-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bisnis Baru: Antar Pemudik Nekat!

Wednesday, April 29, 2020 | 10:27 PM WIB Last Updated 2020-04-29T15:27:41Z

 Pemudik diawasi ketat seperti di Check Point Tol Ngawi yang dihadiri Gubernur Khofifah ini.

JAKARTA (DutaJatim.com) - Selalu ada celah mencari keuntungan, termasuk dalam kesempitan situasi dicekam bencana virus Corona. Wabah virus Corona membuat Presiden Jokowi memutuskan  melarang mudik ke kampung halaman untuk merayakan hari Raya Idul Fitri 1441 H/ 2020 bagi semua orang. Larangan mudik resmi  berlaku sejak 24 April 2020. Langkah ini diambil demi menekan penularan virus Corona di Indonesia, tapi justru larangan mudik ini menjadi peluang bisnis baru bagi sejumlah oknum yang bergerak di bidang jasa transportasi.


Hal itu karena masih banyak masyarakat hendak pulang ke kampung halaman demi bertemu keluarga saat Lebaran. Di media sosial beredar foto yang menunjukkan pemudik nekat rela duduk di dalam bagasi bus yang diduga demi bisa mudik ke kampung halaman. 

Model usaha mengantar pemudik diam-diam dan terselubung ini diperkirakan akan marak meski risikonya diminta putar balik saat razia PSBB. Termasuk angkutan barang atau sembako yang diperbolehkan melintas saat PSBB juga rawan disusupi pemudik nekat tersebut.

Saat dikonfirmasi Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan, saat di lapangan yang melakukan pengawasan adalah aparat kepolisian. Jika memang ditemukan hal tersebut di pos pengecekan, pasti akan diminta putar balik. 

"Saat ini pun petugas telah melakukan pengecekan terhadap kendaraan barang khususnya truk, untuk memastikan yang diangkut memang benar-benar barang bukan orang," kata Adita kemarin.

Adita juga mengatakan, bagi para pemudik nakal yang berhasil lolos dari Jabodetabek bukan berarati mereka pasti bisa sampai kampung halaman. Sebabnya, penyekatan pemudik terjadi di banyak titik bahkan sampai kota tujuan si pemudik.

"Kalaupun ada masyarakat yang berhasil keluar dari Jabodetabek dengan jalan darat menggunakan kendaraan pribadi atau motor misalnya, perlu disadari bahwa nanti akan ada banyak check point lagi di titik-titik menuju daerah tujuan. Selain itu di daerah tujuan belum tentu akan diterima dengan baik, karena sudah banyak wilayah yang
saat ini juga melakukan pengetatan terhadap pemudik yang masuk ke wilayahnya, bahkan banyak yang ditolak," katanya.

Misalnya di Ciamis. Pemudik di daerah ini terus bertambah jumlahnya mencapai 34.062 orang. Pemkab Ciamis meminta camat dan kades menyiapkan tempat karantina lokal mandiri untuk mengontrol pemudik.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menjelaskan tempat karantina lokal mandiri di tingkat Desa dan Kecamatan ini fungsinya sama seperti Karantina lokal terbatas, yang sebelumnya telah diberlakukan Pemkab Ciamis. Berfungsi untuk tempat pengecekan dan pemeriksaan warga dari luar daerah yang pulang ke kampung.

"Upaya pengecekan bagi para pemudik yang baru datang agar dilakukan screening dasar sebelum kembali ke keluarganya di tempat khusus yang disediakan oleh setiap Desa atau Kecamatan. Seperti cek suhu tubuh, asal keberangkatan dan diarahkan untuk melakukan isolasi mandiri," jelasnya.

Herdiat mengatakan warga yang kini telah pulang kampung dari luar daerah termasuk zona merah jumlahnya cukup banyak. Setiap hari terus bertambah kini mencapai 34.062 orang yang tersebar di 27 Kecamatan.

Herdiat meminta kepada Camat dan Pemerintah Desa agar terus memberikan imbauan bagi warganya yang berada di zona merah untuk tidak mudik sementara. Hal itu bisa menjadi salah satu wujud kasih sayang kepada keluarga.

Risiko lain pemudik satu kendaraan semua kena virus Corona. Hal itu terjadi di Cilacap. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Pramesti Griana Dewi, membenarkan kejadian para penumpang travel mudik semua terkena Corona. Mereka adalah warga Kecamatan Cimanggu, Cilacap. Seluruhnya kini sudah diisolasi di rumah sakit.

Pramesti mengatakan jumlah keseluruhan pemudik itu adalah delapan orang. Mereka masuk kategori orang tanpa gejala (OTG), tapi dari hasil rapid test dinyatakan positif COVID-19. "Masih rapid test. Mereka sudah diisolasi di RSUD Majenang, sambil menunggu hasil swab yang sudah dikirim ke laboratorium di Yogyakarta," kata Pramesti, Rabu (29/4/2020). (det/wis)

×
Berita Terbaru Update