-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Puasa Mengasah Jiwa, Inilah 9 Etikanya

Wednesday, April 29, 2020 | 10:59 PM WIB Last Updated 2020-04-29T15:59:00Z



Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

(Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”)


“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]:183)


SAYA sadar bahwa ayat tentang puasa di atas sudah amat sering Anda baca, sehingga seperti telah kehilangan aktualitas. Tapi, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengulas ayat itu kembali setelah merenungi puasa kita selama ini yang menurut saya amat jauh dari berkualitas, lebih-lebih setelah saya membaca salah satu literatur tentang puasa yang benar-benar menampar wajah saya.


Jika Anda hayati secara mendalam, firman Allah di atas menuntut kita untuk menjadi orang cerdas. Untuk berpuasa, Anda tidak harus menunggu diperintah Allah, sebab Anda pasti sudah faham bahwa pencernaan Anda telah melakukan pekerjaan yang amat berat selama sebelas bulan untuk mencerna makanan siang dan malam.


Makanan yang Anda masukkan ke dalam perut juga hampir tanpa seleksi, sebab hanya berdasar selera yang memuaskan tenggorokan, bahkan tanpa dikunyah secara lembut, sehingga memberatkan kerja pencernaan. Oleh sebab itu, kecerdasan Anda sudah cukup menjadi sumber perintah puasa Anda, agar perut bisa istirahat sebulan di siang hari.

Berapa lama kita menjadi muslim dengan ritual shalat setiap hari dan puasa sebulan setahun sekali. Tapi, cobalah Anda mendaki  gunung, lalu genggamlah beberapa batu yang Anda jumpai. Tanyakan kepada hati nurani, manakah yang lebih keras: batu di tangan Anda atau hati Anda?


Jangan jawab dulu, sebelum membaca firman Allah SWT berikut ini:

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr [59:21).

Ternyata, selama ini hati kita tidak bergetar, jiwa kita tidak tercambuk dengan firman Allah yang setiap hari kita baca dan kita dengar. Oleh sebab itu, sekali lagi, perintah puasa sebenarnya layak timbul dari diri Anda sendiri untuk melatih jiwa mengekang hawa nafsu dan mengasah kepekaan jiwa Anda.

Jika Anda membaca sejarah orang-orang shaleh terdahulu, Anda pasti faham, bahwa mereka bisa meraih kemuliaan, ketajaman spiritual dan keluhuran peradaban disebabkan mereka telah membiasakan puasa dan semangat berkarya yang luar biasa. Karya besar yang terbaik selalu dihasilkan dari otak yang cerdas dan hati yang bersih.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Anda bisa memahami mengapa perintah puasa dalam firman Allah yang dikutip di atas berbetuk kalimat pasif, tanpa menyebutkan siapa yang mewajibkan puasa:

 “..diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Puasa yang dilakukan semua generasi manusia bersumber dari pemikiran mereka sendiri di samping dari perintah Tuhan.  Ujung ayat di atas menunjukkan untuk apa Anda berlapar-lapar puasa. Tidak lain agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa tercermin dalam kehidupannya yang tiada pernah putus hubungannya dengan Allah, kerendahan hati, kepekaan sosial, kejujuran, dan optimismenya dalam menjalani kehidupan di  tengah masyarakat.

Untuk membentuk pribadi unggul dan berkualitas, Anda sebaiknya tidak hanya berpuasa berdasar aturan-aturan standar belaka, tapi harus juga diperhatikan beberapa etika puasa.


Pertama, sertakan semua indera Anda untuk berpuasa, sebab kemuliaan Anda sangat ditentukan ketakwaan indera tersebut.

Puasa perut, tanpa puasa indera adalah puasa nihil makna. Puasa harus dilakukan bersamaan antara puasa perut, puasa di atas perut yaitu hati dan kepala dan puasa di bawah perut yaitu nafsu seksual.

Kedua, bebaskan perut Anda dari makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur yang tidak jelas halalnya (syubhat), apalagi yang haram. Jangan sekali-kali berbuka puasa dengan makanan yang syubhat. Juga, pilihlah tempat berbuka yang bernuansa ilahiyah.

Maka berbuka dengan keriangan di  tengah keluarga, di mushalla, masjid atau bersama dengan orang-orang miskin jauh lebih merangsang kemuliaan daripada di warung, pasar atau hotel-hotel.

Ketiga, puasakan semua anggota badan Anda dari tindakan yang tidak bernilai atau tidak menambah poin kebajikan akhirat, walaupun tindakan itu diperbolehkan. Ingatlah pesan Nabi SAW:

“Termasuk tanda ketinggian iman seseorang adalah keberhasilannya menjauhi hal-hal yang tidak bernilai baginya.”

Perintah Nabi SAW tersebut harus diperhatikan, lebih-lebih pada bulan suci. Anda harus selektif: benar-benar cerdas memilih yang sangat bernilai ketika Anda di depan televisi, internet, telepon seluler dan sebagainya.

Keempat, hindari tidur berkepanjangan di siang hari sehingga produktifitas kerja Anda menurun dan mengumbar nafsu makan di malam hari sehingga Anda bermalasan ibadah. Anda dipastikan gagal memberikan pelatihan jiwa jika etika ini dilanggar.

Kelima, makanlah dengan porsi dan menu seperti hari-hari biasa di luar Ramadhan. Jauhi Ramadhan konsumtif apalagi berlebih dan mengundang kemubadziran. Semua makanan yang melebihi kebutuhan tubuh menjadi investasi penyakit masa depan. Dengan memperhatikan etika keempat dan kelima, Anda diharapkan berhasil “menerawang” (mukasyafah) akhirat lebih jelas, bisa menikmati kemesraan dengan Allah dan meraih cahaya Ramadhan yang sesungguhnya. Orang-orang shaleh terdahulu selalu menambah ibadah Ramadhan sekalipun sudah maksimal ibadahnya di luar Ramadhan. Mereka juga bersungguh-sungguh mengurangi syahwat makanan di malam hari.

Keenam, jadikan Ramadhan bulan sedekah berupa pemberian makanan berbuka untuk mereka yang berpuasa, memberi makanan untuk penguat puasa mereka berikutnya, dan membebaskan penderitaan fakir miskin.

Senyum orang-orang miskin adalah senyum Allah untuk Anda. Kesegaran kerongkongan mereka adalah kesegaran kerongkongan Anda di surga kelak. Pahala puasa mereka yang berbuka dan makan sahur atas uluran tangan Anda adalah pahala puasa Anda yang berlipat-lipat.

Ketujuh, lakukan shalat Tarawih dengan tenang (tumakninah), tidak tergesa-gesa dalam semua gerakannya serta memperhatikan aturan dan keindahan bacaan Al Fatihah dan surat-surat lainnya. Para sahabat Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu melakukan shalat dengan beberapa kali menuntaskan bacaan 30 juz Al Qur’an dan beristirahat (Tarawih) sejenak di sela-sela pelaksanaan shalat malam.

Jika tidak bisa meniru demikian, maka jangan terlalu jauh dari kebiasaan mereka, apalagi menjadi orang “bodoh” (istilah Habib Abdullah bin Haddad) yang dikendalikan setan selama Tarawihnya. Berhati-hatilah dengan perangkap setan selama ibadah malam.

Kedelapan, bersiaplah setiap malam, lebih-lebih pada sepuluh malam terakhir untuk menyambut malam seribu bulan: Lailatul Qadar. Cahaya malam istimewa itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang menyiapkan hati untuk menyongsongnya. Kaca yang tertutup debu tidak akan tertembus sekuat apa pun cahaya.

Kesembilan, lakukan apa saja yang menguatkan silaturrahim dan persatuan umat. Hindari hal-hal yang mengundang konflik dan perpecahan. Tunjukkan selama puasa bahwa Allah SWT ada di mulut, mata, telinga, tangan dan semua anggota tubuh Anda sehingga yang terpancar dari diri Anda adalah ketulusan, kesejukan dan kasih sayang.


Barangkali, itulah sembilan etika yang kita abaikan selama sekian kali Ramadhan, sehingga kita masih jauh dari predikat pribadi yang shaleh, sebagaimana tujuan utama puasa. Anggaplah Ramadhan ini Ramadhan terakhir dalam kehidupan Anda, dan jadikan Ramadhan tahun ini tonggak perubahan besar hidup Anda: la’allakum tattaqun.

(Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad dan beberapa sumber lainnya). (*)



×
Berita Terbaru Update