-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengapa Video Jokowi Marah Baru Diunggah Setelah 10 Hari?

Senin, 29 Juni 2020 | 10.42 WIB Last Updated 2020-06-29T03:44:36Z

Jokowi saat melakukan kunjungan kerja terkait penanggulangan Covid-19 di Jatim.


JAKARTA (DutaJatim.com) - Pidato Presiden Jokowi marah atas kinerja menteri yang tidak optimal menangani krisis akibat wabah Corona viral. Pro-kontra kembali terjadi di media.

Namun sebagian besar bertanya-tanya mengapa video Jokowi marah pada rapat kabinet 18 Juni 2020 itu baru diunggah ke publik pada Minggu 28 Juni 2020 alias 10 hari kemudian? Ada apa? Sejumlah tokoh mengkritisi kebijakan Jokowi.


Pihak Istana melalui Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden RI Bey Triadi Machmudin, menjelaskan alasan video rapat tertutup yang dihadiri para menteri baru dipublikasi secara luas 10 hari kemudian.

Menurut Bey, video Presiden Joko Widodo yang sempat marah terhadap kinerja anak buahnya perlu diketahui masyarakat. Bahkan kepala negara mengancam mencopot jabatan para menteri jika kinerjanya masih lamban di tengah pandemi corona yang serba butuh kecepatan.

"Banyak hal yang baik, dan bagus untuk diketahui publik sehingga kami meminta izin kepada Bapak Presiden untuk mempublikasikannya. Makanya baru di-publish hari ini (kemarin Minggu)," kata Bey, Senin 29 Juni 2020.

Bey menyatakan, awalnya sidang kabinet paripurna bersifat tertutup pada 18 Juni lalu. Video dipublikasikan 10 hari kemudian, pada Minggu 28 Juni 2020.

Pihak Sekretariat Presiden pun, tutur Bey, menyatakan butuh waktu yang panjang meneliti kembali pernyataan tersebut.

"Kami pelajarinya agak lama juga, pelajari berulang-ulang," kata dia.
Seperti diberitakan DutaJatim.com sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta para menterinya bekerja lebih keras lagi untuk masyarakat di masa pandemi Covid-19. Ia menyebut situasi saat sekarang sudah semestinya diatasi dengan langkah-langkah yang luar biasa atau extraordinary. Jokowi bahkan mengultimatum akan reshuffle kabinet, bila itu dibutuhkan.

Dalam rapat itu, Jokowi tampak meninggi bicaranya. Ia meminta jajaran kabinetnya mempunyai satu kesamaan pikiran bahwa saat ini dalam situasi krisis. Karena itu ia menegaskan agar para kabinetnya bekerja keras.

"Sekali lagi, langkah-langkah extraordinary ini betul-betul harus kita lakukan. Dan saya membuka yang namanya entah langkah politik, entah langkah-langkah kepemerintahan. Akan saya buka. Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita. Untuk negara. Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran kemana-mana saya," kata Jokowi dalam video rapat Kabinet tanggal 18 Juni 2020, di Istana Negara, sebagaimana diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden, Minggu, 28 Juni 2020.


Sejumlah tokoh langsung mereaksi video itu. Politisi Fahri Hamzah misalnya mempertanyakan kenapa jarak marah dan terdengar marah Jokowi soal reshuffle bisa sampai 10 hari.

"Berita Hari ini: Presiden marah 18 Juni 2020. Terdengar marah 28 juni 2020. Jarak Marah-Terdengar 10 hari. Apa yang terjadi?," tulis Fahri di akun Twitternya, @Fahrihamzah yang dikutip pada Senin, 29 Juni 2020.

Fahri dalam cuitan berikutnya pun bertanya apakah kemarahan Jokowi mewakili perasaan netizen.

"Apakah kemarahan presiden mewakili perasaanmu dinda?" cuit Fahri

Aktivis HAM Natalius Pigai juga menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo yang kepikiran mau me-reshuffle jajaran menterinya di Kabinet Indonesia Maju. Ia menilai justru persoalan saat ini karena kepemimpinan Jokowi selaku kepala negara.

"Terserah dia mau ganti menteri atau tidak. Itu urusannya. Sumber masalah saat ini justru soal ketidakmampuan memimpin Indonesia," kata Pigai Senin, 29 Juni 2020.

Pigai mengkritisi gaya kepemimpinan Jokowi selama menjabat RI-1. Menurutnya, eks Gubernur DKI itu sering berbohong.

"Saya justru tidak percaya Jokowi dengan omongannya karena sering berbohong dan selalu berbohong," ujarnya.(vvn/wis)



×
Berita Terbaru Update