-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Apa Virus Punya Rasa Takut?

Wednesday, April 22, 2020 | 8:47 AM WIB Last Updated 2020-04-22T01:48:45Z



oleh Emha Ainun Nadjib


RASANYA sekarang ini sedang Maiyahan di lapangan, massa Jamaah Maiyah dibagi tiga kelompok, bergiliran melantunkan dengan suara keras dan jiwa total: “Alhamdulillah. Wasy-syukru lillah. Azka shalati wa salami li Rasulillah”.

Para penggiat Maiyah kemarin sambung sedunia satu sama lain. Jamaah Jimat Tuban sehat. Serdadu Cinta Bojonegoro sehat wal afiat. Jamaah Waro` Kaprawiran Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo sehat dalam lindungan Allah. Maiyah Balitar dikawal Syafaat Rasul. Segi Wilasa Agung Tulungagung tidak kurang suatu apa. Batu Aji Batu Malang fis-sihhah wal-‘afiah. Jembaring Manah Jember nglenyer lancer hidupnya. Masuisani Bali tetap jalan di Wageh, Sabur dan lingkaran kecil di kampung-kampung. 


Ma’syar Maiyah Mahamanikam “tajri min tahtihal anhar.” Papperandang Ate Tinambung Mandar ceria sumringah. Bahkan Mamak Cammana Limboro langsung telepon dengan vokal ekspresif tapi mendalam. Perantau-perantau Tong Il Qoryah Korea Selatan terjaga dan stabil. Mafaza Amsterdam, Belanda, Jerman secara keseluruhan dikebalkan hidupnya, Nafis sempat tertular karena merawat para pasien tapi sudah pulih alhamdulillah. Thobib dan semuanya di Jeddah Mekah Madinah diseliweri para Malaikat pelindung pecinta-pecinta Allah dan Rasulullah.

“Alhamdulillah. Wasy-syukru lillah. Azka shalati wa salami li Rasulillah”. Di setiap wilayah Simpul para Jamaah Maiyah ajur-ajèr kerja sosial, pertahanan kesehatan, suplai perekonomian bersama masyarakat dan Pemerintah masing-masing.


Jamaah Maiyah merutinkan “Qathrata Luthfi Muhammad”. “Astaghfirullah” tanpa hitungan dan batas waktu. Jamaah Maiyah hanyalah partikel-pertikel amat kecil di kaki Kursi Allah yang meliputi seluruh Arasy, maka memenuhi detik demi detik dengan Ayat Kursi dengan “wala yauduhu hifdhuhuma” disembilankalikan, tak kan ada kekuatan selain Allah yang berlaku pada partikel-partikel singgasana-Nya itu. Setiap air di gelas yang diminum oleh Jamaah Maiyah mateg aji “Lau anzalna hadzal Qur`ana”, sehingga virus penyakit sebesar gunung pun “khosyi’an mutashoddi’an” karena “min khosyatillah”. Gunung-gunung saja berlari terbirit-birit karena takut kepada Allah. Apalagi makhluk sekecil Covid-19.

Lho apa virus punya rasa takut? Apakah dia punya jiwa, hati dan perasaan? Tidak perlu berdebat. Biarin saja. Allah sendiri yang bilang begitu. Sebagaimana “Sabbaha lillahi ma fissamawati wama fil ardli”, bertasbih kepada Allah semua yang di langit dan di bumi. Dari Malaikat sampai cacing. Dari galaksi dan planet-planet hingga debu yang berterbangan.

Sementara itu, sebagian yang memiliki waktu dan peluang untuk “Tahlukahan” semoga merupakan vaksin hayati ketika menyebar Tahlukah Corona.

Ketika dalam sebuah hadits qudsy Allah “mengeluh”: “Wahai hamba-Ku, aku sakit engkau tidak menjenguk-Ku. Aku haus engkau tidak memberiku minuman. Aku lapar engkau tak memberiku makan” -– di era Corona inilah semesta penghayatan atasnya bercahaya-cahaya berbinar-binar. Jamaah Maiyah mengerti bahwa poinnya bukan Allah merasa lapar, haus dan kesepian. Fokus tematik dinamisnya adalah engkau selalu saling menyapa, menemukan siapa saja yang kelaparan dan kehausan untuk engkau kirim pemenuhannya.

Pintu-pintu penghidupan ditutup di mana-mana. Segala bentuk dan keperluan untuk bertemu antara manusia dibatasi oleh kekhawatiran menjangkiti atau dijangkiti penyakit. Tidak bisa duduk berjajar rapat di bangku angkringan, warung-warung kecil atau gerombolan apapun yang biasanya merupakan tradisi sehari-hari manusia. Tidak ada kejelasan berapa jumlah orang yang positif terpapar Covid-19 di sekitarmu dan di negerimu. Kau sehat wal afiat bisa ternyata terpapar dan bisa memapari orang di dekatmu. Yang kelihatan tidak terjangkit ternyata sudah terjangkit. Kau sudah pesan makanan lewat jalur maya, ketika makanan datang, engkau memberi tips atau si pengantar memberikan uang kembalian, kalau kau tidak segera cuci tangan, ternyata kemudian positif Corona.


Siapakah dan apakah andalanmu untuk aman dari penyakit? Pemerintah belum menyeluruh sama sekali upaya verifikasinya terhadap penduduk di negeri yang luasnya sak-hohah ini. Kalau tiba-tiba engkau merasakan gejala Covid-19 sebagaimana yang banyak diumum-umumkan, tidak ke sembarang rumah sakit kau bisa mengeluhkan keadaanmu. Para dokter dan petugas kesehatan juga menderita luar biasa, terutama karena belum punya alat dan bahan untuk menyembuhkanmu. Andalanmu adalah disiplin hidupmu sendiri. Andalanmu adalah kesehatan dan daya tahan tubuhmu sendiri. Andalanmu adalah keberesan hubunganmu dengan Tuhan. Andalanmu adalah spekulasimu sendiri yang dilandasi tawakkal, atau tawakkal yang sejatinya bersifat spekulatif.

Kita semua sangat merasakan kesengsaraan batin karena tidak punya kelengkapan ilmu dan pengetahuan tentang penyakit yang sedang mengepung kita semua. Itu pun menurut Allah hanya ujian iman, rekomendasi kesabaran dan kesungguhan taqwa dan tawakkal. “Bagi mereka adzab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya adzab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun selain (adzab) Allah.” (Ar-Ra’d). Sudah ada puluhan upaya di dunia, termasuk oleh Jamaah Maiyah di Nahdlatul Muhammadiyin, untuk menemukan obat penawar Covid-19. Tetapi semuanya belum ada yang fix, masih butuh menunggu waktu untuk proses uji coba-uji coba.

Lebih tidak bisa diandalkan lagi mekanisme ilmu modern yang tidak kunjung memvalidkan informasi tentang virus gila ini hasil mekanisme alam, bikinan manusia ataukah kehendak Tuhan. Di satu pihak ada kabar-kabar tentang Covid-19 adalah bikinan Lab di Wuhan, kemudian pihak lain meragukannya dan pihak lain lagi membantahnya.

Virus Corona ini mengajukan banyak pertanyaan kepada kecanggihan peradaban manusia abad 20-21, baik yang levelnya kesehatan, kedokteran dan farmasi. Atau biologi dan perang abadi kekuatan-kekuatan adidaya dunia. Atau yang kaitannya dengan “idza arada syai`an an yaqula lahu Kun Fayakun”. Sampai hari ini tidak ada yang tegas pernyataannya tentang pandemi ini.

Akan tetapi di tengah gelap-gulita ini, memancar seberkas cahaya: Jamaah Maiyah didekap oleh para Malaikat yang menjalankan perintah perlindungan Allah Swt. “Alhamdulillah. Wasy-syukru lillah. Azka shalati wa salami li Rasulillah.” (*)


* Naskah asli tulisan Mbah Nun ini bisa dibaca di caknun.com.  



×
Berita Terbaru Update