-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tren Fashion 2020: Beragam dan Berani (1)

Sunday, January 19, 2020 | 4:47 PM WIB Last Updated 2020-01-19T09:47:55Z

JAKARTA (DutaJatim.com) - Fashion selalu mencari momentum. Untuk menampilkan ciri khasnya. Karena itu, pada setiap pergantian tahun, selalu menjadi momentum bagi dunia fashion untuk menampilkan ciri khas. Sesuai karakter tahun tersebut. Begitu pula tahun 2020 ini. Namun demikian tren fashion bisa dalam kurun waktu lama. Dalam dekade tertentu. Catatan Antara, overall denim populer di tahun 1990-an. Lalu skinny jeans menjadi favorit di tahun 2010-an.

Perancang busana kondang Musa Widyatmodjo, memberi info, bahwa pada awal dekade ini sudah terlihat kecenderungan tren fashion lebih beragam. Lebih berani. Tidak lagi berpatok pada satu hal yang populer saja. Artinya, tren dunia fashion berubah. Kali ini berbeda dengan dekade sebelumnya. Dulu, ada 'kesepakatan' yang terjadi pada dunia mode. 

Para pakar dan praktisi mode berkumpul menentukan kata sepakat akan tren mode tahun ini. Misalnya sekarang trennya motif bunga-bunga, warnanya cokelat, dan lainnya. "Tapi itu dulu," kata Musa saat ditemui di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

Gebrakan baru yang terbentuk tahun ini justru sebaliknya. Mereka sepakat untuk "ketidakbersepakat" sehingga tren fashion akan dibuat sendiri oleh masing-masing orang.

Menurutnya, saat ini masyarakat modern lebih berani dalam mengekspresikan diri lewat pilihan tampilannya. Didukung dengan keterbukaan informasi, memungkinkan tiap orang membagi dan mendapatkan referensi fashion yang sesuai dengan karakternya.

"Saya melihat banyak konsep yang lebih individual dan berkarakter. Dari tahun ke tahun, lebih ke perpaduan gaya individual; bagaimana me-mix culture, hingga styling yang colorful, berani, dan eksperimental," kata Musa.

Bagi desainer yang telah eksis di dunia mode selama hampir tiga dekade itu, masyarakat modern memiliki kecenderungan untuk tampil beda dan tidak seragam. "Ada ekspresi untuk tak menimbulkan keseragaman. Keberagaman itu jadi tolok ukur nilai masyarakat modern saat ini yang tak mau menjadi sama," katanya.


Inklusif


Selain berlomba untuk mengekspresikan diri secara beragam lewat pilihan gaya, Musa melihat bahwa keberagaman yang terjadi juga hadir di diri individu itu sendiri.

Alih-alih membuat sebuah gaya hanya cocok dikenakan untuk satu tipe badan, atau hanya pantas bagi gender tertentu, fashion di tahun 2020-an akan lebih condong ke inklusivitas - dimana semua berhak tampil dengan percaya diri akan tubuh yang dimilikinya.

"Fashion bukan cuma skinny atau badan kurus, tapi juga untuk aneka ragam bentuk tubuh. Lebih inklusif. Model saat ini tak harus cantik dengan rumusan baku di tahun 1980-1990an, tapi lebih ke personality dan uniqeness. Sekarang ada model yang gemuk, kurus, dengan kulit mulus hingga belang-belang, semua ada representasinya," katanya.

Adanya representasi dan pencampuran gaya itu pun berpengaruh pada jenis pendekatan fashion yang juga semakin beragam. Dari yang mulanya hanya ada gaya dan model feminim dan maskulin, muncul model androgini hingga gender-less.

"Makin ke sini makin ada percampuran gaya mulai feminim, maskulin, androgini, hingga sekarang ada pula gender-less; tidak perempuan atau laki-laki. Itulah tren terbaru dan beda di dunia dulu dan sekarang," katanya. (ara/ant)

×
Berita Terbaru Update