Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Habib Luthfi bin Yahya: Menjaga Persatuan Menghindari Bencana

Friday, January 10, 2020 | 20:59 WIB Last Updated 2020-01-10T13:59:18Z


PEKALONGAN (DutaJatim.com)  - Habib Luthfi bin Yahya, Rais Am Jam'iyah Ahlith Thariqah Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), mengingatkan, umat Islam harus kembali kepada fitrahnya. Yakni, untuk saling menyayangi antarsesama dan saling mengasihi.

"Kalau kita bisa menjaga persatuan insya Allah bencana semakin jauh. Kalau ingin bencana terus turun, kita lanjutkan saling fitnah bangsa ini, sampai hancur bangsa ini. Yang bisa menangkal dan menepis itu adalah kasih sayang sesama kita, sesama anak bangsa," kata Habib Luthfi bin Yahya dalam Pengajian Rutin di Kanzus Sholawat, Pekalongan. Yakni, Pengajian Jumat Kliwonan, yang bertepatan pada Jumat, 10 Januari 2020.

Dalam pengajian ini, kerap dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat. Demikian pula, rakyat dan umat Islam secara umum hadir dari berbagai daerah di Jawa Tengah, bahkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat.

Habib Luthfi yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) berpesan selalu agar umat Islam Indonesia menjaga persatuan dan selalu ingat pada Sang Khaliq.

"Apabila kita melihat apa yang Allah anugerahkan kepada hambanya, hasud yang ada dalam diri kita akan hilang. Karena kita melihat Allah bukan apa yang diberikan," tuturnya.

Menikmati Nikmat

Habib Luthfi pun kerap menggambarkan masalah aktual masyarakat kini dalam setiap ceramahnya. Pohon berdampingan, pisang, sawo, mangga dll. Satu tanah melahirkan berbagai macam rasa.


"Kita akan merasakan nikmat menikmati berbagai macam rasa buah. Apabila lidah terjangkit sariawan, manis pun jadi pahit. Begitu pula ketika seseorang sudah sakit hatinya terjangkit dengan penyakit hasud."

Dengan bergaul, kita akan bisa melihat aneka nikmat yang Allah berikan kepada yang lain. Tidak akan menjadi orang yang mau menang sendiri.

"Kita kembali kepada Allah dalam hal apapun. Termasuk dalam menikmati karunia Allah. Seperti makan, niat untuk menjemput nikmat Allah yang lain."

Oleh karena dalam doa makan diakhiri: "jauhkan kami dari siksa neraka". Supaya rezeki yang kita nikmati tidak mengantarkan kita kepada perilaku maksiat.

Inilah pentingnya adab dalam thariqat, saling menghormati makhluk Allah, mengkritik dengan etika dan adab, karena kita selalu kembali kepada Allah. Bukan malah ingin membuat keributan.

"Kita ini faqir kepada Allah. Bisa gak kita saling bergandeng tangan sesama fuqara. Bukan malah mau menang-menang sendiri."

"Kalau kita membahas bencana dan musibah kita harus menata hati. Jangan musibah membawa musibah lain, karena menganggap musibah sebagai adzab. Darimana kita tahu itu adzab? Dari maksiat? Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Jangan main tuduh."

"Kita jangan saling hasud, senang kalau antara umat pecah saling fitnah. Menjauhkan umat kepada ulama, lebih jauh lagi kecintaan kita kepada TNI dan POLRI dan seterusnya," tutur Habib Luthfi bin Yahya. (yad)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update