-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gus Muwafiq Tetap Ceramah di Solo, Minta Maaf Bila Ceramah soal Masa Kecil Nabi SAW Dianggap Keliru

Minggu, 08 Desember 2019 | 06.14 WIB Last Updated 2019-12-07T23:14:05Z

SOLO (DutaJatim.com) -  KH Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq akhirnya tetap tampil ceramah agama di Solo Sabtu 7 November 2019 malam meski sempat ada penolakan dari sejumlah orang. Kiai Nahdlatul Ulama (NU) itu  hadir memberi taushiyah agama di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo.

Gus Muwafiq tiba di Pondok Pesantren Al-Muayyad sekitar pukul 22.00 WIB malam. Seperti biasa  acara dimulai dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci  Al Quran, baru dilanjutkan Gus Muwafiq memberi ceramah agama dalam bahasa Jawa.

Sebelum membahas materi inti, Gus Muwafiq lebih dulu menanggapi masalah penolakan dirinya berceramah di Solo. Untuk itu Gus Muwafiq mengaku tak enak hati. Sebab dia telah membuat repot banyak orang. Khususnya pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, KH Abdurrozaq Shafawi.

"Saya merasa tidak enak kepada Kiai Rozaq. Beliau  kiai sepuh. Karena masalah ini semua menjadi repot," katanya.

Selanjutnya dia  pun meminta maaf atas ceramah kontroversialnya beberapa waktu lalu. Ceramah yang dimaksud adalah tentang masa kecil Nabi Muhammad SAW yang dianggap seperti anak kecil lain. Ini yang dinilai menistakan agama dan merendahkan Rasulullah SAW.

"Apabila dianggap keliru oleh segenap kaum muslimin, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Biar itu menjadi urusan saya dengan Allah. Semoga permintaan maaf saya ini diterima," katanya.

Sementara dalam ceramahnya Gus Muwafiq membahas fenomena orang Jawa dengan ayat Al Quran. Menurutnya budaya masyarakat Jawa sangat lekat dengan ayat Al Quran.

Bahkan orang Jawa ketika dipanggil pun banyak yang menjawab dengan 'nun'. Dia mengaitkan 'nun' dengan salah satu ayat dalam Al Quran.

"Di hari akhir nanti seluruh ayat Al Quran akan kembali kepada Allah. Semua orang yang memegang ayat Al Quran akan dipanggil. Ayat Al Quran itulah yang akan memberi syafaat kepada kita saat dipanggil Allah," ujarnya.

Gus Muwafiq memberi ceramah sekitar 40 menit. Usai berceramah, dia langsung meninggalkan pondok pesantren.

Selama acara dimulai sejak pukul 19.00 WIB, tampak pengamanan diperketat mulai dari jalan-jalan menuju Pondok Al-Muayyad. Selain dari Banser NU, pengamanan juga dilakukan oleh  aparat kepolisian. 

Sempat Bentrok

Pengamanan ketat dilakukan menyusul aksi bentrok sehari sebelumnya dari massa yang menolak Gus Muwafiq di depan Kantor PCNU Solo. Massa awalnya demo di Mapolresta.


"Peserta demonstrasi di Polresta itu DSKS (Dewan Syariah Kota Surakarta)," kata Wakapolresta Surakarta AKBP Iwan Saktiadi kepada wartawan di lokasi kejadian, Jumat (6/12/2019).

Demonstrasi di Mapolresta Surakarta itu terkait kasus Gus Muwafiq. Polisi langsung mempertemukan kedua pihak di lokasi kejadian. Meski sempat alot, kedua kelompok membubarkan diri.


"Kami pertemukan pimpinannya. Mereka sudah berbicara sendiri, juga sudah ketemu, saling memahami. Dan intinya mereka sepakat menyelesaikan masalah dengan baik dan membubarkan diri," kata dia.

Juru bicara DSKS Endro Sudarsono membenarkan demonstrasi di Mapolresta Surakarta adalah dari DSKS. Namun dia menampik jika aksi bentrokan dilakukan DSKS.

"Kalau bentrokan, itu kami tidak tahu. Karena kami sejak di Polresta sudah mengimbau agar tidak lewat di situ dan pulang secara tertib," kata Endro saat dihubungi wartawan.

Diwawancara terpisah, Ketua PCNU Surakarta, Mashuri, menyayangkan kejadian bentrokan itu. Dia mengimbau siapapun yang tidak berkenan dengan ceramah Gus Muwafiq untuk menempuh jalur hukum.

"Apalagi Beliau sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Mau sampai kapan? Kalau memang belum puas, ini negara hukum, langkah hukum monggo silakan. Tidak dengan cara-cara seperti ini," kata Mashuri di kantor PCNU, Jumat (6/12).

Mashuri mengaku telah mengimbau agar tidak digelar aksi sebelum Gus Muwafiq mengisi ceramah di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Sabtu (7/12). Dia menyesalkan ada pihak yang tetap melakukan konvoi di depan kantor PCNU.

"Kami tadi menjaga kantor, hanya ngumpul-ngumpul saja. Tetapi mereka lewat sini tanpa diblok. Akhirnya mereka lewat pun tidak masalah, tapi sampai sana saling menghujat, akhirnya terjadi seperti itu. Sebenarnya itu bisa dilakukan jika antar pimpinan duduk bersama. Tidak seperti ini," katanya. (det/wis)
×
Berita Terbaru Update