-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Belajar Jadi Muslim ke Profesor Jackie Ying, Sang Penemu Rapid Test Corona

Wednesday, April 22, 2020 | 3:04 PM WIB Last Updated 2020-04-22T08:04:58Z




Bencana pandemi virus Corona (COVID-19) seharusnya menggerakkan para ilmuwan untuk melahirkan karya cipta ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia kesehatan. Selain vaksin anti-virus, saat ini paling berguna adalah alat tes cepat deteksi virus Corona. Rupanya alat tersebut ditemukan seorang ilmuwan muslim. Namanya Profesor Jackie Ying. Saat ini dia menjadi Kepala Laboratorium NanoBio di Agency for Science, Technology and Research, Singapura.



NEGERI Singa sigap menghadapi wabah Virus Corona. Semua pihak dikerahkan. Dikoordinasikan dengan baik. Bahu-membahu. Bukan hanya politisi yang kadang tak tahu diri. Tapi termasuk pula para ilmuwannya.


Bahkan Singapura menjadi negara Asia pertama yang mengklaim ilmuwannya telah berhasil menciptakan alat tes cepat alias rapid test virus corona Covid-19. Alat ini bahkan diklaim bisa memberikan hasil pemeriksaan hanya dalam waktu 5 menit saja.

Alat tersebut ternyata ditemukan seorang Muslimah bernama Profesor Jackie Ying. Perempuan muslimah ini sekarang mengepalai Lab NanoBio di Agency for Science, Technology and Research. Lalu apa yang membuat sang profesor cepat menemukan alat tersebut? 


Jawabannya karena dia mendapat pengetahuan dari Islam agar selalu memberi manfaat kepada umat. Apalagi di tengah musibah. Lebih dari itu, dari segala ilmu pengetahuan yang digelutinya selalu ada Allah SWT di dalamnya.

Ya, Profesor Ying yang lahir tahun 1966 di Taipei, Taiwan, merupakan seorang peneliti teknologi nano lulusan bidang Bioenginering dan Nanoteknologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).  Profesor Ying tumbuh di Singapura setelah keluarganya memutuskan pindah ke negeri Singa. Sebagai seorang mualaf, Profesor Ying punya pandangan yang cukup menarik tentang agama dan sains-teknologi.


" Jika kamu benar-benar ingin mempelajari ilmu pengetahuan, maka kamu harus percaya pada Penciptanya," katanya, seperti dikutip AboutIslam.


Perjalanan hijrah Profesor Ying diawali ketika dia sekolah di Singapura setelah keluarganya pindah ke negeri jiran itu.  Profesor Ying menghabiskan masa kecil dan remajanya di Singapura. Dia masuk Raffles Girls' School yang merupakan sekolah unggulan.


Di sekolah itu dia tidak punya teman anak Melayu, kelompok etnis yang biasanya dikaitkan dengan Islam di Singapura. Dia baru mengenal berbagai macam latar belakang etnis dan agama setelah masuk di sekolah menengah pertama. Sejak itu Profesor Ying mengaku menjadi sangat penasaran tentang berbagai agama yang dianut oleh teman-temannya.


"Saya selalu ingin tahu tentang tujuan dan makna hidup. Dan dalam agama, kami menemukan banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini," katanya.


Sejak sekolah menengah pertama, Profesor Ying belajar banyak tentang agama, termasuk agama Islam.  Profesor Ying baru menerima Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat ketika telah berusia sekitar 30 tahunan. Banyak alasan yang membuat Profesor Ying tertarik untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya keyakinannya.


Dalam Islam, Muslim dituntut untuk selalu mencari pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, katanya, seorang Muslim bisa berguna bagi masyarakatnya.

" Setiap kali mempelajari ilmu pengetahuan, kami selalu merujuk kepada keberadaan Allah SWT. Jadi, saya tidak berpikir bahwa keduanya (agama dan sains) bertentangan satu dengan yang lain," kata Profesor Ying.

Menjadi seorang ilmuwan yang berkomitmen membantu masyarakat, Profesor Ying melihat kebenaran bahwa Allah SWT, Sang Pencipta, ada di balik hal-hal yang dia pelajarinya. Alasan lainnya Profesor Ying menerima Islam adalah karena agama ini memiliki konsep yang mudah. Islam agama yang sederhana.

Selain itu, orang akan sangat terkejut bahwa di dalam Al Quran terdapat banyak pengetahuan yang luar biasa. "Ketika saya pertama kali membuka Al Quran, jelas bagi saya bahwa ini adalah buku yang sangat, sangat istimewa dan luar biasa," katanya.


Setelah menjalankan umrah untuk pertama kalinya, Profesor Ying segera memakai jilbab. Ini sekaligus menunjukkan secara terbuka hubungannya dengan Islam dan keyakinannya pada Allah kepada semua orang. 

Muslimah Berpengaruh

Sebagai seorang ilmuwan, dia telah menerima puluhan penghargaan dan juga menerbitkan ratusan artikel akademik tingkat tinggi di bidangnya. Sementara sebagai seorang Muslimah, Profesor Ying sangat aktif berdakwah di Singapura.

Jackie Ying merupakan seorang pakar kimia yang telah memenangkan banyak penghargaan termasuk di antaranya 100 insinyur era modern yang dinobatkan oleh American Institute of Chemical Engineers. Juga termasuk 500 muslim berpengaruh di dunia. 

Dia juga termasuk satu dari 100 anak muda di dunia yang diharapkan menjadi inovator terkemuka abad ke-21 oleh Technology Review, majalah inovasi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika.

Seperti dilihat dari website Rahyafteha, Rabu (22/4/2020), Profesor Jackie Ying memang muslimah luar biasa. Ia menjadi profesor di MIT pada usia 35 tahun dan terpilih untuk Leopoldina (Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Jerman) pada usia 39 tahun.

Dia juga telah menulis ratusan artikel di bidangnya tentang bahan dan perangkat berstruktur nano dan memiliki lebih dari 130 paten yang diterbitkan atau ditangguhkan. Profesor Jackie Ying terpilih sebagai Fellow Masyarakat Riset Material 2013. Menurutnya, masyarakat adalah organisasi peneliti, dan bahan penelitian terbesar di dunia.
Sebagai seseorang yang memiliki kecerdasan luar biasa Profesor Jackie Ying selalu haus akan ilmu pengetahuan. Bahkan sejak sekolah menengah pertama di Singapura, dia belajar berbagai agama, termasuk Islam.

Tepat pada tahun 2004, Profesor Jackie Ying memutuskan untuk memeluk agama Islam saat usianya yang telah memasuki umur 30-an. Ia juga sudah melaksanakan umrah pada 2013 lalu dan memutuskan untuk menggunakan hijab setelah kembali dari Makkah.

Bagi Profesor Jackie Ying, memakai hijab merupakan kewajiban agama. Ia tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentangnya sebab agama adalah masalah personal. Yang penting baginya hanya mendapatkan ridha Allah SWT sehingga mendapatkan pahala.


Profesor Jackie Ying menceritakan, memang ada tantangan sebagai seorang peneliti perempuan dan juga seorang muslimah. Kedua hal ini merupakan minoritas. Namun dia menilai dalam hidup selalu ada tantangan dan perjuangan yang harus dijalani tanpa putus asa.


Dia juga mengaku bekerja dua kali lebih keras dan beruntung dipromosikan dengan cepat sebagai profesor. Selama bertahun-tahun dia juga selalu berinisiatif untuk memperkenalkan sains kepada generasi muda agar lebih tertarik untuk mencintai sains.

Profesor Jackie Ying sering membawa para siswa ke laboratorium. Dia memberikan mereka pemahaman dan juga pentingnya keberadaan sains. Tampaknya usaha yang dilakukannya tidak sia-sia, setelah 134 siswa telah mengambil beasiswa sains dan 34 dari mereka telah bergabung dengannya sebagai staf. Alhamdulillah, sebuah pencapaian yang luar biasa! 

Begitulah. Profesor Ying adalah contoh yang indah tentang bagaimana seorang Muslim berkontribusi terhadap penelitian dan sains tanpa melupakan Allah SWT sebagai Penciptanya. Termasuk di tengah wabah Corona. (okz/l6)


Foto: Profesor Yin dan koleganya. (The Straits Times)
×
Berita Terbaru Update