-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Duh..., Dokter di Surabaya Meninggal karena Corona, Istrinya Kritis

Rabu, 20 Mei 2020 | 15.33 WIB Last Updated 2020-05-20T08:33:34Z


SURABAYA (DutaJatim.com) - Keluarga besar tenaga kesehatan kembali berduka. Setelah seorang perawat di RS Royal Surabaya yang tengah hamil 4 bulan, Ari Puspita Sari, meninggal dunia pada Senin 18 Mei 2020 karena direnggut virus Corona, kali ini seorang dokter bernama Boedhi Harsono juga dikabarkan gugur dalam tugas melawan wabah ini. Dokter itu bekerja di sebuah rumah sakit di Surabaya, Jawa Timur. Dia disebut-sebut mengembuskan napas terakhir setelah terpapar Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19.

Kabar meninggalnya Boedhi mulanya tersebar di akun Instagram Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Saat dikonfirmasi wartawan, Ketua IDI Jawa Timur, Sutrisno, membenarkan kabar  duka itu. Informasi yang dia terima, Boedhi meninggal dunia setelah menjalani perawatan karena terpapar corona.

"Infonya beliau (terpapar) Covid-19 positif, namun ada penyakit lain yang diderita juga, selain umur (Boedhi Harsono) yang lebih dari 60 tahun," kata Sutrisno saat dikonfirmasi wartawan pada Rabu 20 Mei 2020 siang ini.

Yang membuat semakin memilukan, istri Boedi yang juga seorang dokter spesialis penyakit jantung, Theresia Muktiwidjojo, juga dikabarkan tengah kritis setelah dinyatakan positif corona. Dia kini tengah dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya. "Istrinya juga (terpapar) Covid-19," kata Sutrisno.

Seperti diberitakan DutaJatim.com sebelumnya, seorang perawat RS Royal Surabaya yang tengah hamil, Ari Puspita Sari, meninggal dunia pada Senin 18 Mei 2020, karena terpapar corona. Ia sebetulnya sudah dipindah bertugas untuk pasien non-Covid-19. Diduga, Ari tertular corona di luar lingkungan rumah sakit saat cuti beberapa hari.

Kasus meninggalnya salah seorang perawat di RS Royal Surabaya itu semula dinyatakan negatif rapid test ternyata test PCR menyatakan positif Covid-19. Perawat bernama Ari Puspitasari ini sebelumnya dirawat di RS Angkatan Laut Surabaya, hingga akhirnya meninggal. Ia diketahui tengah hamil 4 bulan.

Tim Kuratif Gugus Tugas Provinsi Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi, mengatakan petugas langsung melakukan kajian dan penelitian untuk mencari tahu penyebab kematian perawat ini. Indikasi awal bahwa si perawat ini hamil, sehingga membuat daya tahan tubuh semakin lemah dan berkurang.

Ketua Rumpun Kuratif ini mengatakan bahwa pihak RS Royal Surabaya dan manajemen telah menyarankan agar perawat Ari mengambil cuti karena sedang hamil. Namun mendiang tetap masuk kerja hingga akhirnya kondisi kesehatannya melemah. Perawat Ari terindikasi memiliki gejala mirip pasien corona, sehingga segera dilakukan rapid test. Namun hasilnya non reaktif. Mendiang lalu mengikuti test lanjutan PCR dan hasilnya positif.

Kata dr Joni, Ibu hamil masuk kategori rentan terjangkit Covid-19, karena imunitas tubuh akan mudah berubah. Risiko kematian pun lebih tinggi dibandingkan dengan pasien positif Covid-19 biasa.

“Yang rentan juga ketika ada penyakit bawaan atau comorbid, semisal diabetes, jantung, dan usia lanjut,” ujarnya.

Dokter Joni mengaku sudah berkomunikasi dengan Direktur RS Royal Surabaya. Menurut pihak rumah sakit, mendiang Ari juga telah dipindahtugaskan merawat pasien non-covid. “Herannya rapid tesnya dua kali negatif. Dua kali rapid tes negatif tetapi tes PCR-nya positif,” kata dr. Joni.

Hal ini menunjukkan bahwa posisi orang dalam risiko, semisal hamil, hypertensi, dan diabetes sangat berbahaya karena ia tidak punya ketahanan tubuh anti gen virus.

Dengan adanya kasus ini, dr. Joni menekankan pentingnya pembatasan sosial berskala besar. Karena hal itu termasuk salah satu cara melindungi masyarakat yang memiliki penyakit bawaan dan berisiko tinggi terjangkit virus corona. (vvn/ndc)
×
Berita Terbaru Update