-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Akhirnya Pramono Anung Luruskan Isu Kediri Angker bagi Presiden, Ada Apa?

Senin, 17 Februari 2020 | 21.00 WIB Last Updated 2020-02-17T14:00:30Z


JAKARTA (DutaJatim.com)  - Sekretaris Kabinet Pramono Anung akhirnya mengklarifikasi soal pernyataannya yang mengatakan bahwa Kediri adalah wilayah "wingit" atau angker bagi seorang presiden. Termasuk bagi Presiden RI Joko Widodo. Bahkan Pramono Anung dikabarkan sempat melarang Jokowi ke Kediri.

Pramono Anung pun banjir kecaman saat memberi contoh bahwa Gus Dur lengser dari kursi presiden juga setelah mengunjungi Kediri. Padahal realitas sejarah, Gus Dur diturunkan dari kursi presiden lantaran persekongkolan elite politik di Jakarta yang juga melibatkan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan.

Salah seorang yang mengecam adalah mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie Massardi. Dia menyebut kejatuhan Gus Dur dari kursi kepresidenan adalah murni permainan politik.


Karena itu pernyataan Pramono Anung yang juga bekas Sekjen PDIP, saat mengaitkan kejatuhan Gus Dur dengan mitos Kediri, menurut Adhie, hal itu dapat dikategorikan sebagai upaya memanipulasi opini publik. 

"Ketika menyebut Gus Dur dilengserkan (setelah berkunjung) dari Kediri, itu termasuk bagian memanipulasi opini publik," kata Adhie seperti dikutip dari CNNIndonesia.com Senin (17/2/2020).

Adhie mengaku tak soal bila politikus PDI Perjuangan itu mempercayai mitos bahwa seorang Presiden akan lengser jika mengunjungi Kota Kediri, Jawa Timur. Namun, dia tidak terima jika mitos tersebut dikaitkan dengan pelengseran Gus Dur.

Gus Dur, menurut Adhie, dilengserkan pada 2001 silam karena masalah politik di tingkat elite yang turut melibatkan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDI Perjuangan.

Status PDI Perjuangan saat itu adalah partai pemenang pemilu. Peran PDI Perjuangan dalam pelengseran Gus Dur terletak dari sikap politiknya mendukung Sidang Istimewa MPR. 

"Secara khusus Megawati (Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri) dan PDIP," ujar Adhie.

"Kalau Megawati tidak mendorong PDIP agar mendukung SI (Sidang Istimewa), itu tidak akan terjadi. PDIP waktu itu merupakan mayoritas di DPR. Dalam konteks itu lah saya menyebut persoalannya dengan Megawati," jelas Adhie.


Pernyataan Pramono soal mitos Kediri yang memantik polemik itu sendiri diucapkan saat berpidato di hadapan kiai pengasuh Pondok Pesantren Hidasyatul Mibtadien Lirboyo, Kediri, Sabtu (15/2/2020) lalu.

Dalam pidatonya Pramono mengaku jadi salah satu orang yang melarang Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kediri. Pramono mengaitkan larangannya itu dengan peristiwa yang dialami Presiden Gus Dur, 2003 silam.

Pramono berkata Gus Dur lengser dari Presiden usai bertandang ke Kediri. Dia tak ingin Jokowi senasib dengan Gus Dur.

"Ngapunten kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden untuk berkunjung di Kediri," ucap Pramono.

"Saya masih ingat, karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo tidak begitu lama gonjang ganjing di Jakarta," tambah Pramono.

Ucapan Pramono itu juga direspons Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief. Dia menduga ada pesan yang mendalam dari pernyataan Pramono itu.

Lewat akun Twitter pribadinya, Andi meyakini tak ada kaitan antara Kediri dengan mitos lunturnya kekuasaan bagi penguasa. Apalagi, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dua kali mengunjungi Kediri selama dua periode sebagai Presiden.

"Tahun 2007 SBY mengunjungi Kediri. Kunjungan kedua di tahun 2014. Pak Pramono Anung sangat mengerti bahwa tidak ada hubungan Kediri dengan pudarnya kekuasaan Pak Jokowi," ujar Andi.

Berkaca dari hal tersebut, Andi menyebut pernyataan Pramono itu lebih menggambarkan pesan bahwa kekuasaan Jokowi saat ini sedang dalam berbagai tekanan. 

Berdalih Tak Diundang

Setelah banjir kritikan, Pramono Anung pun meluruskan pernyataannya itu. Pramono menyebut Jokowi tidak ke Kediri karena memang tidak diundang.


"Kalau Bapak Presiden, saya sebagai pembantu Presiden tentunya akan menyampaikan kepada beliau untuk tidak datang. Ini kata-kata ini, untuk tidak datang, ya, karena beliau tidak diundang. Mana mau datang? Kemudian waktu di-framing beritanya Jokowi takut ke Kediri, 'kan kita tahu bahwa Presiden kita ini tidak takut ke mana-mana," kata Pramono di  Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Senin 17 Februari 2020.

Dia kemudian mengingatkan bahwa dalam sambutan kiai pengasuh ponpes KH Kafabihi Mahrus, beliau saat itu menyampaikan bahwa di Kediri itu ada mitos kalau presiden, wakil presiden, para penggede, pejabat, ke Kediri itu biasanya mengalami nasib yang kurang baik.


"Akan tetapi," lanjut Pramono, "Beliau juga menyampaikan bahwa ada antinya, ada penangkalnya, yaitu kalau mau berkunjung ke tempat Mbah Wasil, beliau adalah kiai makam Syekh Al-Wasil Syamsudin karena oleh beliau, ini beliau ya bukan saya, sebelum adanya wali. Lalu saya memberikan sambutan, macam-macam," kata Pramono menjelaskan.

Menurut Pramono, sambutannya itu mendapat sambutan meriah.

"Saya lahir dan besar di Kediri sehingga saya tahu persis bahwa mitos itu memang ada karena yang diundang dalam acara reuni akbar dan muktamar itu Pak Wapres (Ma'ruf Amin), sambil bercanda saya bilang kalau Pak Wapres monggo saja mau datang karena diundang dan beliau kiai, beliau tahu penawarnya. Semua orang juga ketawa, ngakak," ungkap Pramono.

Menurut Pramono, Presiden Jokowi tidak takut pergi ke mana pun.  Bahkan ke Afghanistan yang masih dalam kondisi berperang.


"Apalagi hanya ke Kediri. Saya melihat berita sudah melenceng jauh dari substansi awal. Saya hanya merespons itu dan beliau secara terbuka mengundang Pak Wapres untuk hadir. Saya sambil bercanda, kalau Pak Wapres diundang 'kan ada mitos tadi, enggak apa-apa karena beliau tahu penangkalnya karena beliau juga salah satu tokoh NU dan ziarah ke makam itu hal biasa," kata Pramono menambahkan.

Namun, Pramono mengatakan bahwa hingga saat ini Presiden Jokowi memang belum pernah diundang ke Kediri.

"Sampai hari ini Pak Jokowi tidak pernah diundang ke Kediri, jadi tergantung undangannya saja," kata Pramono.

Ia pun menegaskan tidak pernah melarang Presiden Jokowi pergi ke Kediri.

"Enggaklah, mana ada. Pak Jokowi itu Presiden RI, saya terus terang kaget jadinya liar banget. Ini bercanda dan menyampaikan Pak Jokowi tidak diundang, dan semua orang gerrr, ketawa," kata Pramono. (ara/hud)

×
Berita Terbaru Update