-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Awas Perang Teluk III Pecah, Iran Ancam Bunuh Donald Trump

Jumat, 03 Januari 2020 | 17.38 WIB Last Updated 2020-01-03T16:02:53Z

Qassem Soleimani (AFP)

JAKARTA (DutaJatim.com) - Ketegangan di kawasan Teluk meningkat usai komandan militer Iran Qassem Soleimani terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat. Sejumlah negara waspada kemungkinan terburuk antara lain terjadinya Perang Teluk III. 

 Kedutaan Besar Prancis di Teheran misalnya pada Jumat 3 Januari 2020 meminta warga Prancis yang berada di Iran untuk menghindari kegiatan-kegiatan di publik. Pasalnya, situasi bisa jadi berubah panas pasca-terbunuhnya Soleimani.

"Tiga hari masa berkabung telah ditetapkan setelah kematian Jenderal Soleimani. Terkait dengan ini, kami mengimbau para warga negara Prancis untuk menghindarkan diri dari kegiatan apa pun serta berhati-hati, bertindak bijaksana dan tidak mengambil gambar di tempat-tempat publik," kata Kedutaan Prancis di Teheran dalam pernyataan di Twitter.

Amerika Serikat telah membunuh Soleimani dalam serangan udara di Bandara Baghdad Irak.

Soleimani adalah pemimpin Pasukan Quds yang juga perancang perluasan pengaruh militer Iran di Timur Tengah.

Tewasnya pemimpin militer Iran Jenderal Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat (AS) membuat berang negara tersebut. 

Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei mendeklarasikan hari berkabung nasional selama tiga hari karena kematian Soleimani. "Kriminal yang membunuh Soleimani akan mendapatkan pembalasan yang sangat kejam," katanya sebagaimana dikutip dari Reuters Jumat (3/1/2020).

Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengutuk keras tindakan AS tersebut. Iran bahkan terlihat tak takut untuk membalas AS.

"AS bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari petualangan jahatnya," tegasnya melalui akun Twitter.

Hal senada juga ditegaskan tokoh militer Iran Mohsen Rezaei. Ditegaskannya Iran akan membalas dendam ini ke AS.

"Dia (Soleimani) bergabung dengan saudara-saudara lain yang syahid. Tetapi kita tetap akan membalas dendam ke Amerika," katanya.

Sebelumnya, AS menyerang sebuah kawasan di dalam Bandara Internasional Baghdad dengan pesawat tak berawak (sempat disebut rudal). Pentagon mengatakan hal ini sesuai dengan arahan Presiden AS Donald Trump.

"Atas arahan Presiden, militer AS telah mengambil tindakan defensif yang menentukan untuk melindungi personil AS di luar negeri," kata Pentagon dalam keterangan resmi.

"Dengan membunuh Qasem Soleimani ... Jenderal Soleimani secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat Amerika dan anggota layanan di Irak dan seluruh kawasan," jelas Pentagon.

"Soleimani dan pasukan Quds bertanggung jawab atas kematian ratusan orang Amerika dan anggota layanan koalisi dan melukai ribuan lainnya."

Soleimani sendiri adalah pemimpin unit pasukan khusus Pengawal Revolusi Iran. Ia merupakan tokoh kunci politik Iran dan Timur Tengah.

Kematiannya diprediksi memperburuk ketegangan antara AS dan Iran. Diperkirakan Iran akan membalas serangan AS ini.

Sementara itu, di dalam negeri, Senator AS dari Partai Demokrat membenarkan Soleimani adalah musuh bagi AS. Namun ia menyayangkan pembunuhan yang terjadi.

Menurutnya hal ini bisa membahayakan AS. "Salah satu alasan mengapa kita tidak umum (membunuh) pejabat politik asing adalah keyakinan bahwa tindakan itu akan membuat banyak, bukan sedikit, orang Amerika yang justru terbunuh," tegasnya lagi.

Dalam serangan ini, pejabat militer Irak juga tewas. Dalam keterangannya pemimpin kelompok paramiliter Irak Hashed Al-Shaabi mengatakan Wakil Pemimpin Hashed juga tewas.

Hashed sendiri adalah jaringan unit bersenjata yang sebagian besar didominasi kelompok Syiah. Syiah merupakan salah satu aliran yang dianut Muslim, selain Sunni. 

Hashed memiliki hubungan dekat dengan Iran. Namun sudah resmi menjadi bagian dari pasukan keamanan Irak. 

Sebelumnya, pada Minggu, AS melakukan serangan terhadap pangkalan milisi Kataib Hezbollah di Irak. Dalam serangan itu, sedikitnya 25 pejuang milisi tewas dan sedikitnya 55 lainnya mengalami luka.

Namun serangan AS ini membuat Irak kecewa. Pasalnya serangan itu melanggar kedaulatan negara tersebut.

Akibat konflik ini juga, Irak mengatakan akan mempertimbangkan kembali kerja sama dengan koalisi internasional yang dipimpin AS untuk melawan Negara Islam (ISIS). Ini ditegaskan Dewan Keamanan Nasional Irak dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyalahkan Iran atas serangan AS ke Irak. Pasalnya serangan AS ke pangkalan milisi Hizbullah di Irak, terjadi karena pasukan itu didukung penuh oleh Iran.

Iran dituding membiayai pasukan Hizbullah. Serangan itu merupakan pembalasan atas serangan rudal yang menewaskan warga AS di Irak bagian utara di pekan sebelumnya. (ara/cnbci)

×
Berita Terbaru Update