-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tuduh Santri Mencuri, Indomaret Didemo, Lalu Minta Maaf

Minggu, 05 Januari 2020 | 12.46 WIB Last Updated 2020-01-05T05:46:20Z

Sejumlah santri mendemo Indomaret Manonjayan.

TASIKMALAYA (DutaJatim.com) - Setelah didemo para santri dan warga, akhirnya manajemen minimarket Indomaret menyampaikan permohonan maaf kepada santriwati Pondok Pesantren Miftahul Huda di Manonjayan, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Hal ini karena pegawai Indomaret Manonjaya telah menuduh santri mencuri barang.

"Atas kejadian ini kami minta maaf. Kami harap kejadian ini dapat diselesaikan dengan kekeluargaan," kata Branch Manager PT Indomarco Prismatama Bandung Dedi Yusup Apriadi melalui siaran persnya yang dikirim ke wartawan di Tasikmalaya, Minggu 5 Januari 2020.

Ia menuturkan bahwa manajemen secara langsung meminta maaf kepada pondok pesantren, khususnya santri, karena tindakan karyawannya yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur perusahaan.

Dedi mengakui tindakan karyawannya itu telah menimbulkan kesalahpahaman sehingga saat kejadian karyawannya pun langsung memohon maaf kepada santriwati yang sempat digeledahnya.

Karyawan yang melakukan tindakan itu, kata dia, akan diberi sanksi sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hal ini menjadi pelajaran bagi manajemen di seluruh minimarket Indomaret.

"Kami akan arahkan karyawan itu untuk meningkatkan pelayanan," katanya.

Sebelumnya, peristiwa itu bermula ketika empat santriwati dari Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya berbelanja di Indomaret Maonjaya, pada Rabu (1/1/2020).

Setelah membayar barang yang dibeli, mereka lalu keluar. Tidak lama berselang, santriwati itu dipanggil oleh pegawai Indomaret, kemudian menuduh mereka telah mencuri, lalu menggeledahnya. Namun, tuduhan itu tidak terbukti.

Selanjutnya, para santriwati menggelar aksi solidaritas dengan mendatangi toko Indomaret Manonjaya, Jumat (3/1/2020). Mereka menuntut manajemen Indomaret meminta maaf dan menutup tokonya.

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda K.H. Asep Maoshul Affandi mengatakan bahwa aksi santrinya itu merupakan bentuk solidaritas dan menuntut pihak manajemen untuk menyampaikan langsung permohonan maaf kepada santriwati.

"Jangan sampai ada stigma terhadap santri, ini masalah harga diri," kata Asep. 


Bukan Kasus Pertama

Dalam kesempatan berbeda  Asep Maoshul Affandy me­ngata­kan aksi pa­ra santri, yang diikuti ju­ga sebagian ma­syarakat men­datangi In­do­maret, itu merupakan spon­tan. 

“Ini bukan pertama kali terjadi. Santri dari pesantren lain pun pernah mengalami. Maka dari itu, kami menuntut pihak Indomaret meminta maaf secara terbuka dan juga melalui media massa,” ujar KH Asep Maoshul.

KH Asep menjelaskan, kejadian itu berawal pada Rabu (1/1) sekitar pukul 11.00. Waktu itu, empat santriwati meminta izin resmi untuk membeli kebutuhan dan diantar pengurus. Kemudian mereka berbelanja kebutuhan ke Indomaret Manonjaya.

Pada saat sedang memilih barang, pegawai bagian pemeriksaan barang Indomaret, kata KH Asep, melihat ada barang yang kurang. Dari hitungan dia empat yang ada di etalase, namun hanya tiga dan langsung menuduh santri Miftahul Huda yang sedang berbelanja.

Salah satu santriwati yang dituduh langsung dibawa ke ruang pemeriksaan bersama pegawai minimarket tersebut.

“Tapi setelah dilakukan pemeriksaan buktinya tidak ada. Bahkan dalam CCTV tidak ada pengambilan barang yang dilakukan oleh santri, jadi tidak ada bukti,” ujarnya, menjelaskan.

Setelah itu, santri pulang dan mengaku syok saat menceritakan kejadian memalukan tersebut kepada pengurus. Karena, pada saat difitnah mencuri, saat itu di Indomaret sedang banyak masyarakat yang berbelanja. Saat itu juga tidak ada klarifikasi atau penjelasan dari Indomaret kepada masyarakat yang ada di sana bahwa santriwati itu tidak terbukti mencuri.

“Jadi ini persoalannya terkesan ada stigma negatif dari pihak Indomaret terhadap santri. Kemudian ada opini masyarakat yang sedang ada di situ dan tidak ada klarifikasi bahwa santri itu tidak benar, mencuri,” katanya.

Memang, kata KH Asep, malam harinya, pegawai yang memeriksa santriwati itu datang secara pribadi ke Ponpes Miftahul Huda untuk meminta maaf.

“Kami kecewa kepada yang berbisnis di daerah Manonjaya. Kami meminta pihak Indomaret klarifikasi. Ini demi citra santri. Kemudian diharapkan harus menghilangkan stigma negatif terhadap santri, kemudian prosedur perusahaannya seperti apa sampai menuduh tanpa ada bukti yang jelas,” ujar KH Asep.

Soal kedatangan santri dan masyarakat ke Indomaret kemarin, kata KH Asep Maoshul, merupakan aksi spontan. Mereka menuntut agar pihak pengelola minimarket itu minta maaf.

“Itu spontan tidak ada perintah, para santri bahkan ada dari berbagai elemen masyarakat berkumpul mendatangi minimarket tersebut, meminta supaya pihak Indomaret minta maaf. Masalahnya kan bukan hanya sekali ini saja kasusnya,” ungkap KH Asep Maoshul.

Menurut KH Asep, pada intinya dari pihak Pondok Pesantren Miftahul Huda tidak menyuruh atau memberi instruksi kepada para santri mendatangi minimarket tersebut.

“Saya juga kaget. Begitu antusias para santri. Jadi ada anggapan, semacam sikap antipati dari pihak pengelola minimarket kepada santri,” kata KH Asep.

Kebetulan, tambah KH Asep, pada saat para santri dan masyarakat datang ke minimarket tersebut, pihak pengelola tidak ada di tempat, termasuk minimarketnya sudah ditutup.

“Tidak ada di tempat, lagi di luar orangnya. Saya lagi mengurus ngaji. Tidak ada perintah. Spontan saja santri. Ternyata bukan hanya santri saja yang datang tetapi masyarakat ikut gabung, karena tahu kondisinya seperti itu,” tegas KH Asep.

Kapolsek Manonjaya AKP Hamzah Nasip mengatakan kedatangan massa ke Indomaret Manonjaya kemarin sore karena tersinggung setelah santri dituduh mencuri di Indomaret. Namun setelah diperiksa, tidak ditemukan apa-apa. (ara/ndc/rdt)

×
Berita Terbaru Update