahya berharap agar ragam aspirasi dan kesepahaman yang dihasilkan dalam forum tersebut mendapatkan afirmasi dari pemangku kepentingan.


Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, forum Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan bersama atas kondisi petani, khususnya warga NU yang selama ini menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Menurutnya, forum tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak tertentu, melainkan menjadi ruang bagi petani Nahdliyin untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi, serta memperjuangkan kepentingan mereka secara mandiri.


“Kegiatan ini adalah kegelisahan kita semua yang ada di Jawa Tengah dan lainnya. Muktamar petani ini lisensi Jawa Tengah, bukan berarti untuk menunjukkan perlawanan atau tandingan. Merupakan wadah petani-petani jamiyah NU yang berdaulat dan merdeka,” ujarnya.


Kiai Ubaid juga meminta LPP NU menjalankan fungsi pendampingan secara serius. Ia mengingatkan agar LPP tidak sekadar hadir secara struktural, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi petani Nahdliyin. 


“Kami mohon untuk serius LPP. LPP adalah pendamping menjadi pendamping di ekonomi lingkungan NU bukan menjadi pemain," ujarnya.


Menurutnya, kader NU yang ditempatkan di sektor pertanian harus hadir sebagai agen yang mendampingi dan memperjuangkan kepentingan petani. Ia mengutip pandangan Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani tentang pentingnya kecintaan terhadap petani serta pandangan KH Hasyim Asy’ari yang menempatkan petani sebagai salah satu kelompok penting bagi kehidupan bangsa.


Dalam Muktamar Petani NU ini disebutakan jumlah petani Indonesia saat ini mencapai sekitar 29,34 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen disebut merupakan warga NU yang hidup dan menggantungkan perekonomiannya dari sektor pertanian.    Karena itu, penguatan sektor pertanian dinilai penting bagi kemandirian ekonomi warga Nahdliyin sekaligus ketahanan pangan nasional. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah keterlibatan petani NU dalam ekosistem program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya MBG berbasis pesantren. (jok)


No comments:

Post a Comment

Bisnis

Bisnis
×
Berita Terbaru Update