Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Klarifikasi Imam Shamsi Ali soal Tulisan yang Beredar!

Minggu, 08 Maret 2020 | 07.40 WIB Last Updated 2020-03-08T00:40:04Z



Berhubung “kebohongan” ini kembali diviralkan, rasanya perlu saya klarifikasi kembali. Ini bukan pertama kali saya klarifikasi. Tapi yang kesekian kalinya. 

Tulisan atas nama saya diviralkan pertama kali di tahun 2016 lalu. Entah Kenapa tulisan itu kembali diviralkan saat ini. Dan sejak saat itu saya telah memberikan klarifikasi. Saya hanya tidak faham kenapa kembali diviralkan?

Berhubung  banyak yang menanyakan,  berikut Saya sampaikan klarifikasi itu lagi. 

1. Tulisan yang beredar itu bukan tulisan saya (Shamsi Ali). Walaupun ada satu dua kalimat yang dikutip dari tulisan saya.

2. Saya tidak pernah menuliskan nama sebagai “KH Syamsi Ali”. Selama ini teman-teman di US memberikan tambahan depan nama saya "Imam" dan nama saya selalu "Shamsi Ali".

3. Bahasa saya dalam penulisan tidak pernah bernada menghujat dan membangkitkan kemarahan dan permusuhan. Karena sejatinya saya yang mendakwahkan sopan santun, persatuan, dan berpikiran positif. 

4. Saya tidak pernah menghujat dan menjelekkan pemerintah, walaupun mungkin mengkritik dan mengingatkan jika ada hal-hal yang saya anggap tidak sesuai. Sebaliknya  mendukung semua kerja dan usaha mereka yang tidak merugikan umat, bangsa dan negara, serta untuk kepentingan umum masyarakat. 

5. Perihal pernyataan Ketua Dewan Gereja New York tentang Ahok, itu sekedar harapan seseorang untuk kelompoknya. Tapi bukan kebijakan Dewan Gereja "mengkader" seseorang untuk menjadi presiden. 

Sederhananya, kira-kira persis jika ada orang Islam yang mengatakan: mari kita doakan agar Shamsi Ali menjadi walikota New York. Itu harapan umat untuk saya. Dan itu sangat wajar karena semua orang punya "social solidarity" (solidaritas sosial) untuk melihat kelompoknya sukses dan menang.

6. Saya meminta kepada yang menulis dan menyebarkan “kebohongan” ini untuk berhenti dan meminta maaf. Bahkan jika pun konten tulisan ini benar, menuliskannya atas nama orang lain (saya) adalah kebohongan dan pengkhianatan itu sendiri. 

Akhirnya saya ingatkan bahwa dalam Islam itu “tujuan dan cara” selalu singkron. Tujuan mulia tidak akan tercapai dengan cara yang salah. Jangan-jangan tulisan ini punya tujuan yang dianggap baik. Tapi mencaplok nama orang adalah kebatilan. Dan itu paradoks!  (*)

New York, 7 Maret 2020

Wassalam

Imam Shamsi Ali
(New York, USA)
×
Berita Terbaru Update