-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gubernur Khofifah Akan Optimalkan Pemanfaatan Teknologi Inseminasi Buatan Untuk Dorong Swasembada Daging Nasional

Jumat, 06 Desember 2019 | 15.27 WIB Last Updated 2019-12-06T08:27:07Z

SURABAYA (DutaJatim.com)  – Lewat pemanfaatan teknologi yang makin modern  dalam pembangunan sektor peternakan, maka swasembada daging Insya Allah akan  cepat terwujud. Untuk itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa akan mendorong optimalisasi   pemanfaatan teknologi inseminasi buatan untuk mewujudkan percepatan swasembada daging. 

Bahkan, berdasarkan perhitungan populasi sapi yang dihasilkan dari proses inseminasi buatan maka dalam waktu 4 hingga 5 tahun ke depan akan terwujud swasembada daging. Tergantung kecepatan respon daerah mengingat jumlah semen beku sesunggunya sangat berkecukupan.

"Teknologi inseminasi buatan ini sungguh luar biasa. Karenanya pelatihan tenaga inseminasi  buatan dan pemeriksa kebuntingan  lewat pendampingan dan pemanfaatan teknologi tersebut, kita bisa menghitung paling tidak 4 sampai 5 tahun kedepan kita akan mampu wujudkan swasembada daging. Serta, pada tahun ke 5 kita harapkan sudah bisa ekspor daging sapi," ungkap Gubernur Khofifah usai melakukan kunjungan kerja di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang, Kamis (5/12/2019) sore. 

Pada kunjungan kerja tersebut Gubernur Khofifah ini juga didampingi Bupati Malang Sanusi, Jajaran BBIB Singosari, serta beberapa kepala OPD di lingkup Pemprov Jatim.



Khofifah menjelaskan, Jatim saat ini memang sudah surplus daging. Tetapi saat yang sama secara nasional juga masih import daging. Oleh karena itu saling membangun sinergi antar daerah yang memiliki kultur beternak sapi sesungguhnya peluang pemenuhan pasar dalam negeri dan eksport daging sapi  ke luar negeri terbuka luas. Pemprov Jatim bersama Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari yang merupakan  UPT Kementetian Pertanian siap untuk mentransfer skill terutama untuk tenaga inseminasi buatan dan pemeriksa kebuntingan. Sementara BBIB akan melatih dan mentransfer teknogi inseminasi buatannya. 

Oleh sebab itu, gubernur perempuan pertama di Jatim ini meminta bahwa saat ini tidak bisa berpikir hanya untuk Jatim tapi juga nasional. Karenanya, kerjasama dengan provinsi-provinsi yang kultur  beternaknya sudah bagus harus ditingkatkan. Hal ini penting dilakukan, untuk bersama-sama membangun penguatan swasembada daging. Serta, yang lebih penting lagi yaitu mewujudkan kemampuan untuk bisa mengekspor.

Dalam beberapa kesempatan pertemuan dengan para gubernur, Khofifah  sempat menunjukkan foto-foto sapi jenis Simental, Madrasin, Belgian Blue hingga Limosin kepada para gubernur yang hadir. Dan beberapa  gubernur yang menyaksikan  langsung tertarik untuk datang dan ingin mengetahui tentang teknologi di BBIB Singosari.

"Cukup banyak gubernur yang  tertarik untuk bisa mengakses informasi di BBIB Singosari, karenanya konfirmasi tentang keberadaan BBIB Singosari di Jatim ini menjadi penting. Harapannya, usai para gubernur itu melakukan kunjungan maka jejaring antara BBIB Singosari, Kementan dengan para gubernur akan langsung berjalan," harap Khofifah.


Pada kunjungan kerja ke BBIB Singosari tersebut, Gubernur Khofifah menyempatkan diri untuk melihat langsung proses pembuatan semen beku di laboratorium. Serta, melihat kandang sapi yang semuanya pejantan, tempat pakan, tempat penampungan sperma, perawatan yang dilakukan pada sapi, hingga mengelilingi seluruh area BBIB dengan menggunakan kereta Biosecurity.

 Triangle UB Forest – BBIB Singosari – KEK Singhasari

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah menyampaikan, bahwa Pemprov Jatim telah menggagas konsep kerjasama strategis antara Universitas Brawijaya (UB) Forest, BBIB Singosari, dan KEK Singhasari. Triangel ini sendiri sengaja digagas untuk pengembangan sektor pariwisata satwa dan puspa serta agropolitan. Lebih khususnya, juga untuk penangkaran dan budidaya satwa langka agar jumlah kepunahannya bisa dikendalikan.

Untuk itu, Khofifah berharap bahwa satwa-satwa yang terancam punah atau langka tersebut semen bekunya bisa disimpan di BBIB Singosari. Diantaranya yaitu burung Cendrawasih, Kakak Tua, dan Enggang. Lewat upaya tersebut, harapannya satwa langka yang dilindungi di Indonesia ini jumlahnya tidak terus menurun tapi justru makin bertambah. Ada contoh   negara yang melegalkan penjualbelian satwa langka karena memang semen bekunya sudah dimiliki. Sehingga penangkaran satwa langka tersebut dapat dilegalkan karena semuanya  hasil  pengembangbiakan.

"Kita akan sama-sama membahas untuk mengusulkan format ini untuk mendapat  persetujuan legalitas  baik dari Kementan atau Kemenhut juga kementerian teknis lainnya  agar semen bekunya bisa disimpan disini. Sehingga, dengan adanya legalitas sertifikat ini maka habitat di hutan lindung tidak akan terganggu sementara masyarakat  yang ingin memelihara juga legal bahkan  bisa menjadi sumber pendapatan baru," ujar Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini menambahkan, untuk penelitian, pengembangan serta penangkaran satwa yang terancam punah tersebut akan dilakukan di UB Forest yang memang memiliki pengembangan wisata hutan. Sedangkan, KEK Singhasari akan menunjang BBIB Singosari dan UB Forest karena memiliki cluster wisata yang cukup menarik.

"Triangle  wisata baru di Malang ini, saya rasa  akan bisa menjadi potensi pembelajaran yang luar biasa. Lebih dari itu, harapannya juga akan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dan semua bisa mendapat win-win profit," pungkas Khofifah.

*Mampu Hasilkan Semen Beku Hingga Capai 47,7 juta Dosis*

Sementara itu, Kepala BBIB Singosari, Drh. Enniek Herwijanti mengatakan, produksi semen beku yang dihasilkan hingga tahun 2019 mencapai 47,7 juta dosis. Sedangkan distribusi semen bekunya mencapai 42,2 juta dosis. Bahkan, distribusinya hingga ke luar negeri seperti ke Malaysia, Myanmar, Kamboja, Afganistan, dan Madagascar.

"Kami memiliki beberapa jenis pejantan unggulan baik yang lokal maupun yang impor seperti Brahman, Sapi Bali, Madura, hingga Limosin. Dan kami juga melakukan beberapa proses perawatan pada sapi-sapi tersebut mulai pakannya, potong kuku, mandi hingga pengobatan," terang Enniek.

Menanggapi keinginan Gubernur Khofifah terkait penyimpanan semen beku, pihaknya menyambut baik dan akan segera mengkoordinasikan dan mengkonsultasikam dengan Kementrian terkait.

"Kami siap menyiapkan teknologi yang dibutuhkan untuk penyimpanan semen beku hewan-hewan yang terancam punah. Khususnya, yang sudah disebutkan ibu gubernur yaitu Cendrawasih, Kakak Tua, dan Enggang," tandas Enniek. (gas/hms)



×
Berita Terbaru Update