-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Khadijah dan ‘Matahari Tengah Malam’

Senin, 18 Mei 2020 | 11.20 WIB Last Updated 2020-05-18T05:23:33Z

“Kabar inilah yang membuat Khadijah, lebih dulu tahu, siapa sosok Muhammad itu. Dia bukan sembarang orang, dia paham Muhammad adalah lelaki yang menyandang status nabi akhir zaman.”

Oleh Lia Istifhama*


HARI sudah pagi. Matahari baru saja menampakkan sinar lembutnya dari ujung timur. Tiba-tiba ada seorang perempuan lari, bergegas menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal.





Wajahnya begitu cemas. Karena, semalam, perempuan itu baru saja bermimpi melihat matahari besar dengan sinarnya yang terang, turun dari langit dan, berhenti tepat di atas rumahnya.

“Sinarnya begitu terang. Begitu indah. Sangat menenteramkan hati. Dalam kehidupan saya, belum pernah melihat sesuatu yang memikat hati, seperti dalam mimpi itu. Wahai saudaraku, Waraqah, apa itu?” 


Begitu kira-kira kalimat yang disampaikan perempuan pemilik nama Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murra bin Ka’ab bin Gholib bin Fihr itu.

Dari kisah ‘Matahari Tengah Malam’ inilah Khadijah mendapat pencerahan dari Waraqah bin Naufal, lelaki yang dikenal menguasai kitab-kitab suci terdahulu. Setelah menyimak, mendengar dan berusaha memahami satu per satu kisahnya, Waraqah berkesimpulan, bahwa, akan terjadi sesuatu yang luar biasa kepadanya.

“Bergembiralah, wahai sepupuku! Seandainya Allah benar-benar menjadikan mimpimu kenyataan, maka, cahaya kenabian akan masuk ke dalam rumahmu. Dan, darinya akan terpancar risalah nabi akhir zaman,” begitu takwil Waraqah yang membuat Khadijah semakin terharu, bahagia dan gembira.

Almaghfurlah KH Maimoen Zubair, menggambarkan kecerdasan Khadijah dengan begitu apik. Menurut Mbah Moen, setelah bertemu Waraqah, Khadijah berjanji tidak akan menikah lagi, kecuali dengan lelaki yang memiliki ciri-ciri kenabian.

Kecerdasannya menggali pengetahuan dari Waraqah bin Naufal, membuat Khadijah semakin lengkap menangkap sinyal kenabian.

“Pintar-pintarnya orang saat itu, ya Sayyidah Khadijah. Sayyidah Khadijah sudah mengerti tentang wat-Tien, waz-Zaitun, wa Thurisina. Ini sinyal kenabian. Padahal Nabi Muhammad pada saat itu, belum sampai ke Thurisina. Baru sampai daerah itu, ketika dagang dengan Khadijah ke Syam,” demikian Mbah Moen dalam ceramahnya di youtube yang diunggah oleh @Indonesia Bersujud 28 Mei 2019.


Hebatnya lagi, Khadijah sudah mengenal sistem dagang (kerjasama). Padahal Kanjeng Nabi belum dikenalkan oleh Allah swt dengan bentuk kerjasama bisnis. Itulah yang terjadi ketika Muhammad ingin menjalin kerjasama dagang (menjualkan dagangan) Khadijah yang dikenal sebagai konglomerat tangguh dan cerdas tersebut.

“Sampean (Anda, Muhammad red.) mau dagang (menjualkan dagangan) ke Syam? Kalau iya, akadnya apa? Apa pakai akad syirkah, qirad atau murabahah, atau apa? Ini pertanyaan Khadijah yang belum bisa dijawab oleh Kanjeng Nabi Muhammad waktu itu,” jelas Mbah Moen sambil menegaskan, bahwa, saat itu, Allah swt pun menyampaikan kepada Kanjeng Nabi, bahwa, Khadijah lebih tahu dari Anda, ya Muhammad.


Akhirnya, demikian menurut Mbah Moen, disepakati akad syirkah. Suatu bentuk kerja sama antara dua orang atau lebih dalam suatu usaha tertentu, di mana setiap pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan, bahwa, keuntungan dan kerugian akan ditanggung bersama, sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan.


Masih dalam pandangan Mbah Moen, maksud Khadijah dengan akad tersebut, maka, bisnis ini harus dilakukan bersama. Dengan begitu, Khadijah bisa menyertai ke mana Muhammad memasarkan dagangannya.

Tetapi, Khadijah yang dikenal sebagai wanita terhormat, juga mengerti, bahwa, tidak elok, wanita mengikuti laki-laki yang bukan suaminya. Ini kecerdasan Khadijah. Maka, diutuslah Maisarah, lelaki kepercayaan Khadijah.

Tidak cuma di situ, Maisarah juga mendapat mandat khusus dari Khadijah. Selain harus patuh kepada Muhammad, ia diminta mencatat seluruh peristiwa yang dialami mitra bisnisnya tersebut. Lalu apa saja catatan Maisarah?

Pertama, begitu keluar dari Kota Makkah, berhenti karena panas, Muhammad selalu diikuti pohon-pohon rindang, pohon-pohon itu menutupi Muhammad dari sengatan terik mentari. 


Kedua, adalah catatan yang paling utama. Ini terjadi di Kanisah (Gereja) di Basrah di bawah pendeta Nasrullah.


Ternyata, masih dalam keterangan Mbah Moen, di depan gereja itu, onta yang dikendarai Muhammad tidak mau jalan, memilih duduk. Kanjeng Nabi pun heran, mengapa onta ini tidak mau berangkat. Sampai akhirnya pendeta Nasrullah itu, keluar.

Di luar dugaan. Pendeta itu terkejut begitu melihat Muhammad. Pendeta itu melihat di antara mata Kanjeng Nabi, ada tanda merah. Dan itu adalah tanda kenabian.

“Pendeta itu langsung berkata, engkau adalah nabi, dan saya adalah umatmu. Peristiwa ini membuat Maisarah tertegun, lalu mencatatnya dengan baik,” demikian Mbah Moen sambil menangis menceritakan kisah tersebut.

Kabar inilah yang membuat Khadijah, lebih dulu tahu, siapa sosok Muhammad itu. Dia bukan sembarang orang, dia paham Muhammad adalah lelaki yang menyandang status nabi akhir zaman. Lalu bagaimana Khadijah berjibaku mengawal perjuangan dakwah nabi?

Bagaimana pula Khadijah menempatkan diri sebagai istri? Apa yang diinginkan Khadijah dari sosok Kanjeng Nabi Muhammad SAW? Wanita hebat ini, masih layak dibahas edisi berikutnya. Terkhusus untuk Mbah Moen, lahul faatihah. (duta.co)

*Penulis adalah Pembina Raudhatul Banin wal Banat Al-Masykuriyah, Surabaya.


×
Berita Terbaru Update