-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Obat Oxford Murah, Obat Unair Terus Dikembangkan, Pilih yang Mana?

Kamis, 18 Juni 2020 | 12.45 WIB Last Updated 2020-06-18T05:45:57Z


SURABAYA (DutaJatim.com) - Obat Oxford Murah, Obat Unair Terus Dikembangkan, Pilih yang Mana? Riset obat virus Corona terus dilakukan di seluruh dunia untuk mengantisipasi pandemi Covid-19. Paling mutakhir para peneliti dari Universitas Oxford menemukan obat yang diklaim manjur untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Namanya dexamethasone. 


Bahkan Dexamethasone disebut obat pertama yang terbukti membantu menyelamatkan pasien Corona dengan sakit parah. Obat ini juga telah memiliki izin dari organisasi kesehatan dunia WHO. Obat ini murah. Untuk menyelamatkan satu nyawa hanya butuh Rp 623.123.

"Ini pengobatan pertama yang ditunjukkan untuk mengurangi angka kematian pada pasien dengan virus Corona COVID-19 yang membutuhkan dukungan oksigen atau ventilator," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Kabar gembira juga datang dari dalam negeri. Para peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tidak kalah keras berusaha menemukan obat anti-Corona. Para periset Unair menemukan lima kombinasi obat yang dinilai efektif melawan virus Corona. Riset ini mendapat dukungan Pemerintah Pusat dan Pemprov Jatim. Namun demikian, sejumlah pakar menyebut masih butuh penelitian lanjutan terhadap obat dari Unair tersebut

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah mendukung sepenuhnya tim peneliti dari Unair Surabaya dalam pengembangan kombinasi lima obat untuk Covid-19.  "Saya sudah berdiskusi dengan tim (peneliti Unair) mengenai langkah-langkah yang sudah dilakukan, dan kira-kira nanti apa yang diperlukan terutama yang perlu dukungan dari pemerintah, terutama berkaitan dengan proses," kata Muhadjir melalui siaran pers yang diterima wartawan di Jakarta Rabu (17/6/2020).

Pengembangan kombinasi obat ini juga didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Intelijen Negara (BIN). Muhadjir pun memuji langkah para peneliti Unair ini dan menyebutnya sebagai "ide yang sangat brilian".

"Sehingga bisa memberikan kontribusi nyata dalam upaya kita untuk menangani Covid-19 terutama dalam mengurangi tingkat fatalitas yang di Indonesia ini masih tergolong tinggi," kata dia.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengaku sangat senang dengan hasil tim peneliti Unair. Dia akan mendukung tim peneliti Unair yang tengah berkolaborasi dengan Gugus Tugas Covid Indonesia dan Badan Intelijen Negara (BIN) menemukan obat Covid-19.

"Intinya, Pemprov Jatim akan mendukung Unair untuk mengembangkan penelitian obat-obat temuannya. Karena ini merupakah salah satu upaya untuk mempercepat penanganan Covid-19 di Jatim bahkan di Indonesia," ungkap Gubernur Khofifah saat ditemui di Gedung Negara Grahadi Surabaya. 

Lewat penelitian Unair, Gubernur berharap akan bisa meningkatkan rasio angka kesembuhan serta dalam waktu yang sama bisa menurunkan angka kematian akibat Covid-19 di Jawa Timur. Berdasarkan keterangan dari Rektor Unair, Prof Moh Nasih, terdapat lima kombinasi obat yang dinyatakan berhasil melalui uji penelitian. Kombinasi obat pertama yaitu Lopinavir, ritonavir dan azitromisin. Kombinasi kedua Lopinavir, ritonavir dan doksisiklin. Ketiga Lopinavir, ritonavir dan klaritromisin. Keempat Hidroksiklorokuin dan azitromisin. Dan kelima Hidroksiklorokuin dan doksisiklin.

Salah seorang tim peneliti Unair, dr Purwati SpPd K-PTI FINASIM, menyatakan bahwa pihaknya telah meneliti 14 regimen obat. Dari 14 regimen itu didapatkan lima kombinasi regimen obat yang mempunyai potensi dan efektivitas yang cukup bagus dan dirasa mampu menghambat perkembangbiakan virus hingga membuat virus SARS-CoV-2 tidak terdeteksi lagi. "Dengan menurunnya jumlah virus bahkan sampai tidak terdeteksi dengan regimen obat ini maka bisa memutus mata rantai penularan," katanya.

Terkait peredaran obat itu sendiri, dirinya menyebut jika obat-obat yang disebutkan sudah beredar di pasaran. Itu artinya obat-obat tersebut sudah mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman dikonsumsi. Namun penelitian lebih lanjut harus terus di dukung untuk menghitung efektivitas dan efisiensinya pada manusia.


Reaksi Pakar

Sementara itu, Peneliti Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Erlina Burhan menanggapi temuan Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, mengenai lima kombinasi obat-obatan yang dianggap efektif untuk mengobati pasien Covid-19. Menurutnya, obat itu baru diteliti pada sel hewan, sehingga perlu dilakukan uji klinis lagi. “Perlu dilakukan uji klinis terhadap manusia, itu kan belum, tapi sebetulnya obat-obat itu memang kita pakai juga,” ujar Erlina melalui sambungan telepon, Rabu pagi, 17 Juni 2020.

Menurut Erlina, yang juga Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, uji klinis ada tahapannya, bukan hanya diuji pada hewan saja. “Ya dicobakan ke manusia, diteliti apakah efektif atau tidak, itu kan ada parameternya, ada fase satu, fase dua dan fase tiga,” kata dia.

Di seluruh dunia, Erlina berujar, Covid-19 sampai dengan saat ini belum ada obat yang spesifik, seluruh peneliti masih terus mencari. Sementara saat ini, sejak bulan Maret, obat yang biasa dipakai adalah obat tersebut.  “Tapi yang dari Unair kan meneliti di hewan, benar tidak obat itu bisa menyembuhkan Covid-19. Kalau secara pengalaman sih buktinya banyak pasien kita yang sembuh dengan obat-obat itu, bahkan sebelum diteliti di hewan,” tutur Erlina.

Terpisah, Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono juga meragukan hasil penelitian yang baru diujicobakan pada tingkat sel hewan dan dengan teknik kombinasi obat-obatan yang sudah tersedia yang disebutnya "seperti bikin puyer".  "Bagaimana mungkin hasil percobaan di tingkat sel hewan, lalu diklaim dapat dipakai pada manusia?" cetus dia, dalam akun Instagram pribadinya.

"Rakyat Indonesia sekarang lebih cerdas bahwa percobaan di tingkat sel itu juga masih diragukan kebenaran dan metodologinya masih dipertanyakan, sebelum masuk ke percobaan pada manusia," imbuh Pandu.

Dia pun meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta organisasi profesi kedokteran untuk mengkritik metode ini.  "Kewarasan Ilmuwan Indonesia sedang diuji, organisasi profesi kedokteran dan BPOM harus berani memperingatkan ketidakwajaran dalam klaim yang tidak sesuai dengan kaidah keilmuan yang berlaku," tandasnya.

Obat Murah dari Oxford

Sementara di luar negeri, peneliti dari Amerika Serikat, China, Italia, dan Inggris meneliti obat dan antivirus Corona. Paling mutakhir para peneliti dari Universitas Oxford menemukan kemanjuran dari obat dexamethasone. Dexamethasone adalah adalah obat pertama yang terbukti membantu menyelamatkan pasien Corona dengan sakit parah.

Dikutip dari New York Times, para peneliti memperkirakan seandainya dokter menggunakan obat steroid dexamethasone sejak awal pandemi Corona ada sejumlah kematian yang bisa dicegah. Kemungkinan ada 5.000 kematian dapat dicegah di Inggris.

Dalam kasus yang parah, virus Corona secara langsung menyerang sel-sel yang melapisi saluran udara dan paru-paru pasien. Namun, infeksi tersebut juga dapat memicu reaksi kekebalan yang luar biasa yang sama berbahayanya. Tiga perempat pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit harus menerima bantuan oksigen.

Obat ini tampaknya mengurangi peradangan yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh. Dalam penelitian tersebut, dexamethasone mengurangi sepertiga kematian pasien yang menggunakan ventilator, dan seperlima kematian pasien dengan bantuan oksigen.

"Dengan asumsi bahwa ketika melalui peer review, ia berdiri, dan ini adalah peneliti yang sudah mapan, ini adalah terobosan besar, terobosan besar," kata Dr Sam Parnia, seorang pulmonolog dan profesor kedokteran di Grossman School of Medicine di Universitas New York.

"Aku tidak bisa menekankan betapa pentingnya hal ini," jelas Dr Sam.

"Dexamethasone adalah obat pertama yang menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup pada pasien COVID-19," jelas salah satu kepala peneliti studi, Peter Horby, seorang profesor penyakit menular di Universitas Oxford, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Horby menambahkan bahwa dexamethasone kini harus menjadi standar perawatan pasien. Karena selain murah, obat ini tersedia secara luas dan dapat segera digunakan.  

"Ada manfaat yang nyata dari penggunaan obat ini. Dexamethasone diberikan selama 10 hari kepada pasien dan hanya membutuhkan biaya 5 poundsterling. Itu artinya, hanya butuh 35 poundsterling (Rp 623.123) untuk menyelamatkan satu nyawa. Obat ini juga sudah tersedia secara massal," ujar Martin Landray, yang juga memimpin penelitian, dikutip dari BBC. (det/cnni/tmp)


×
Berita Terbaru Update