Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Nama Kampung Inggris Tercoreng Aksi Tawuran Warga dan Anak Kos

Saturday, November 30, 2019 | 07:26 WIB Last Updated 2019-11-30T00:26:51Z


KEDIRI (DutaJatim.com) - Nama Kampung Inggris Tercoreng Aksi Tawuran Warga dan Anak Kos. Tawuran ini melibatkan warga Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, dengan anak kos yang belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris pada Jumat 29 November 2019 malam. Aksi tawuran di Cafe Mr. Bob, Jl. Asparaga Dusun Tegalsari Desa Tulungrejo itu dinilai ironis. Sebab, terjadi di kampung tempat menimba ilmu bahasa Inggris.

Polisi mengamankan sekitar 15 orang yang dibawa ke Mapolres Kediri. Lima orang diduga terlibat perkelahian, sedang 10 orang lain dimintai keterangan sebagai saksi.
Informasi dari berbagai sumber menyebutkan, lima orang yang diduga sebagai pelaku tawuran, dua di antaranya anak kos yang berasal dari Ambon dan tiga orang warga setempat bernama Deta, Irvan, dan Samsul. 

Perang batu sempat terjadi. Sejumlah pelaku ada yang membawa balok kayu. Perkelahian itu membuat sejumlah orang terluka.

Sejumlah sumber menyebut, tawuran ini diduga dipicu ada anak kos perempuan  lewat di jalan kemudian disapa oleh warga setempat. Entah mengapa, rupanya dia tersinggung. Tidak terima dengan perlakuan itu, dia datang lagi membawa massa dengan jumlah cukup banyak. Warga pun menghadapinya. Tapi mereka kalah jumlah, kemudian mengajak teman-temannya sehingga tawuran dengan jumlah massa cukup besar pun terjadi. 

Bukan Kampung Preman 

Warga sedih melihat kejadian itu sebab aksi mereka membuat kampung Inggris namanya tercoreng. Kampung ini seperti dihuni kelompok geng.

“Warga sedih melihat tawuran itu.  Kampung Inggris ini sudah dikenal sebagai kampung pendidikan Bahasa Inggris tapi sekarang seperti kampung preman. Dulu saat masih ada kursusan milik Mr. Bob tidak seperti ini, namun sekarang kondisinya semakin semrawut. Seolah yang kursus di sini tidak diseleksi dengan baik oleh pihak pengelola kursus,” kata Nur Hamid, warga Pare, Sabtu pagi. 

Jumlah pendatang yang semakin banyak memuat kondisi sosial berubah. Mereka tidak semua ingin belajar bahasa Inggris sebab bisa jadi ada yang memiliki motif lain. Yang datang juga dari berbagai daerah dengan karakter masing-masing. Karena itu rawan gesekan di antara mereka. Juga antara pendatang dengan warga. Perkelahian kecil sering terjadi hingga tawuran Jumat tadi malam melibatkan banyak massa.

“Jumlahnya puluhan orang turun ke jalan. Kami tidak bisa melerai lagi. Warga kewalahan," katanya.

Awalnya tawuran terjadi di selatan pertigaan tapi berhasil didamaikan. Namun tiba-tiba terjadi lagi tawuran hebat persis di pertigaan. 

"Polisi datangnya telat. Jika datang lebih awal pasti kepegang semua tadi pelakunya. Ada korban yang dilarikan ke rumah sakit, salah satunya Deta. Sempat diinjak-injak sampai bajunya robek-robek. Pot-pot bunga pada pecah, tadi motor di sepanjang jalan ambruk semua,” kata salah satu warga.

Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal saat dihubungi melalui Kasubag Humas Iptu Purnomo belum bisa memberikan keterangan karena masih mengumpulkan data. Meski sempat terlihat di lokasi kejadian hingga kemudian kembali ke Mapolres Kediri, dia menyatakan belum bisa memberikan keterangan resmi. “Sabar dulu, kami masih berusaha meredamnya,” katanya seperti dikutip duta.co.(dtc)

Foto: duta.co

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update