-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Terobosan ‘Modal Gisi’ SMPN 1 Waru Masuk Top 25 Kovablik Jatim

Sabtu, 07 Desember 2019 | 17.05 WIB Last Updated 2019-12-07T10:05:40Z

Hendroyono (dua dari kiri) bersama Bupati Pamekasan dan Gubernur Jatim.

PAMEKASAN (DutaJatim.com) - Terobosan ‘Modal Gisi’ SMPN 1 Waru Masuk Top 25 Kovablik Jatim.

Program terobosan Motivasi Medali Bergilir Untuk Meningkatkan Prestasi (Modal Gisi) siswa di SMPN Negeri 1 Waru Pamekasan itu masuk Top 25 dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Kovablik) Jatim tahun 2019. Dengan prestasi ini SMPN 1 Waru berhak untuk menjadi wakil Jatim dalam event serupa di tingkat nasional.

Penghargaan atas prestasi yang membanggakan ini diserahkan oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Pamekasan Badrut Tamam dan Kepala SMPN 1 Waru Hendroyono, di Hotel Bumi Surabaya, Selasa (5/12/2019) lalu. Dalam menerima penghargaan ini Bupati didampingi Sekdakab Totok Hartono dan sejumlah pejabat terkait. 

Kepala SMPN 1 Waru Hendroyono mengungkapkan program Modal Gisi dijalankan mulai dari tahun 2017. Latar belakang program ini dibuat karena rendahnya capaian prestasi siswa selama ini. Itu disebabkan karena SMPN 1 Waru merupakan sekolah pinggiran, sehingga motivasi anak dan dukungan orang tua  sangat kurang. 

“Dengan kondisi itu kami melihat perlunya terobosan-terobosan kemudian juga lompatan, salah satunya dengan jalan inovasi. Tujuannya yang pertama tentu adalah untuk meningkatkan prestasi, yang kedua meningkatkan motivasi bagi anak maupun juga supaya meningkatkan dukungan orang tua,” ungkapnya saat dihubungi Sabtu (7/12/2019).

Hendroyono menjelaskan bentuk operasional program Modal Gisi yaitu tiap ulangan mata pelajaran siswa peraih nilai tertinggi diberi pengharaan berupa medali yang disematkan di baju seragamnya. Penghargaan ini diberikan secara bergilir. Jika pada ulangan berikutnya ada pergeseran nilai, maka medali diberikan kepada siswa peraih nilai tertinggi lainnya.

“Penghargaan atau medali itu disematkan pada saat upacara. Asalnya medalinya itu jumlahnya sekitar 30, tapi kini kami tambah menjadi sekitar 50. Karena langkah itu bukan hanya diberikan pada bidang akademik, namun juga bagi prestasi non akademik, misalnya olah raga dan seni,” katanya.

Dia lalu mencontohkan pemberian medali bidang olah raga tenis meja. Lomba tenis meja dilakukan setiap tingkat, peringkat pertamanya mendapatkan medali. Kemudian setiap saat anak bisa jadi penantang bagi pemegang medali dengan menghubungi guru olah raga dan sang guru harus memfasilitasinya.

Hendro mengaku terobosan pemberian medali itu itu mendapat respon positif orang tua siswa. Para orang tua merasa senang ketika anaknya pulang sekolah membawa medali yang disematkan di seragam yang dipakainya. Dan program ini sudah pasti juga memotivasi para siswa lainnya. 

Bukan hanya bidang akademik dan olah raga, medali juga diberikan kepada siswa yang memiliki akhlak dan pengabdian  atau siswa yang memiliki karakter yang bagus. Karakter ini misalnya dilihat dari kedisiplinan, pengabdian dan kerajinan.

“Dampaknya luar biasa. Prestasi meningkat, misalnya yang semula untuk cabang tenis meja belum pernah mendapatkan kejuaraan ditingkat kabupaten, kini bisa mendapatkannya, prestasi seni budaya main music juga bisa sampai tembus dikirim ke Jawa Timur,” tuturnya.

Di bidang akademik, kata Hendro, kini anak didiknya sudah bisa membanggakan sekolahnya karena sudah bisa masuk 6 besar atau finalis pada Olimpiade Sain Nasional (OSN) tingkat kabupaten untuk bidang Matematika. “Harapannya sekolah kita ini yang ada dipinggiran bisa sejajar dengan sekolah maju di perkotaan,” pungkasnya. (mas)
×
Berita Terbaru Update