-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sowan ke Kiai di Jatim, Gus Muwafiq Diminta Terus Belajar Agama dan Berdakwah

Selasa, 10 Desember 2019 | 08.01 WIB Last Updated 2019-12-10T01:01:31Z

 
SURABAYA (DutaJatim.com)  –  KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq (GM) sudah berkali-kali minta maaf. Sudah pula mencabut isi ceramahnya yang menyebut masa kecil Kanjeng Nabi Muhammad SAW rembes. Dia pun mengaku bertobat. 

Karena itu, para Ulama Nahdlatul Ulama (NU) meminta polemik soal Gus Muwafiq diakhiri. Sebab, kontroversi yang berkembang akhir-akhir ini menjurus ke arah yang tidak sehat.

Namun demikian Gus Muwafiq sendiri rajin sowan ke Kiai. Misalnya setelah mengunjungi kiai di Solo, Senin (9/12/2019) kemarin Gus Muwafiq berkunjung ke Ponpes Lirboyo, Kediri, ditemani Gus Salam dari PWNU Jatim. Kabarnya GM--panggilan akrab kiai gondrong itu-- juga akan sowan ke beberapa pesantren lain, seperti Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo, dan Pesantren Langitan, Tuban.

“Itu sangat bagus. Lebih bagus lagi, kalau Beliau sowan ke Pondok Pesantren Besuk dan PP Sidogiri Pasuruan. Ini biar selesai. Energi umat Islam tidak perlu dikuras hanya membahas hal-hal yang kontroversial saja. Dan, GM bisa lakukan koreksi diri, tidak larut dalam guyonan-guyonan yang sensitif.  Apalagi menyangkut Kanjeng Nabi SAW,” kata tokoh yang aktif di kegiatan Komite Khitthah-1926-NU (KK-26-NU), Selasa (10/12/2019), seperti dikutip dari duta.co.

Tujuan Gus Muwafiq ke Ponpes Lirboyo adalah untuk memohon doa masyayikh (sesepuh atau tokoh) berkaitan dengan ceramahnya yang menjadi kontroversi di masyarakat.

Tampak Gus Muwafiq disambut KH M. Anwar Manshur, KH Abdulloh Kafabihi Mahrus, KH An’im Falahuddin Mahrus, KH Ma’uf Zainuddin, KH Adibussholeh Anwar, KH Abdul Mu’id Shohib serta keluarga besar lainnya.

Pertemuan berlangsung tertutup di gedung Yayasan, Utara Masjid Al Hasan Kompleks Aula Muktamar Lirboyo. Dalam keterangannya, KH Abdul Mu’id Shohib mengaku memberi dukungan kepada Gus Muwafiq untuk tetap berdakwah meskipun saat ini sedang tersandung masalah.

Menurut pria yang juga menjabat anggota DPRD Kota Kediri ini, dalam pertemuan tersebut Gus Muwafiq meminta maaf lantaran telah menimbulkan kegaduhan akibat ceramahnya.

“Mohon maaf telah ada kegaduhan yang bersumber darinya. Beliau juga meminta maaf kalau ada pemilihan kata yang ada salah satu ceramahnya yang kemudian disalahpahami. Beliau juga sudah mengatakan kalau memang itu salah dia meminta maaf, juga bertaubat,” katanya.

Dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, para masyayikh memberikan petuah agar Gus Muwafiq tak berhenti belajar dalam menggali ilmu agama tentang khasanah pesantren. Para pengasuh juga mengapresiasi Gus Muwafiq yang dinilai memiliki jiwa besar, dan mau meminta maaf serta bertobat. 

“Mungkin dengan kejadian seperti ini ada introspeksi agar lebih berhati-hati dalam memilih bahasa,” tutur KH An’im Falahuddin Mahrus.

Waraqah  Bukan Dukun

Belakangan koreksi terhadap isi ceramah GM memang terus berlangsung. Tidak hanya soal perkataan Kanjeng Nabi rembes, ada juga yang dibahas warganet seperti pernikahan  dengan Sayyidatina Aisyah RAh, yang dianggap keluar nalar. Dan juga sebutan Waraqah Bin Naufal sebagai dukun.

“Itu salah besar! Jadi, Waraqah bin Naufal itu bukan seorang dukun, seperti yang dituduhkan kaki tangan dan antek kaum orientalis liberal penghina Nabi Muhammad SAW. Waraqah bin Naufal itu seorang pendeta Nasrani yang berniat masuk Islam jika mendapati Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul,” demikian KH Luthfi Bashori Alwi alias Gus Luthfi.

 
Ia kemudian menyertakan sejarah Waraqah bin Naufal di situs nu.or.id. Di situ dijelaskan, Waraqah itu tokoh Nasrani yang mengimani Nabi Muhammad. Ketika Rasulullah menerima wahyu di awal-awal kenabiannya, Beliau ragu dengan apa yang terjadi.

Sayyidah Khadijah mengajaknya menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya. Waraqah bin Naufal adalah orang yang menguasai kitab-kitab suci terdahulu, khususnya Yahudi dan Kristen. Waraqah termasuk orang langka. “Bukan dukun,” tegasnya.

Di saat mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia mempercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala. Ia mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah).

Hal ini tercatat dalam Nawâdir al-Mahthûthât yang mengatakan: “Di dalamnya terdapat (pencari/penganut) agama lurus yang islamiyyah dan syariat Nabi Ibrahim, sebagian dari mereka adalah Quss bin Sâ’idah al-Iyâdî (w. 23 SH), Waraqah bin Naufal al-Asadî, Zaid bin ‘Amr dari Bani ‘Adi yang terbunuh oleh orang Romawi karena melakukan pencarian.”

Waraqah bin Naufal menentang penyembahan berhala yang dilakukan masyarakatnya. Salah satu riwayat yang menunjukkan keyakinannya adalah perkataannya terhadap teman-temannya: “Apakah kalian mengetahui, demi Allah kaum kalian tidak berada dalam agama (yang benar). Cara pandang mereka salah.”

Jadi? Pendakwah harus memahami betul sejarah. Jangan diubah seenaknya, apalagi hanya untuk guyonan belaka. Waallahu’alam. (dtc)

×
Berita Terbaru Update